Kisah Jemaah Haji Berusia 77 Tahun Sukses Tuntaskan Ibadah: Perjuangan dan Keteguhan Hati

Kisah Jemaah Haji Berusia 77 Tahun Sukses Tuntaskan Ibadah: Perjuangan dan Keteguhan Hati

Suara Pecari | Makkah – Di tengah hiruk-pikuk jutaan jemaah yang memadati tanah suci, kisah seorang kakek berusia 77 tahun asal Purwodadi, Jawa Tengah, menjadi sorotan. Juweni Suberi Porejo, seorang lansia yang penuh semangat, berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji tahun ini meskipun harus berjuang melawan keterbatasan fisik. Cerita perjuangannya tidak hanya mengharukan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang tentang arti keteguhan hati dan pengorbanan.

Perjalanan Panjang Menuju Puncak Ibadah

Juweni, yang tergabung dalam Kloter 31 Embarkasi Solo, memulai perjalanan hajinya dengan penuh keyakinan. Namun, sebagai seorang lansia, ia sadar bahwa tantangan besar menanti. Sang putra pertama, Misbachul Munir Djuweni, setia mendampingi sang ayah sejak keberangkatan hingga kepulangan. Misbachul menceritakan bahwa ayahnya memiliki tekad yang luar biasa untuk menjalani setiap proses ibadah secara mandiri.

“Bapak memang lansia, tetapi semangatnya luar biasa. Ia selalu ingin melakukan semuanya sendiri, dari thawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah,” ujar Misbachul saat ditemui di Makkah pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Kronologi Peristiwa: Dari Kemandirian ke Kursi Roda

Berikut adalah kronologi perjuangan Juweni selama menjalani ibadah haji:

TanggalPeristiwa
Awal Juni 2026Juweni tiba di Makkah dan memulai ibadah dengan penuh semangat
Menjelang Puncak HajiKondisi fisik mulai menurun, tim medis merekomendasikan kursi roda
Puncak Haji (Armuzna)Juweni menggunakan kursi roda untuk menjalani wukuf, mabit, dan lempar jumrah
Setelah Puncak HajiJuweni mengalami sesak napas akut dan dilarikan ke RS King Faisal
13 Juni 2026Kondisi membaik, dokter mengizinkan pulang ke Indonesia
Setelah 13 JuniJuweni dan keluarga bersiap kembali ke Tanah Air

Keputusan Menggunakan Kursi Roda: Antara Kemandirian dan Keselamatan

Meskipun Juweni ingin mandiri, pihak keluarga akhirnya memutuskan untuk menggunakan fasilitas kursi roda setelah berkonsultasi dengan tim medis. “Kondisi fisik akhirnya harus dibantu menggunakan kursi roda,” kata Misbachul. Keputusan ini tidak mudah, mengingat Juweni adalah sosok yang keras kepala dan enggan merepotkan orang lain. Namun, demi keselamatan sang ayah, Misbachul dan keluarga bersikeras.

Penggunaan kursi roda ternyata menjadi solusi tepat. Juweni tetap dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan nyaman, meskipun harus dibantu oleh putranya dan petugas haji. “Bapak tetap khusyuk berdoa meski di kursi roda. Semangatnya tidak pernah surut,” tambah Misbachul.

Perjuangan di Rumah Sakit: Dampingi Ayah Hingga Sembuh

Setelah menyelesaikan puncak haji, fisik Juweni mencapai batasnya. Ia mengalami sesak napas akut dan segera dilarikan ke Rumah Sakit King Faisal di Makkah. Selama dirawat, Misbachul tidak pernah meninggalkan ruang rawat ayahnya. “Bapak sering memanggil saya, sehingga saya harus terus mendampingi,” ujarnya dengan nada penuh kasih.

Misbachul mengaku tidak tega membiarkan sang ayah berjuang sendirian di rumah sakit. Ia rela begadang dan mengurus segala kebutuhan ayahnya. Berkat perawatan intensif dan doa dari keluarga, kondisi Juweni berangsur membaik. Tim dokter akhirnya memberikan izin bagi Juweni untuk pulang ke Indonesia.

Dampak dan Implikasi: Inspirasi bagi Jemaah Lansia Lainnya

Kisah Juweni memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya para lansia yang berniat menunaikan ibadah haji. Beberapa implikasi penting dari perjuangan Juweni antara lain:

  • Pentingnya persiapan fisik dan mental: Jemaah lansia perlu mempersiapkan kondisi tubuh jauh-jauh hari sebelum berangkat.
  • Peran keluarga sebagai pendamping: Dukungan keluarga sangat krusial, terutama saat menghadapi kondisi darurat.
  • Fasilitas kursi roda sebagai solusi: Pemerintah dan penyelenggara haji perlu menyediakan aksesibilitas yang memadai bagi jemaah lansia.
  • Keteguhan hati mengatasi keterbatasan: Semangat Juweni membuktikan bahwa usia bukanlah halangan untuk beribadah.

Kisah ini juga menjadi pengingat bagi para calon jemaah haji untuk selalu menjaga kesehatan dan mematuhi saran medis. Kementerian Agama pun diharapkan dapat meningkatkan layanan bagi jemaah lansia, seperti penyediaan kursi roda tambahan dan petugas kesehatan yang siaga.

Momen Haru di Bandara Jeddah

Setelah dinyatakan sehat, Juweni dan putranya bersiap kembali ke Tanah Air. Di Bandara Jeddah, Juweni tampak ceria meskipun masih dalam masa pemulihan. Senyumnya merekah saat melihat pesawat yang akan membawanya pulang. “Alhamdulillah, semua sudah selesai. Saya bersyukur bisa menyelesaikan ibadah haji tahun ini,” ucapnya lirih.

Keberhasilan Juweni menuntaskan ibadah haji di usia senja menjadi bukti bahwa tekad yang kuat dapat mengalahkan segala rintangan. Ia pulang dengan membawa oleh-oleh spiritual yang tak ternilai: gelar haji yang mabrur dan kenangan manis tentang perjuangan di tanah suci.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kisah Juweni mengingatkan kita bahwa nilai-nilai kesabaran, keteguhan, dan kasih sayang keluarga adalah fondasi utama dalam menjalani hidup. Semoga perjuangan beliau menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berbuat baik, tanpa memandang usia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan