Tak Cuma Ganggu Penerbangan, Asap Karhutla Bisa Rusak Komponen Mesin Pesawat

Tak Cuma Ganggu Penerbangan, Asap Karhutla Bisa Rusak Komponen Mesin Pesawat

Suara Pecari – Asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia tidak hanya mengganggu jadwal penerbangan, tetapi juga berpotensi merusak komponen mesin pesawat. Kondisi ini dapat menimbulkan risiko keselamatan dan menambah beban biaya operasional maskapai.

Gangguan Operasional Penerbangan Akibat Asap Karhutla

Kabut asap yang tebal menyebabkan jarak pandang di sekitar bandara menurun drastis. Hal ini memaksa pesawat untuk melakukan holding, mengalami keterlambatan, pengalihan rute, atau bahkan pembatalan penerbangan. Petugas pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Control/ATC) juga harus menambah jarak pemisahan antar pesawat saat lepas landas dan mendarat untuk menjaga keselamatan.

Contoh Kasus di Beberapa Bandara

  • Bandara Supadio Pontianak dan Singkawang, Kalimantan Barat, mengalami penurunan jarak pandang di bawah 1.000 meter, memicu lebih dari 21 kasus keterlambatan, pengalihan, dan pembatalan penerbangan.
  • Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, juga mencatat sejumlah penerbangan terlambat akibat kabut asap.
  • Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, mengalami kondisi terburuk dengan jarak pandang hanya 200 meter.
  • Bandara Sultan Thaha Saifuddin, Jambi, menerima pengalihan penerbangan saat jarak pandang turun ke 800 meter.
  • Gangguan serupa juga terjadi di sekitar Bandara Douw Aturure, Nabire, Papua Tengah.

Dampak Asap Karhutla terhadap Komponen Mesin Pesawat

Selain mengganggu jadwal, asap karhutla membawa risiko serius terhadap keselamatan penerbangan. Partikel asap, jelutong, dan abu yang terhirup oleh mesin pesawat dapat mengotori filter udara turbin, menyumbat tabung pitot-static, dan mempercepat keausan komponen mesin. Kondisi ini dapat mengakibatkan kerusakan mesin yang berujung pada peningkatan risiko kegagalan teknis saat penerbangan.

Dampak Ekonomi dan Konektivitas

Gangguan operasional tidak hanya berdampak pada keselamatan, tetapi juga pada aspek bisnis maskapai dan konektivitas nasional. Biaya operasional meningkat karena konsumsi bahan bakar lebih tinggi saat pesawat harus holding, kompensasi untuk keterlambatan atau pembatalan penerbangan, serta terganggunya rotasi pesawat dan penjadwalan kru. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini dapat menghambat konektivitas transportasi udara dan berdampak negatif pada perekonomian nasional.

Upaya Penanganan

Penanganan kebakaran hutan dan lahan harus segera dilakukan dengan kerja sama berbagai pihak agar dampak terhadap penerbangan dapat diminimalisir. Petugas dari Dinas Kehutanan, misalnya di Kalimantan Tengah, terus melakukan pemadaman untuk mengurangi penyebaran asap.

Ketua Umum Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional (INACA), Denon Prawiraatmadja, menekankan pentingnya percepatan penanganan karhutla agar keselamatan penerbangan dan konektivitas udara tetap terjaga.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *