Penurunan Bantuan Kemanusiaan untuk Pengungsi Palestina di Yordania Memprihatinkan
Suara Pecari | Relawan kemanusiaan Indonesia, Eko Sulistio, melaporkan bahwa kondisi pengungsi Palestina di Yordania semakin memburuk seiring dengan berkurangnya bantuan internasional. Tahun ini, banyak program bantuan dihentikan, menjadikan situasi ini sebagai yang paling sulit bagi pengungsi.
Eko menyatakan bahwa penghentian bantuan dari berbagai lembaga internasional seperti UNRWA, WHO, dan WFP telah terjadi sejak awal tahun. Ia mencatat, penurunan bantuan mencapai hampir 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kondisi ini diperparah oleh konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah, yang juga mengganggu akses penerbangan dan distribusi bantuan. Eko menyampaikan, “Penerbangan tidak ada, lalu bantuan-bantuan internasional juga di stop. Dampaknya sangat terasa bagi pengungsi Palestina di Yordania.”
Data dari PBB menunjukkan bahwa jumlah pengungsi Palestina di Yordania telah mencapai lebih dari 4,5 juta jiwa pada 2019 dan terus meningkat karena tidak ada sensus terbaru pasca pandemi COVID-19. Akibat minimnya bantuan, banyak pengungsi yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Eko menceritakan pengalaman menjumpai keluarga pengungsi yang terpaksa memanfaatkan air kamar mandi untuk kebutuhan minum, karena mereka tidak mampu membeli air bersih. Ia menekankan bahwa pengungsi Palestina di Yordania tidak diperbolehkan bekerja, sehingga mereka bergantung sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan internasional.
Selain masalah logistik, layanan kesehatan juga sangat terbatas. Meskipun terdapat dua klinik kesehatan yang dikelola oleh relawan Indonesia, jumlahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah pengungsi yang mencapai jutaan.
Di Yordania, terdapat 14 kamp pengungsian resmi, namun banyak juga kamp yang tidak terdaftar. Eko menjelaskan bahwa kondisi kamp pengungsian tidak sepenuhnya berupa tenda darurat; pemerintah Yordania menyediakan hunian semi permanen bagi pengungsi.
Dalam aksi kemanusiaan ini, Eko dibantu oleh mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Yordania, dengan jumlah relawan berkisar antara 30 hingga 40 orang yang bergantian. Bantuan kemanusiaan dari Indonesia umumnya disalurkan dalam bentuk dana melalui lembaga terpercaya dan mitra lokal, dengan distribusi yang memerlukan izin resmi untuk masuk ke kamp pengungsian.
Kondisi pengungsi Palestina di Yordania sangat memprihatinkan, dan penurunan bantuan kemanusiaan dapat berakibat fatal bagi kehidupan mereka.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












