Gertek 2026: Langkah Petani Kediri Menuju Swasembada Pangan Berbasis Teknologi
Suara Pecari, Kediri – Pemerintah Kabupaten Kediri kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan kemandirian pangan melalui Gelar Inovasi dan Teknologi Pertanian 2026 (Gertek 2026). Acara yang berlangsung di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, pada 6-12 Juli 2026 ini menjadi ajang strategis bagi petani untuk mengakses berbagai kebutuhan pertanian modern secara terpadu. Tidak sekadar pameran, Gertek 2026 menghadirkan lebih dari 77 perusahaan dari sektor benih, pupuk, pestisida, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga perbankan, yang semuanya dikumpulkan dalam satu lokasi untuk memudahkan petani mendapatkan informasi secara menyeluruh.
Kronologi dan Skala Gertek 2026
Gertek 2026 dibuka secara resmi pada Senin, 6 Juli 2026, oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, Mohamad Solikin, mewakili Bupati Hanindhito Himawan Pramana. Kegiatan ini berlangsung selama tujuh hari, melibatkan sekitar 14 ribu petani dari berbagai wilayah di Kabupaten Kediri. Dari jumlah tersebut, 6 ribu petani mengikuti temu tani yang dibagi ke dalam 150 kelas pembelajaran. Setiap kelas membahas topik spesifik, mulai dari penggunaan teknologi pertanian, manajemen usaha tani, hingga strategi peningkatan produktivitas. Tabel berikut merangkum data partisipasi Gertek 2026:
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Jumlah Perusahaan Peserta | 77+ perusahaan (benih, pupuk, alsintan, perbankan) |
| Total Petani Terlibat | 14.000 petani |
| Peserta Temu Tani | 6.000 petani |
| Kelas Pembelajaran | 150 kelas |
| Lokasi | Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan, Kediri |
| Durasi | 6-12 Juli 2026 (7 hari) |
Inovasi Teknologi yang Dipamerkan
Salah satu daya tarik utama Gertek 2026 adalah lahan demonstrasi (demplot) yang memungkinkan petani melihat langsung penerapan teknologi terbaru. Di area demplot, petani dapat menyaksikan penggunaan drone penyemprot pupuk dan pestisida, mesin tanam modern, serta berbagai varietas baru padi dan jagung. Tidak hanya melihat, petani juga diberi kesempatan untuk mencoba teknologi tersebut secara langsung. Hal ini menjadi pengalaman berharga, terutama bagi petani tradisional yang selama ini mengandalkan cara manual.
Bupati Kediri melalui Sekda Mohamad Solikin menegaskan, kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut bertujuan mempermudah petani dalam menentukan pilihan teknologi dan benih yang sesuai dengan kondisi lahan di Kediri. “Dengan hadirnya berbagai perusahaan, petani tidak perlu lagi mencari informasi ke berbagai tempat. Mereka bisa langsung memilih benih unggul yang cocok dengan karakter tanah di Kediri,” ujar Solikin.
Dampak dan Implikasi bagi Petani dan Sektor Pertanian
Gertek 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang bagi petani dan sektor pertanian di Kediri. Pertama, petani mendapatkan akses langsung ke teknologi pertanian modern yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Penggunaan drone dan mesin tanam, misalnya, dapat mengurangi waktu dan tenaga kerja, sehingga petani bisa mengelola lahan yang lebih luas.
Kedua, kehadiran sektor perbankan dalam acara ini memberikan solusi atas kendala permodalan yang sering dihadapi petani. Dengan adanya informasi pembiayaan, petani tidak lagi kesulitan modal setelah menemukan teknologi atau benih yang sesuai. Hal ini sejalan dengan program pemerintah daerah yang terus menyalurkan bantuan benih padi dan jagung serta distribusi ratusan alat dan mesin pertanian sepanjang 2025-2026.
Ketiga, Gertek 2026 menjadi katalis bagi regenerasi petani. Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Sukadi, menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda. “Dengan hadirnya teknologi, aktivitas bertani kini menjadi lebih cepat, efisien, dan tidak terlalu menguras tenaga, sehingga diharapkan mampu menarik minat anak muda untuk kembali ke sektor pertanian,” katanya. Hal ini penting mengingat rata-rata usia petani di Indonesia semakin tua, dan regenerasi menjadi tantangan serius.
Direktur Perbenihan Tanaman Hortikultura Kementerian Pertanian, Tommy Nugraha, yang turut hadir, mengapresiasi potensi besar Kabupaten Kediri. Menurutnya, kondisi lahan di Kediri sangat potensial, dan tantangannya adalah bagaimana teknologi yang ada mampu menjawab kebutuhan di lapangan. “Kabupaten Kediri memiliki potensi besar di sektor pertanian yang dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan teknologi,” ujar Tommy.
Perspektif Petani dan Harapan ke Depan
Bagi petani lokal seperti Sutikno asal Tarokan, Gertek 2026 membuka wawasan baru. “Biasanya kami masih tanam manual. Sekarang ada mesin dan drone. Kalau anak muda melihat ini, saya yakin mereka akan tertarik kembali ke sawah,” kata Sutikno. Sentimen positif juga dirasakan petani lain yang mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru, terutama dalam hal efisiensi penggunaan pupuk dan pestisida.
Pemerintah Kabupaten Kediri berharap inovasi yang diperkenalkan dalam Gertek 2026 tidak berhenti sebatas pameran, tetapi benar-benar diterapkan oleh petani di lapangan. Dengan demikian, produktivitas pertanian dapat meningkat, stabilitas harga pangan tetap terjaga, dan kesejahteraan petani semakin baik. Tema “Pertanian Modern untuk Swasembada Pangan Berkelanjutan” menjadi komitmen jangka panjang yang diusung.
Melalui Gertek 2026, Kabupaten Kediri membuktikan bahwa pertanian modern bukanlah sekadar wacana. Dengan kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan petani, transformasi menuju sistem pertanian yang lebih maju, efisien, dan berdaya saing sedang berlangsung. Semangat gotong-royong yang menjadi ciri khas masyarakat Kediri tetap terjaga, namun kini diperkuat dengan sentuhan teknologi yang tepat guna. Langkah ini menjadi fondasi kokoh menuju swasembada pangan berbasis teknologi yang berkelanjutan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










