Laba Indofood (INDF) Turun, ICBP Naik: Rekomendasi Saham dan Analisis Terbaru
Suara Pecari | PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatat penurunan laba bersih pada kuartal terakhir dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara anak perusahaan ICBP Food & Beverage Tbk (ICBP) melaporkan kenaikan laba yang signifikan.
Penurunan profit INDF dipicu oleh penurunan penjualan produk mie instan dan penurunan harga jual beras, sedangkan ICBP berhasil meningkatkan margin melalui ekspansi produk minuman siap saji.
Menurut data yang dirilis oleh perusahaan, laba bersih INDF turun sekitar 12% menjadi Rp1,85 triliun, sementara ICBP mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 18% menjadi Rp850 miliar.
Revenue INDF mengalami penurunan 4,5% menjadi Rp45 triliun, namun revenue ICBP meningkat 9,2% menjadi Rp13 triliun dalam periode yang sama.
Analis pasar modal menilai perbedaan kinerja tersebut mencerminkan dinamika permintaan konsumen di segmen makanan pokok versus produk premium.
Rivalita internal grup Indofood diperkirakan akan memengaruhi strategi alokasi modal dan dividen pada tahun mendatang.
Bank Rakyat Indonesia (BRI) Securities memberi rekomendasi “Buy” untuk saham ICBP dengan target harga Rp12.500 per lembar, mengingat prospek pertumbuhan pasar minuman non-alkohol.
Sementara itu, Mandiri Sekuritas menurunkan rating INDF menjadi “Hold” dan menyesuaikan target harga menjadi Rp8.200, mencerminkan tekanan margin di lini mie dan bumbu.
Manajer investasi Asia Pacific menyoroti bahwa kebijakan pemerintah terkait harga beras dapat memperburuk profitabilitas INDF bila tidak ada penyesuaian harga jual.
Di sisi lain, ICBP diperkirakan akan memanfaatkan tren konsumsi sehat dengan meluncurkan produk berbasis bahan alami dalam tiga kuartal ke depan.
Direktur Keuangan INDF, Budi Santoso, menyatakan bahwa perusahaan sedang mengevaluasi strategi harga dan efisiensi operasional untuk mengembalikan profitabilitas.
Sementara CEO ICBP, Rina Wulandari, menegaskan komitmen untuk meningkatkan pangsa pasar di segmen minuman fungsional melalui inovasi produk.
Data historis menunjukkan bahwa INDF telah mencatat rata-rata pertumbuhan laba tahunan sebesar 5% selama lima tahun terakhir, namun tahun ini mengalami kontraksi pertama sejak 2019.
ICBP, yang bergabung dengan grup Indofood pada 2018, telah mencatat pertumbuhan laba tahunan rata-rata 13% selama tiga tahun terakhir.
Investor ritel diharapkan akan menyesuaikan portofolio mereka berdasarkan rekomendasi terbaru, dengan aliran dana lebih condong ke ICBP.
Namun, lembaga pemeringkat risiko mengingatkan bahwa volatilitas harga komoditas tetap menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi profitabilitas grup secara keseluruhan.
Para analis juga menyoroti bahwa konsolidasi rantai pasok di antara unit usaha Indofood dapat meningkatkan sinergi biaya jika diimplementasikan dengan tepat.
Perusahaan mengumumkan rencana investasi sebesar Rp3 triliun dalam pengembangan pabrik baru untuk produk olahan berbasis gandum, yang dijadwalkan selesai pada akhir 2027.
Penutup, pergerakan laba yang berlawanan arah antara INDF dan ICBP memberikan sinyal diversifikasi kinerja dalam grup Indofood, sementara rekomendasi saham menyesuaikan ekspektasi pasar.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







