Nenek Sofiah, Guru Mengaji, Realisasikan Naik Haji lewat Tabungan di Bawah Kasur
Suara Pecari | Nenek Sofiah, seorang guru mengaji berusia 75 tahun dari Kediri, berhasil menunaikan naik haji setelah lima dekade menabung secara disiplin.
Ia menyimpan uang di dalam kotak kayu yang diletakkan di bawah kasur setiap malam, meski pendapatannya hanya dari mengajar mengaji dan menjual bubur.
Tabungan itu dimulai pada tahun 1973 ketika ia masih berusia 25 tahun, dan terus berlanjut meski harus mengatasi biaya hidup yang meningkat.
Setiap kali menerima sumbangan murid atau hasil penjualan, Sofiah menambahkan sebagian kecil ke dalam kotak, menolak menghabiskan semua untuk keperluan harian.
Menurut Sofiah, kebiasaan menyimpan di tempat tersembunyi membantu menghindari godaan membeli barang tidak penting.
“Saya selalu menaruh uang di dalam kotak kayu di bawah kasur, karena itu satu-satunya tempat yang saya rasa aman,” ujarnya dalam wawancara.
Selama 50 tahun, total tabungan mencapai sekitar Rp 80 juta, cukup untuk menutup biaya paket haji plus perlengkapan ibadah.
Biaya haji pada tahun 2023 diperkirakan sekitar Rp 65 juta, menjadikan tabungan Sofiah cukup untuk menutupi seluruh biaya dan sisa untuk keperluan keluarga.
Kisahnya menarik perhatian media lokal, yang menyoroti ketekunan dan keimanan seorang perempuan tua dalam mewujudkan impian spiritual.
Para tetangga mengaku terinspirasi oleh disiplin keuangan Sofiah, terutama di tengah meningkatnya konsumsi impulsif.
Beberapa warga setempat mulai meniru metode menabung di bawah kasur, meski ada saran untuk menggunakan rekening tabungan formal.
Para ahli keuangan menegaskan pentingnya konsistensi menabung, meski cara tradisional masih relevan bagi sebagian kalangan.
Dalam perspektif agama, menabung untuk haji dianggap sebagai amal jariyah yang dapat memberi pahala berkelanjutan.
Ulama setempat menambahkan bahwa niat tulus dan usaha keras merupakan syarat sahnya ibadah haji.
Sofiah mengakui bahwa proses menabung tidak selalu mulus; ia pernah harus menunda kebutuhan pribadi demi menambah tabungan.
“Setiap kali ada godaan, saya ingat tujuan akhir, yaitu menunaikan haji bersama keluarga,” katanya.
Keluarga Sofiah turut membantu dengan mengelola logistik perjalanan, termasuk pengurusan paspor dan vaksinasi.
Perjalanan haji Sofiah dimulai pada bulan September 2023, mengunjungi Masjidil Haram, Mekah, dan menunaikan ritual-ritual utama.
Setelah kembali, ia berbagi pengalaman dengan komunitas mengaji, menekankan pentingnya persiapan mental dan spiritual.
“Haji bukan sekadar perjalanan, melainkan transformasi diri yang memerlukan persiapan sejak lama,” ujar Sofiah.
Kisah Nenek Sofiah menegaskan bahwa ketekunan dalam menabung, meski dengan cara sederhana, dapat mengubah mimpi menjadi realitas.
Ia berharap generasi muda belajar mengelola keuangan dengan bijak dan tetap berpegang pada nilai keimanan.
Dengan keberhasilan ini, Sofiah menjadi contoh nyata bahwa impian haji dapat dicapai tanpa harus bergantung pada bantuan luar, asalkan ada komitmen kuat.
Artikel ini mengingatkan bahwa kesederhanaan, disiplin, dan kepercayaan pada Allah tetap menjadi kunci utama dalam meraih tujuan spiritual.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







