Rupiah Terus Merosot? Ini Empat Faktor Utamanya yang Wajib Diketahui
Suara Pecari | Jakarta – Nilai tukar rupiah terus menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir. Pada 8 Juni 2026, rupiah sempat menyentuh level Rp 18.200 per dolar AS, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat. Pertanyaan besar yang muncul: mengapa rupiah terus melemah? Ini empat faktor utamanya yang menjadi sorotan para ekonom dan analis.
Pertama, tekanan eksternal akibat konflik geopolitik global. Operasi militer AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga Brent melonjak 27% menjadi US$ 91,8 per barel, bahkan sempat mencapai US$ 118,35 pada Maret. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia harus mengeluarkan lebih banyak dolar untuk impor energi, sehingga menekan nilai tukar rupiah.
Kedua, memburuknya persepsi fiskal Indonesia. Ekonom senior Chatib Basri menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan disebabkan konflik Timur Tengah, melainkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Indikator credit default swap (CDS) Indonesia meningkat, mencerminkan risiko fiskal yang lebih tinggi. Sekitar 23% pergerakan rupiah dapat dijelaskan oleh perubahan CDS. “Ini soal confidence risk,” ujar Chatib.
Ketiga, kebijakan moneter agresif Bank Indonesia. Untuk menahan pelemahan, BI menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin dan melakukan intervensi di tiga pasar valas. Meskipun berhasil menarik modal asing masuk US$ 5,5 miliar, efektivitas kebijakan ini dipertanyakan. Riset CORE Indonesia menunjukkan bahwa pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh faktor struktural, seperti defisit neraca pembayaran dan ketergantungan pada impor energi.
Keempat, faktor eksternal lainnya berupa penguatan dolar AS pasca-data ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan. Analis Lukman Leong menyebutkan bahwa rupiah berpotensi melemah lebih lanjut hingga Rp 19.000 per dolar AS pada akhir bulan. Sementara itu, IHSG juga tertekan, turun 17,03% year-to-date, diperparah oleh penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s dan Fitch.
Pelemahan rupiah ini berdampak langsung pada masyarakat. Financial planner Andi Nugroho menyarankan agar masyarakat lebih bijak dalam membelanjakan uang dan mempertimbangkan investasi yang aman. Pemerintah dan BI diharapkan terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memperbaiki fundamental ekonomi.
Kesimpulannya, tekanan terhadap rupiah bersifat multidimensi. Kombinasi faktor global dan domestik membuat rupiah rentan. Ke depan, perbaikan fiskal, penguatan daya saing ekspor, dan kebijakan moneter yang tepat menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan pasar. Masyarakat pun perlu waspada dan menyesuaikan strategi keuangan di tengah ketidakpastian ini.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












