Saat SpaceX Rugi Hampir Rp10 Triliun, Elon Musk Ungkap Rencana Pabrik Satelit di Bulan
Suara Pecari – SpaceX, perusahaan antariksa yang dipimpin Elon Musk, melaporkan kerugian hampir Rp10 triliun pada kuartal pertama 2026. Meski menghadapi tekanan finansial, Elon Musk mengumumkan rencana ambisius untuk membangun pabrik satelit di Bulan yang sebagian besar akan dioperasikan oleh robot.
Kerugian tersebut berasal dari sektor peluncuran antariksa yang tercatat mencapai USD 542 juta (sekitar Rp9,68 triliun) dan operasi kecerdasan buatan (AI) yang juga mengalami kerugian signifikan. Namun, Musk tetap optimistis dan melihat peluang besar dalam memanfaatkan ruang angkasa sebagai basis produksi sekaligus meningkatkan kapasitas komputasi AI.
Rencana Pabrik Satelit di Bulan
Dalam pertemuan dengan investor pada 4 Agustus 2026, Musk mengungkapkan visi membangun fasilitas manufaktur di Bulan yang dapat mengintegrasikan pembangkit energi surya dan sistem energi berbasis radiasi. Fasilitas ini diharapkan dapat memperbesar kapasitas kecerdasan yang dikirim ke luar angkasa hingga ribuan kali lipat ekonomi Bumi.
Patrick Suermann, profesor ilmu konstruksi dari Texas A&M University, menilai gravitasi rendah di Bulan dapat mengurangi kebutuhan bahan bakar peluncuran satelit, yang menjadi salah satu biaya terbesar dalam peluncuran dari Bumi. Produksi langsung di Bulan berpotensi memangkas biaya pengiriman satelit ke orbit cislunar, orbit rendah Bumi, dan bahkan Mars.
Kinerja Keuangan dan Pertumbuhan SpaceX
Meski mencatat kerugian, SpaceX menunjukkan lonjakan pendapatan signifikan sebesar 92% menjadi USD 7,8 miliar pada kuartal kedua 2026. Pendapatan ini didorong oleh pertumbuhan layanan internet satelit Starlink dan layanan daya komputasi untuk kecerdasan buatan yang bekerja sama dengan perusahaan seperti Google dan Anthropic.
Divisi Starlink menjadi satu-satunya unit bisnis yang menghasilkan laba dengan pendapatan mencapai USD 1,6 miliar pada kuartal kedua. Elon Musk memperkirakan bisnis ini akan terus tumbuh secara eksponensial dan suatu saat dapat menjalankan sebagian besar layanan internet dunia.
Peningkatan pengeluaran yang signifikan, terutama untuk pengembangan AI dan infrastruktur manufaktur luar angkasa, menyebabkan kerugian bersih sekitar USD 2 miliar selama enam bulan pertama 2026. Namun, Musk yakin investasi tersebut akan membuahkan hasil jangka panjang.
Starship dan Masa Depan Produksi Luar Angkasa
Starship, roket raksasa SpaceX, menjadi kunci dalam rencana ekspansi perusahaan. Dengan kapasitas angkut yang besar, Starship memungkinkan pengiriman satelit dan peralatan dalam jumlah besar untuk membangun infrastruktur di orbit dan di Bulan.
Musk menekankan signifikansi Starship bagi masa depan peradaban dan memperkirakan roket ini mampu membawa lebih dari satu juta ton barang ke orbit setiap tahunnya, bahkan mungkin mencapai 10 juta ton.
Selain pabrik di Bulan, SpaceX juga tengah mengembangkan pusat data AI di Bumi, menggunakan keahlian serupa dalam teknologi roket untuk menciptakan pusat data yang efisien dan andal.
Dengan berbagai inisiatif ini, SpaceX menempatkan diri tidak hanya sebagai perusahaan peluncuran roket, tetapi juga sebagai pionir manufaktur dan teknologi kecerdasan buatan di luar angkasa, meskipun menghadapi tantangan finansial yang besar saat ini.
Masa depan SpaceX akan sangat bergantung pada keberhasilan rencana manufaktur luar angkasa dan pengembangan teknologi AI yang saling mendukung untuk membuka peluang baru dalam eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.







