59 Hari Tak Turun Hujan, Triputra Agro Perkuat Upaya Cegah Karhutla
Suara Pecari, Kalimantan Tengah – PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP) meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul kondisi tanpa hujan selama 59 hari berturut-turut di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Cuaca panas berkepanjangan ini meningkatkan risiko kebakaran, sehingga perusahaan memprioritaskan pengawasan ketat di wilayah operasional anak usaha mereka, PT Gawi Bahandep Sawit Mekar (GBSM).
Fokus Utama pada Pencegahan Karhutla
Japatar Banjarnahor, General Manager Region Kalteng dan Sumatera TAP, menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan saat ini adalah mencegah karhutla, menggeser prioritas dari operasional biasa. Hingga saat ini, belum ditemukan titik api atau hotspot di wilayah operasional TAP. Perusahaan juga aktif memantau dan membantu memadamkan titik api yang muncul di sekitar perbatasan wilayah operasional mereka.
“Instruksi manajemen jelas, nomor satu adalah karhutla, operasional nomor dua. Fokus kami bukan pada profit, tetapi bagaimana mencegah kejadian kebakaran,” ujar Japatar saat mempersiapkan patroli terpadu pencegahan karhutla di PT GBSM.
Strategi dan Sarana Pencegahan Karhutla
Berbagai langkah pencegahan dilakukan TAP, antara lain:
- Patroli gabungan rutin setiap minggu.
- Pemantauan dari jalur darat, sungai, menara pantau, dan penggunaan drone.
- Penggunaan satgas pencegahan karhutla yang terdiri dari pekerja terlatih dalam pemadaman kebakaran.
Keikutsertaan berbagai tim dari tenaga panen hingga perawatan menunjukkan bagaimana sumber daya dialihkan untuk pengendalian karhutla. Kesiapsiagaan ini dibangun jauh sebelum api muncul, meliputi deteksi dini, kesiapan personel, sarana pendukung, edukasi, serta kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah.
Kesiapsiagaan Personel dan Dukungan Masyarakat
GBSM didukung oleh 585 personel satgas pengendalian karhutla yang terbagi dalam beberapa regu dan telah mendapatkan pelatihan intensif bersama Manggala Agni sejak 2016. Pengalaman latihan para personel ini sangat membantu dalam kesiapan menghadapi potensi kebakaran.
Kolaborasi dengan masyarakat juga diwujudkan melalui Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) dan Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Perusahaan memberikan penghargaan sebesar Rp 100 juta bagi desa yang berhasil tidak muncul titik api sepanjang tahun sebagai bentuk insentif.
Penggunaan Teknologi Deteksi Dini
Untuk deteksi titik api secara lebih awal, TAP menerapkan Early Warning System (EWS) hotspot berbasis satelit yang memberikan informasi secara real-time mengenai titik panas, tingkat kewaspadaan, serta peta koordinat. Patroli dilakukan berdasarkan Fire Danger Rating (FDR) dengan frekuensi yang menyesuaikan tingkat kerawanan.
Dukungan sarana pengendalian karhutla meliputi:
- 146 papan FDR sebagai indikator risiko kebakaran.
- 89 embung air sebagai sumber cadangan air.
- 45 menara pantau api untuk pengawasan visual.
- 9 unit drone untuk pemantauan udara.
Peran aktif TAP juga diakui oleh aparat setempat, seperti Kapolsek Seruyan Hilir yang menyatakan bahwa bantuan dari GBSM sangat membantu dalam penanganan karhutla di luar area operasional perusahaan.
Kolaborasi dan Komitmen Jangka Panjang
Triputra Agro Persada menegaskan bahwa pengendalian karhutla merupakan komitmen jangka panjang yang dilakukan sepanjang tahun, bukan hanya saat musim kemarau. Kesiapan personel, sarana, edukasi, serta sinergi dengan masyarakat dan pemerintah menjadi kunci keberhasilan pencegahan kebakaran hutan dan lahan di wilayah operasional mereka.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










