Menteri Agama Nasaruddin Umar Tekankan Toleransi, Pendidikan Cinta, dan Potensi Kepemimpinan PBNU pada Perayaan HUT Keuskupan Agung Jakarta
Suara Pecari | Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menyampaikan beberapa pandangan penting saat menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun ke-219 Keuskupan Agung Jakarta di Katedral Jakarta, termasuk penekanan pada toleransi, pendidikan berbasis kasih, dan aspirasi kepemimpinan dalam PBNU.
Dalam sambutannya, Nasaruddin menegaskan bahwa tidak semua hadiah dapat dikategorikan sebagai gratifikasi, mengutip contoh Nabi Muhammad yang menerima seekor kijang dengan rasa hormat dan tanpa mengharapkan imbalan, menekankan nilai tulus dalam interaksi sosial.
Ia menambahkan bahwa sikap menghargai pemberian secara ikhlas sejalan dengan semangat kurikulum cinta dan ekoteologi yang ia harapkan dapat diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan nasional untuk menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan makhluk hidup.
Nasaruddin juga mengungkapkan rencana lama yang belum terealisasi, yakni menghilangkan pagar pemisah antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral, dengan tujuan menciptakan satu halaman yang melambangkan persatuan umat beragama di jantung ibu kota.
Karena kendala tata ruang dan fungsi jalan protokol, rencana tersebut tidak dapat dilaksanakan; sebagai gantinya, Menteri Agama menyarankan pembangunan terowongan silaturahmi di bawah tanah yang dapat menjadi simbol baru toleransi dan kolaborasi lintas iman.
Ide terowongan tersebut mendapat sorotan dalam acara Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Agama, di mana Nasaruddin menyatakan bahwa keberadaan terowongan menghubungkan Istiqlal dan Katedral telah menjadi contoh toleransi yang dikenal dunia.
Menteri Agama mencatat bahwa tingkat kerukunan antarumat beragama di Indonesia kini mencapai 87 persen, angka tertinggi sejak kemerdekaan, dan menekankan pentingnya mempertahankan perdamaian tersebut melalui aksi nyata dan kebijakan inklusif.
Ia menambahkan bahwa Jakarta baru-baru ini berada di peringkat kedua kota teraman di Asia Tenggara, dan berharap kota-kota lain di Indonesia dapat meneladani pencapaian tersebut dalam menjaga keamanan dan keharmonisan sosial.
Pada kesempatan yang sama, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menilai Nasaruddin Umar memiliki potensi untuk mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU berikutnya, mengingat pengalaman beliau sebagai Katib Aam PBNU.
Gus Ipul menegaskan bahwa banyak kader PBNU yang memiliki kualifikasi serupa, namun menyoroti rekam jejak Nasaruddin dalam mengelola hubungan antaragama sebagai nilai tambah bagi kepemimpinan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.
Pernyataan tersebut memperkuat citra Nasaruddin sebagai figur yang tidak hanya mengawasi kebijakan keagamaan, tetapi juga aktif berperan dalam dialog lintas kepercayaan, pendidikan, dan pembangunan sosial, yang dapat menjadi aset bagi PBNU.
Dengan menutup acara, Nasaruddin mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memelihara toleransi, memperkuat kurikulum cinta, dan mengembangkan proyek-proyek simbolik seperti terowongan, guna menjadikan Indonesia contoh negara paling majemuk dan toleran di dunia.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







