Pemkot Yogya Gandeng CSR Bedah Rumah 2 Keluarga Disabilitas

Pemkot Yogya Gandeng CSR Bedah Rumah 2 Keluarga Disabilitas

Suara Pecari, Pemerintah Kota Yogyakarta terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas hidup warganya, terutama kelompok rentan. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah menggandeng Diwa Foundation melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk merenovasi rumah tidak layak huni (RTLH) bagi dua keluarga penyandang disabilitas. Program ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam mewujudkan hunian yang layak, aman, dan sehat bagi semua.

Latar Belakang dan Lokasi Sasaran

Program bedah rumah ini menyasar dua keluarga di dua kelurahan berbeda. Pertama, rumah Mursiti, seorang penyandang disabilitas mental, yang berlokasi di Jetisharjo, Cokrodiningratan. Kedua, rumah Rohmawati di Prawirodirjan, yang memiliki putra penyandang tuna daksa. Kedua rumah tersebut dalam kondisi memprihatinkan, dengan struktur bangunan yang sudah rapuh dan membahayakan penghuninya. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan pentingnya perhatian terhadap penyandang disabilitas mental, yang seringkali luput dari program bantuan perumahan. “Hari ini kita memberi bantuan pada yang disabilitas secara mental. Rumahnya sudah jebol. Kalau roboh tentu membahayakan penghuninya,” ujar Hasto saat meninjau lokasi renovasi, Minggu (5/7).

Kronologi dan Pelaksanaan Renovasi

Program ini berawal dari gagasan Diwa Foundation yang diprakarsai oleh Diah Warih Anjari. Yogyakarta dipilih sebagai titik awal program bedah rumah yayasan tersebut. Setelah melalui survei dan koordinasi dengan Pemkot, dua rumah ditetapkan sebagai penerima manfaat. Ketua Panitia Bedah Rumah, Margono, menjelaskan tahapan renovasi dimulai dengan perbaikan atap rumah Mursiti menggunakan rangka baja ringan dan penutup galvalum. Setelah atap selesai, dilanjutkan dengan pembenahan lantai. Target penyelesaian untuk atap adalah satu bulan, sedangkan keseluruhan renovasi diperkirakan rampung dalam satu setengah bulan. Proses pengerjaan dilakukan secara gotong royong melibatkan LPMK, warga sekitar, dan relawan.

Dana dan Dukungan

Pada tahap awal, Diwa Foundation mengalokasikan dana CSR lebih dari Rp20 juta untuk masing-masing rumah. Dana tersebut disalurkan kepada panitia bedah rumah yang bertanggung jawab atas pembelian material dan koordinasi tenaga kerja. Pemerintah Kota Yogyakarta juga mendukung penuh program ini sebagai bagian dari target perbaikan 200 RTLH sepanjang tahun 2026. Hingga pertengahan tahun, realisasi perbaikan RTLH telah mencapai 60-70 unit, dan diharapkan terus bertambah melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk perusahaan swasta dan yayasan sosial.

Data dan Target RTLH 2026

IndikatorJumlah
Target RTLH 2026200 unit
Realisasi per Juli 202660-70 unit
Dana CSR per rumah (tahap awal)> Rp20 juta
Jumlah rumah dibedah (program Diwa)2 rumah

Dampak dan Harapan Penerima Manfaat

Bantuan ini disambut hangat oleh keluarga penerima. Sigit, perwakilan keluarga Mursiti, mengungkapkan rasa syukur dan harapannya agar rumah dapat segera diperbaiki sehingga Mursiti bisa tinggal dengan lebih aman. Sementara itu, Rohmawati juga bersyukur rumahnya menjadi sasaran program. “Alhamdulillah kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Semoga renovasi rumah bisa segera selesai sehingga rumah menjadi lebih nyaman ditempati dan anak saya lebih aman beraktivitas di rumah,” ujarnya. Program ini tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi penghuni, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas mereka.

Implikasi bagi Masyarakat dan Pemerintah

Kolaborasi antara Pemkot Yogyakarta dan Diwa Foundation menjadi model bagi daerah lain dalam mengatasi masalah RTLH, khususnya bagi penyandang disabilitas. Program ini menunjukkan bahwa gotong royong dan kemitraan dengan sektor swasta dapat mempercepat pencapaian target perbaikan rumah. Ke depan, diharapkan lebih banyak perusahaan yang tergerak untuk menyalurkan CSR mereka ke sektor perumahan layak huni. Selain itu, program ini juga menjadi perhatian bagi pemerintah untuk lebih mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas mental, yang sering terabaikan dalam program bantuan sosial. Diah Warih Anjari, Founder Diwa Foundation, menyatakan bahwa Yogyakarta adalah titik awal dan akan dilanjutkan ke kota-kota lain di Indonesia. “Kami hadir di Jogja karena kita mulai dari titik nol. Nanti Jogja kita estafet, roadshow ke sekitar Jogja dan menuju kota-kota lain,” katanya.

Penutup

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota, perhatian terhadap kelompok disabilitas seringkali menjadi prioritas yang tertunda. Namun, melalui program bedah rumah ini, Pemkot Yogyakarta dan Diwa Foundation telah menyalakan secercah harapan bagi Mursiti, Rohmawati, dan keluarga mereka. Renovasi yang tengah berlangsung bukan sekadar memperbaiki atap dan lantai, melainkan juga membangun kembali martabat dan rasa aman. Semoga langkah kecil ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk terus bergotong royong, karena setiap hunian yang layak adalah hak setiap warga negara, tanpa terkecuali.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *