Sri Lanka Imbau Petani Hemat Air Antisipasi Dampak El Nino: Ancaman Kekeringan dan Strategi Adaptasi Pertanian

Sri Lanka Imbau Petani Hemat Air Antisipasi Dampak El Nino: Ancaman Kekeringan dan Strategi Adaptasi Pertanian

Suara Pecari | Kolombo – Pemerintah Sri Lanka melalui Departemen Pertanian mengeluarkan imbauan mendesak kepada para petani untuk menghemat penggunaan air sebagai langkah antisipasi terhadap potensi dampak fenomena El Nino. Imbauan ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Departemen Pertanian Sri Lanka, Thushara Wickramaarachchi, Jumat, 12 Juni 2026, di tengah kekhawatiran akan perubahan pola cuaca yang dapat mengancam produksi pangan nasional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempersiapkan sektor pertanian menghadapi kemungkinan kekeringan yang lebih parah dalam beberapa bulan ke depan.

Latar Belakang: Ancaman El Nino terhadap Sektor Pertanian Sri Lanka

Fenomena El Nino, yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, sering kali memicu perubahan pola cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, termasuk Asia Selatan. Departemen Meteorologi Sri Lanka telah memperingatkan bahwa negara tersebut berpotensi mengalami penurunan curah hujan signifikan pada Juli dan Agustus 2026 jika El Nino berkembang. Kondisi ini dapat menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan, mengurangi ketersediaan air untuk irigasi, dan mengancam produktivitas pertanian, terutama pada musim tanam Yala yang berlangsung dari Mei hingga Agustus. Sektor pertanian Sri Lanka menyumbang sekitar 7% dari PDB nasional dan mempekerjakan hampir 25% tenaga kerja. Tanaman pangan utama seperti padi, teh, karet, dan kelapa sangat bergantung pada curah hujan yang stabil. Kekeringan akibat El Nino sebelumnya pada tahun 2016-2017 telah menyebabkan kerugian besar, dengan produksi padi turun hingga 40% di beberapa wilayah. Oleh karena itu, pemerintah tidak ingin mengambil risiko dan memilih untuk bertindak proaktif.

Imbauan Pemerintah: Efisiensi Air dan Varietas Tanaman Berumur Pendek

Dalam pernyataannya, Wickramaarachchi meminta petani untuk menggunakan air secara efisien selama musim tanam. Ia menekankan pentingnya teknik irigasi yang hemat air, seperti irigasi tetes dan mulsa, untuk mengurangi penguapan. Selain itu, petani didorong untuk mempertimbangkan risiko cuaca dan menanam varietas tanaman berumur pendek yang membutuhkan waktu panen lebih singkat, biasanya 60-90 hari, dibandingkan varietas konvensional yang bisa mencapai 120-150 hari. Strategi ini diharapkan dapat mengurangi risiko kerugian jika kekeringan terjadi sebelum panen. Berikut adalah beberapa rekomendasi teknis yang disampaikan:

  • Menggunakan varietas padi unggul berumur pendek seperti ‘Bg 300’ dan ‘Bg 304’ yang tahan kekeringan.
  • Menerapkan sistem irigasi bergilir untuk memaksimalkan distribusi air.
  • Memantau kelembaban tanah secara rutin dan hanya mengairi saat diperlukan.
  • Menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan retensi air tanah.
Varietas TanamanUmur Panen (hari)Kebutuhan AirKetahanan Kekeringan
Bg 30090SedangTinggi
Bg 30485RendahSangat Tinggi
Konvensional (Bg 250)120TinggiRendah

Dampak dan Implikasi bagi Petani dan Pangan Nasional

Jika El Nino benar-benar terjadi, dampaknya bisa sangat luas. Kekeringan tidak hanya akan mengurangi hasil panen, tetapi juga meningkatkan biaya produksi karena petani harus membeli air atau menggunakan pompa tambahan. Harga pangan berpotensi naik, memicu inflasi dan meningkatkan kerawanan pangan, terutama bagi masyarakat berpendapatan rendah. Pemerintah Sri Lanka telah menyiapkan program bantuan sosial dan subsidi pupuk untuk meringankan beban petani. Namun, langkah antisipatif seperti penghematan air dianggap lebih efektif dalam jangka panjang. Selain itu, pemerintah juga mendorong diversifikasi tanaman dan penggunaan teknologi pertanian modern. Departemen Pertanian berjanji akan terus memantau kondisi cuaca dan memberikan panduan teknis terbaru kepada petani. “Kami tidak ingin petani panik, tetapi mereka harus siap. Dengan mengikuti arahan petugas pertanian setempat, kami yakin produktivitas dapat dijaga,” ujar Wickramaarachchi.

Kronologi Peristiwa dan Respons Pemerintah

  • April 2026: Departemen Meteorologi Sri Lanka mulai mendeteksi tanda-tanda awal El Nino di Samudra Pasifik.
  • Mei 2026: Pemerintah mengadakan rapat koordinasi dengan kementerian terkait untuk menyusun rencana kontingensi.
  • Juni 2026: Departemen Pertanian secara resmi mengeluarkan imbauan kepada petani untuk hemat air dan menanam varietas berumur pendek.
  • Juli-Agustus 2026: Diperkirakan puncak dampak El Nino, dengan penurunan curah hujan hingga 30-50% di beberapa wilayah.

Pemerintah juga telah mengalokasikan dana darurat untuk pembelian pompa air dan pembangunan sumur bor di daerah rawan kekeringan. Selain itu, kerja sama dengan lembaga internasional seperti FAO dan Bank Dunia sedang dijajaki untuk mendapatkan bantuan teknis dan finansial.

Penutup

Di tengah ketidakpastian iklim global, Sri Lanka memilih untuk tidak tinggal diam. Imbauan hemat air dan penggunaan varietas tanaman berumur pendek adalah langkah pragmatis yang mencerminkan kearifan lokal dan inovasi pertanian. Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada partisipasi aktif petani dan dukungan pemerintah yang berkelanjutan. Jika El Nino benar-benar melanda, ketahanan pangan Sri Lanka akan diuji. Namun, dengan persiapan yang matang, negara ini berharap dapat meminimalkan kerugian dan menjaga stabilitas pangan bagi 22 juta warganya. Langkah-langkah antisipatif ini juga menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain yang menghadapi ancaman serupa di era perubahan iklim.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan