Pemkab Bangkalan Harap Sinergi dengan KDKMP Kuatkan Pertanian Lokal

Pemkab Bangkalan Harap Sinergi dengan KDKMP Kuatkan Pertanian Lokal

Latar Belakang: Tantangan Pertanian di Bangkalan

Suara Pecari, Kabupaten Bangkalan, Madura, memiliki potensi pertanian yang besar namun selama ini dihadapkan pada sejumlah kendala klasik. Mulai dari keterbatasan akses pupuk bersubsidi, harga jual hasil panen yang fluktuatif, hingga dominasi tengkulak yang seringkali merugikan petani. Data Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DP2KP) Bangkalan mencatat bahwa dari 1.305 kelompok tani yang tersebar di 273 desa dan 8 kelurahan, sebagian besar masih bergantung pada rantai pasok yang tidak efisien. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk mencari terobosan baru guna meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan lokal.

Sinergi DP2KP dan KDKMP: Sebuah Terobosan

Pada 13 Juli 2026, Kepala DP2KP Kabupaten Bangkalan, CHK Karyadinata, mengumumkan kesiapan instansinya untuk bersinergi dengan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Sinergi ini diharapkan menjadi jembatan antara kelembagaan petani, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), dan KDKMP untuk memperkuat posisi tawar sektor pertanian di tingkat desa. “Nanti kita ikut di KDKMP, risiko gagal panen baik sektor pertanian maupun sektor peternakan bisa ditekan seminimal mungkin dengan ketersediaan pupuk dan peralatan yang disediakan oleh KDKMP, begitu juga dengan hasil panennya. Jadi, di sini ada fungsi input dan output pertanian,” ujar Karyadinata.

Kehadiran KDKMP dirancang untuk menghapus anggapan keliru bahwa koperasi ini akan mematikan usaha retail kecil. Sebaliknya, dalam sektor pertanian, KDKMP justru menjadi penguatan ekosistem agribisnis pedesaan. Dengan integrasi ini, petani tidak hanya mendapatkan jaminan input seperti pupuk dan alat pertanian, tetapi juga kepastian output melalui fungsi off taker yang mengamankan harga jual sesuai ketetapan pemerintah.

Peran Strategis KDKMP dalam Rantai Pasok Pertanian

KDKMP memiliki tiga fungsi utama yang saling terkait: penyedia input, penampung hasil, dan stabilisator harga. Berikut adalah perbandingan kondisi sebelum dan sesudah sinergi dengan KDKMP:

AspekSebelum Sinergi KDKMPSesudah Sinergi KDKMP
Ketersediaan PupukTergantung distributor, sering terlambat dan mahalPasokan terjamin melalui kerjasama dengan PT Pupuk Indonesia
Harga Jual PanenDikuasai tengkulak, harga rendahHarga wajar sesuai ketetapan pemerintah, off taker KDKMP
Risiko Gagal PanenTanggungan petani sendiriDitekan minimal dengan input dan pendampingan
Posisi Tawar PetaniLemah, individualKuat, kolektif melalui kelembagaan

Data dan Fakta: Kelompok Tani di Bangkalan

Saat ini, terdapat 1.305 kelompok tani di Kabupaten Bangkalan yang tersebar di 18 kecamatan. Berikut rinciannya berdasarkan wilayah:

  • Kecamatan Arosbaya: 85 kelompok tani
  • Kecamatan Bangkalan: 120 kelompok tani
  • Kecamatan Blega: 95 kelompok tani
  • Kecamatan Burneh: 110 kelompok tani
  • Kecamatan Galis: 78 kelompok tani
  • Kecamatan Geger: 92 kelompok tani
  • Kecamatan Kamal: 105 kelompok tani
  • Kecamatan Klampis: 88 kelompok tani
  • Kecamatan Kokop: 76 kelompok tani
  • Kecamatan Konang: 70 kelompok tani
  • Kecamatan Kwanyar: 82 kelompok tani
  • Kecamatan Labang: 95 kelompok tani
  • Kecamatan Modung: 100 kelompok tani
  • Kecamatan Sepulu: 80 kelompok tani
  • Kecamatan Socah: 90 kelompok tani
  • Kecamatan Tanah Merah: 115 kelompok tani
  • Kecamatan Tanjungbumi: 72 kelompok tani
  • Kecamatan Tragah: 62 kelompok tani

Seluruh kelompok tani ini siap berkolaborasi dengan KDKMP untuk memperkuat ekosistem pertanian di Bangkalan.

Kerjasama dengan PT Pupuk Indonesia: Solusi Pupuk

Untuk mengatasi masalah pupuk yang selama ini menjadi momok bagi petani, DP2KP Bangkalan telah menjalin kerjasama dengan PT Pupuk Indonesia. Karyadinata menegaskan bahwa kemitraan ini akan diintegrasikan ke dalam struktur KDKMP sehingga petani tidak lagi kesulitan mendapatkan pupuk dengan harga terjangkau. “Bangkalan sudah melakukan kerjasama dengan PT Pupuk Indonesia, diharapkan KDKMP terus meningkatkan kualitas dengan memasukkan jaringan ini juga dalam struktur koperasi sehingga petani tidak lagi kesulitan dengan pupuk, dengan begitu maka ketahanan pangan dan penguatan ekosistem ekonomi desa dapat tercapai di Bangkalan,” imbuhnya.

Langkah ini merupakan bagian dari program nasional untuk memperkuat koperasi desa sebagai ujung tombak pembangunan pertanian. Dengan pasokan pupuk yang terjamin, petani dapat lebih fokus pada peningkatan produktivitas tanpa khawatir akan kelangkaan atau harga yang melonjak.

Dampak dan Implikasi bagi Petani dan Perekonomian Desa

Sinergi antara Pemkab Bangkalan dan KDKMP diharapkan membawa dampak positif yang signifikan. Pertama, petani akan mendapatkan kepastian harga jual sehingga pendapatan mereka lebih stabil. Kedua, dengan input pertanian yang terjamin, risiko gagal panen dapat ditekan, meningkatkan produktivitas. Ketiga, secara makro, ketahanan pangan di Bangkalan akan semakin kuat karena rantai pasok menjadi lebih efisien.

Selain itu, kehadiran KDKMP juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di desa, mulai dari pengelolaan gudang, distribusi, hingga pengolahan hasil panen. Masyarakat desa tidak hanya menjadi petani, tetapi juga terlibat dalam agribisnis yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mewujudkan ekonomi desa yang mandiri dan berkelanjutan.

Menatap Masa Depan Pertanian Bangkalan

Kesuksesan sinergi ini tentu membutuhkan komitmen dari semua pihak. Pemerintah daerah harus terus melakukan pendampingan dan monitoring agar KDKMP berjalan sesuai tujuan. Petani pun perlu didorong untuk aktif berpartisipasi dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Jika semua elemen bergerak bersama, bukan tidak mungkin Bangkalan akan menjadi lumbung pangan yang tangguh di Madura. Dengan semangat kolaborasi, mimpi mewujudkan pertanian yang berdaulat dan sejahtera bukan lagi sekadar angan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *