Krisis Listrik Berkepanjangan, Puskesmas Cot Seumeureng Aceh Barat Terpuruk
Pendahuluan: Krisis Listrik yang Menggerus Pelayanan Kesehatan
Suara Pecari, Puskesmas Cot Seumeureng, yang terletak di Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, telah menghadapi krisis listrik yang berkepanjangan sejak tahun 2023. Hingga pertengahan 2026, pasokan listrik di fasilitas kesehatan tersebut belum kunjung normal. Kondisi ini telah menimbulkan dampak serius terhadap pelayanan kesehatan dasar masyarakat, terutama di wilayah pedesaan yang sangat bergantung pada puskesmas sebagai garda terdepan layanan medis. Kepala Puskesmas Cot Seumeureng, Yevi Rahmawati, mengungkapkan bahwa gangguan listrik yang terus-menerus telah menyebabkan kerusakan pada berbagai peralatan elektronik dan medis, menghambat upaya peningkatan mutu pelayanan, dan menurunkan kenyamanan pasien rawat inap.
Kronologi dan Fakta di Lapangan
Berdasarkan laporan resmi dari pihak puskesmas, masalah kelistrikan mulai terasa sejak awal tahun 2023. Namun, hingga Juli 2026, belum ada perbaikan signifikan. Berikut adalah kronologi singkat berdasarkan informasi yang dihimpun:
- 2023: Aliran listrik mulai tidak stabil, sering padam, dan tegangan tidak mencukupi kebutuhan operasional.
- 2024-2025: Kondisi memburuk. Beberapa alat kesehatan vital, seperti dental unit dan Tes Cepat Molekuler (TCM), mulai mengalami kerusakan.
- 2026: Pelayanan rawat inap terganggu parah. Pasien mengeluhkan AC tidak berfungsi, kipas angin mati, dan lampu redup.
Dampak Langsung terhadap Pelayanan Kesehatan
Kerusakan Alat Kesehatan
Gangguan listrik telah menyebabkan kerusakan pada sejumlah peralatan medis yang sangat dibutuhkan. Yevi Rahmawati menyebutkan bahwa dental unit untuk pelayanan gigi dan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) tidak dapat digunakan secara optimal. TCM merupakan alat penting untuk deteksi dini penyakit seperti tuberkulosis dan COVID-19. Tanpa alat tersebut, diagnosis menjadi tertunda, dan pasien harus dirujuk ke fasilitas lain yang lebih jauh. Tabel berikut merangkum alat-alat yang terdampak:
| Nama Alat | Fungsi | Status |
|---|---|---|
| Dental Unit | Pelayanan gigi | Rusak, tidak berfungsi |
| Tes Cepat Molekuler (TCM) | Deteksi penyakit infeksi | Rusak, tidak optimal |
| AC Ruang Rawat Inap | Pendingin ruangan | Tidak beroperasi |
| Kipas Angin | Sirkulasi udara | Tidak normal |
| Lampu Penerangan | Pencahayaan | Redup, tidak maksimal |
Gangguan pada Rawat Inap
Pelayanan rawat inap yang seharusnya memberikan kenyamanan bagi pasien justru menjadi sumber keluhan. Pasien mengeluhkan ruangan yang panas karena AC tidak berfungsi, sirkulasi udara buruk karena kipas angin mati, dan pencahayaan yang minim sehingga mengganggu aktivitas. Kondisi ini sangat riskan bagi pasien dengan penyakit tertentu yang memerlukan lingkungan sejuk dan terang. Yevi menambahkan, “Keluhan pasien rawat inap cukup banyak, terutama terkait AC yang tidak hidup, kipas angin yang tidak berfungsi normal, serta pencahayaan ruangan yang kurang maksimal. Tentu kondisi ini memengaruhi kenyamanan pasien selama menjalani perawatan.”
Implikasi bagi Masyarakat dan Pelayanan Publik
Krisis listrik di Puskesmas Cot Seumeureng tidak hanya berdampak internal, tetapi juga berimplikasi luas bagi masyarakat Kecamatan Samatiga dan sekitarnya. Berikut beberapa dampak yang perlu dicermati:
- Penurunan Kualitas Pelayanan: Masyarakat tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal. Pemeriksaan gigi dan deteksi dini penyakit terhambat.
- Peningkatan Beban Rujukan: Pasien yang memerlukan alat TCM harus dirujuk ke rumah sakit di Meulaboh, yang memakan waktu dan biaya lebih besar.
- Ketidaknyamanan Pasien: Rawat inap menjadi tidak nyaman, berpotensi memperlambat proses penyembuhan.
- Beban Kerja Tenaga Kesehatan: Petugas kesehatan harus bekerja dengan keterbatasan alat, meningkatkan stres dan risiko kesalahan medis.
- Ketimpangan Akses Kesehatan: Wilayah pedesaan seperti Cot Seumeureng semakin tertinggal dalam akses layanan kesehatan berkualitas.
Harapan dan Langkah ke Depan
Pihak Puskesmas Cot Seumeureng berharap agar permasalahan kelistrikan ini segera ditangani oleh instansi terkait, terutama PLN. Yevi Rahmawati menekankan, “Kami berharap ada perhatian serius dari PLN dan pemerintah daerah agar pasokan listrik normal kembali. Pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus berjalan lebih optimal, dan seluruh fasilitas serta peralatan medis dapat kembali difungsikan secara maksimal.”
Dalam jangka pendek, puskesmas mungkin perlu mengadakan genset cadangan, namun biaya operasionalnya tinggi. Solusi jangka panjang adalah perbaikan infrastruktur listrik oleh PLN. Pemerintah daerah juga diharapkan mengalokasikan anggaran khusus untuk mengatasi krisis ini. Masyarakat setempat pun dapat berperan dengan menyuarakan aspirasi melalui perwakilan di DPRK.
Penutup: Saatnya Bertindak
Krisis listrik di Puskesmas Cot Seumeureng telah berlangsung lebih dari tiga tahun. Ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan ancaman serius terhadap hak dasar warga negara atas pelayanan kesehatan. Setiap hari yang berlalu tanpa perbaikan berarti ada pasien yang tidak tertangani dengan baik, ada diagnosa yang tertunda, dan ada nyawa yang dipertaruhkan. Sudah saatnya semua pemangku kepentingan, dari PLN, Dinas Kesehatan, hingga pemerintah daerah, bergerak cepat dan konkret. Masyarakat Aceh Barat layak mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak, dan Puskesmas Cot Seumeureng harus segera terbebas dari kegelapan yang berkepanjangan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.








