Rencana Pembongkaran JPO Rasuna Said oleh Gubernur Pramono Anung
Suara Pecari, Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah tegas dengan merencanakan pembongkaran Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Rasuna Said yang lama. Keputusan ini diambil oleh Gubernur Pramono Anung setelah meninjau langsung kondisi fasilitas pejalan kaki di kawasan Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada agenda Car Free Day (CFD) baru-baru ini.
Alasan Pembongkaran JPO Lama
Dua JPO yang berdiri berdampingan di kawasan Rasuna Said dikenal dengan julukan ‘love-hate relationship’ karena keberadaannya yang membingungkan pengguna jalan. JPO lama yang dibangun pada era 80-90-an dinilai sudah usang dan tidak ramah bagi penyandang disabilitas, terutama karena perbedaan tinggi yang signifikan dengan JPO baru. Sementara itu, JPO baru terintegrasi dengan stasiun LRT Jabodebek dan memiliki fasilitas yang lebih baik, termasuk lift yang ramah lansia dan difabel.
Gubernur Pramono Anung menyatakan bahwa keberadaan dua JPO yang fungsi dan posisinya sama merupakan hasil dari ego sektoral dan kurangnya komunikasi antar pemimpin pada masa lalu. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan pejalan kaki, terutama kelompok disabilitas, pemerintah memutuskan untuk membongkar JPO lama dan memfokuskan perawatan pada JPO baru.
Proses dan Jadwal Pembongkaran
Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta menjelaskan bahwa JPO lama merupakan aset resmi Pemprov DKI, sehingga pembongkaran harus melalui proses pencatatan dan pelelangan aset di Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD). Pembongkaran fisik diperkirakan berlangsung selama 2-3 minggu setelah proses lelang selesai dan direncanakan dilakukan pada malam hari untuk meminimalisir gangguan lalu lintas di kawasan Rasuna Said.
Pramono menargetkan proses pembongkaran selesai paling lambat pada September atau Oktober 2026. Langkah ini diharapkan tidak mengganggu aktivitas masyarakat dan justru meningkatkan kualitas fasilitas penyeberangan yang ada.
Dampak terhadap Mobilitas dan Aksesibilitas
Dengan dibongkarnya JPO lama, seluruh akses penyeberangan akan terpusat pada JPO baru yang telah terintegrasi dengan moda transportasi LRT Jabodebek. Hal ini diharapkan dapat memudahkan mobilitas warga, memberikan kenyamanan, dan memenuhi standar aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dan kelompok lansia.
Pemprov DKI juga berkomitmen untuk memfokuskan pemeliharaan dan pembenahan fasilitas penunjang di JPO baru, seperti lift dan tangga, guna menjamin keamanan dan kemudahan bagi seluruh pengguna jalan.
Konteks dan Signifikansi
Kawasan Rasuna Said merupakan salah satu area strategis di Jakarta Selatan yang padat aktivitas. Penyediaan fasilitas pejalan kaki yang efektif dan ramah pengguna menjadi hal penting dalam mendukung mobilitas warga dan integrasi moda transportasi publik. Keputusan untuk membongkar JPO lama dan mengoptimalkan JPO baru mencerminkan upaya pemerintah daerah untuk memperbaiki infrastruktur publik dengan memperhatikan aspek inklusivitas dan keamanan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










