Saham GOTO Menguat Usai Balik Rugi Jadi Laba, Potensi Naik ke Level Baru
Suara Pecari | PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatatkan laba bersih pertama sebesar Rp171 miliar pada kuartal I 2026, berbalik dari kerugian Rp367 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan laba ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan yang naik 26 persen menjadi Rp5,34 triliun dibandingkan Rp4,23 triliun pada kuartal I 2025.
Direktur Utama Hans Patuwo menilai pencapaian tersebut sebagai titik penting dalam sejarah perusahaan, menekankan kerja keras tim dalam meningkatkan pendapatan dan mengendalikan biaya.
“Keberhasilan ini mencerminkan disiplin biaya dan nilai nyata bagi pelanggan, mitra driver, serta mitra usaha kami,” ujar Patuwo dalam konferensi pers di Jakarta.
EBITDA yang disesuaikan pula melaju tajam 131 persen secara tahunan, mencapai Rp907 miliar, mendekati target grup 3,2‑3,4 triliun rupiah untuk tahun 2026.
CFO Simon Ho menambahkan bahwa leverage operasional kini tertanam secara struktural, dengan pertumbuhan pendapatan melampaui kenaikan biaya di unit fintech dan layanan on‑demand.
“Strategi teknologi dan penerapan AI telah menurunkan biaya layanan secara signifikan,” kata Ho, menyoroti kontribusi otomatisasi dalam efisiensi biaya.
Arus kas bebas yang disesuaikan juga beralih menjadi positif, tercatat Rp1,3 triliun, menandakan perbaikan fundamental pada profitabilitas dan disiplin pengeluaran.
Pendapatan e‑commerce Tokopedia menyumbang Rp288 miliar dalam kuartal ini, memperkuat peran platform marketplace dalam ekosistem GOTO.
Perusahaan tetap menjaga pedoman EBITDA grup meskipun mengakui adanya ketidakpastian makroekonomi global, inflasi, dan persaingan pasar yang meningkat.
Analisis pasar menilai bahwa peralihan dari kerugian ke laba dapat meningkatkan sentimen investor terhadap saham GOTO.
Volume perdagangan saham GOTO pada sesi pembukaan hari berikutnya menunjukkan kenaikan, mencerminkan antisipasi positif dari pelaku pasar.
Beberapa broker memperkirakan harga saham dapat menguji level resistensi sebelumnya di kisaran Rp150 per lembar.
Jika momentum profit berlanjut, target teknikal jangka menengah diperkirakan mengarah ke level Rp180‑200 per lembar.
Namun, para analis mengingatkan bahwa volatilitas tetap tinggi mengingat kondisi geopolitik dan fluktuasi nilai tukar.
Investor institusional yang sebelumnya menahan posisi pada saham GOTO kini mulai menambah kepemilikan, menandakan kepercayaan pada strategi pertumbuhan perusahaan.
Di sisi lain, beberapa pedagang ritel tetap berhati-hati, menunggu konfirmasi kuartal berikutnya untuk menilai keberlanjutan profitabilitas.
Strategi diversifikasi layanan, termasuk ekspansi fintech dan integrasi AI, dipandang sebagai faktor kunci dalam menjaga margin keuntungan.
GOTO juga mengumumkan rencana investasi lanjutan pada infrastruktur digital, yang diharapkan mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Perusahaan menegaskan komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan mitra driver melalui program insentif dan perlindungan sosial.
Kebijakan ini diharapkan memperkuat basis jaringan driver, yang merupakan aset penting dalam ekosistem layanan on‑demand.
Secara keseluruhan, pencapaian laba bersih pertama menandai perubahan fundamental dalam model bisnis GOTO.
Para pemangku kepentingan menilai bahwa langkah ini dapat membuka peluang kenaikan nilai saham di pasar modal Indonesia.
Walaupun prospek positif, risiko eksternal seperti inflasi biaya operasional dan persaingan ketat tetap menjadi perhatian.
Manajemen GOTO menegaskan kesiapan menghadapi tantangan global dengan strategi digitalisasi yang berkelanjutan.
Investor disarankan untuk memperhatikan laporan keuangan kuartal berikutnya sebagai indikator kelanjutan tren profit.
Dengan fondasi profit yang baru terbentuk, saham GOTO berada pada posisi yang lebih kuat untuk menembus level harga yang lebih tinggi.
Pengawasan regulator dan kebijakan fiskal tetap menjadi faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pergerakan saham.
Secara singkat, pergeseran profitabilitas GOTO memberikan sinyal positif bagi pasar, namun keputusan investasi tetap harus mempertimbangkan risiko makroekonomi.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







