Kolaborasi Tiga Organisasi Mahasiswa Gelar Seminar Kepemudaan: Menolak Jadi Oposisi Abadi, Berani Masuk Sistem Tanpa Kehilangan Idealisme
Suara Pecari, Lhokseumawe – Semangat kolaborasi dan penguatan peran pemuda kembali digaungkan melalui Seminar Kepemudaan bertajuk “Menolak Jadi Oposisi Abadi, Berani Masuk Sistem Tanpa Kehilangan Idealisme” yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Labuhanbatu (IMLAB), Himpunan Mahasiswa Labuhanbatu Utara (HIMALABURA), dan PMII Universitas Malikussaleh, Minggu 5 Juli 2026, di Aula Gedung Wali Kota Lhokseumawe. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 16.00 WIB tersebut diikuti oleh mahasiswa dari ketiga organisasi sebagai wadah mempererat hubungan antar lembaga sekaligus membuka ruang diskusi mengenai berbagai isu kepemudaan yang berkembang saat ini.
Latar Belakang: Mengapa Seminar Ini Penting?
Di tengah maraknya apatisme politik di kalangan generasi muda, seminar ini hadir sebagai respons atas fenomena “oposisi abadi” yang kerap melanda mahasiswa. Banyak pemuda yang hanya pandai mengkritik tanpa mau terlibat dalam sistem pengambilan keputusan. Akibatnya, perubahan yang diidamkan seringkali mandek. Ketiga organisasi—IMLAB, HIMALABURA, dan PMII—bersepakat bahwa sudah saatnya mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain kunci dalam pembangunan bangsa.
Kronologi Acara
Acara dibuka dengan sambutan dari masing-masing ketua organisasi. Ketua Umum IMLAB, Ripan Kurniawan, menekankan pentingnya kolaborasi lintas organisasi. “Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan organisasi bukan menjadi penghalang untuk bersatu. Justru melalui kolaborasi seperti ini, lahir gagasan-gagasan baru yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Selanjutnya, sesi pemaparan materi oleh narasumber utama, Reja Rizki, Wakil Ketua I KNPI Lhokseumawe, yang didampingi oleh Ramazana. Dalam presentasinya, Reja mengupas tuntas konsep “oposisi abadi” dan bagaimana pemuda dapat masuk ke dalam sistem tanpa mengorbankan idealisme. Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung interaktif, dengan peserta mengajukan pertanyaan kritis seputar strategi advokasi kebijakan, etika politik, dan cara menjaga integritas di tengah tekanan sistem.
Poin-Poin Penting dari Narasumber
- Pemuda tidak cukup hanya menjadi pengkritik kebijakan, tetapi juga harus berani mengambil peran strategis dalam sistem untuk menghadirkan perubahan nyata.
- Idealisme bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan ketika memasuki ruang pengambilan kebijakan; sebaliknya, idealisme menjadi kompas moral yang menjaga keputusan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.
- Kolaborasi antarorganisasi mahasiswa adalah kunci untuk membangun gerakan yang lebih konstruktif dan berdampak luas.
Dampak dan Implikasi Seminar
Seminar ini tidak hanya memperkuat wawasan kepemudaan, tetapi juga menjadi momentum mempererat sinergi antar organisasi mahasiswa. Ketua HIMALABURA, Arif Pohan, berharap forum semacam ini dapat terus menjadi ruang belajar dan bertukar gagasan. “Kami berharap seminar kolaborasi tiga lembaga ini mampu menciptakan dan melahirkan generasi muda yang tidak hanya menjadi konsumen atau penonton suatu kebijakan, melainkan berani menjadi kreator dan pemimpin di masa depan tanpa kehilangan idealismenya,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua PMII Universitas Malikussaleh, Irfan, menilai bahwa semangat kebersamaan menjadi modal utama dalam membangun gerakan mahasiswa yang progresif. “Forum Group Discussion Kolaborasi ini untuk menjalin sinergitas antar lembaga paguyuban daerah agar setiap elemen lembaga ke depannya tetap satu tujuan sebagai pemuda penerus bangsa yang turut andil dalam memperbaiki sistem yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Data dan Fakta Seputar Seminar
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Tanggal | 5 Juli 2026 |
| Lokasi | Aula Gedung Wali Kota Lhokseumawe |
| Pukul | 10.00 – 16.00 WIB |
| Jumlah Peserta | Mahasiswa dari IMLAB, HIMALABURA, dan PMII Universitas Malikussaleh |
| Narasumber | Reja Rizki (Wakil Ketua I KNPI Lhokseumawe) didampingi Ramazana |
Harapan ke Depan
Melalui kegiatan ini, ketiga organisasi berharap Seminar Kepemudaan dapat menjadi agenda kolaborasi yang berkelanjutan setiap tahunnya. Dengan menghadirkan lebih banyak peserta, narasumber, serta pembahasan isu-isu strategis, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang kritis, adaptif, dan berani terlibat dalam sistem tanpa kehilangan idealisme sebagai agen perubahan. Ke depannya, sinergi antarorganisasi mahasiswa seperti ini dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia untuk membangun gerakan pemuda yang lebih berarti.
Seminar ini juga menegaskan bahwa mahasiswa bukanlah sekadar “generasi penerima” yang pasif, melainkan “generasi penentu” yang aktif membentuk masa depan bangsa. Dengan berani masuk ke dalam sistem, namun tetap berpegang pada nilai-nilai idealis, pemuda Indonesia dapat menjadi motor perubahan yang sesungguhnya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










