Harga Daging Ayam Potong di Situbondo Terus Membaik, Peternak Masih Merugi

Harga Daging Ayam Potong di Situbondo Terus Membaik, Peternak Masih Merugi

Suara Pecari, Harga daging ayam broiler atau ayam potong di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, menunjukkan tren pemulihan dalam beberapa pekan terakhir. Setelah sempat anjlok hingga Rp19.000 per kilogram pada minggu lalu, kini harga kembali merangkak naik menjadi Rp27.000 per kilogram pada Senin, 6 Juli 2026. Namun di balik kabar baik ini, masih ada ironi: peternak justru merasakan pahitnya biaya produksi yang terus membengkak.

Kronologi Kenaikan Harga

Berdasarkan pantauan di beberapa pasar tradisional Situbondo, fluktuasi harga daging ayam potong terjadi cukup drastis dalam sepekan terakhir. Berikut adalah data kronologis yang berhasil dihimpun:

TanggalHarga/Kg (Rp)Keterangan
29 Juni 202622.000Harga awal mulai turun
30 Juni 202619.000Puncak keterpurukan, stok melimpah
5 Juli 202626.000Mulai naik karena stok berkurang
6 Juli 202627.000Harga bertahan di level ini

Fatmawati, salah seorang pedagang ayam di Pasar Situbondo, mengaku bersyukur karena harga kini mulai normal. “Minggu kemarin stok daging ayam melimpah, saat ini terus berkurang, makanya harganya naik. Kemarin masih Rp26.000, hari ini sudah Rp27.000 per kilogram,” ujarnya saat ditemui di lapaknya.

Fatmawati mengaku meraup untung lumayan karena ia membeli ayam hidup saat harga masih murah, yakni Rp23.000 per kilogram untuk ayam potong dan Rp16.000 per kilogram untuk ayam hidup. “Saya beli ayam yang masih hidup, harganya Rp16.000 per kilogram. Hari ini saya masih ada stok, dan malam ini mau disembelih. Yang jelas saya dapat untung karena harga daging ayam naik,” terangnya.

Peternak di Ujung Tanduk: Biaya Pakan Terus Naik

Sementara pedagang mulai tersenyum, nasib peternak justru sebaliknya. Fauzan, seorang peternak ayam potong di Situbondo, mengungkapkan bahwa harga ayam hidup di tingkat peternak masih stagnan di angka Rp16.000 per kilogram. “Kalau ayam hidup harga di peternak masih Rp16.000 per kilogram. Tentu kami merugi, karena harga pakan naik terus, biaya operasional ayam lumayan tinggi loh,” ucapnya dengan nada pasrah.

Menurut Fauzan, titik impas (break-even point) peternak berada pada harga ayam hidup Rp20.000 per kilogram. Dengan harga saat ini, setiap kilogram ayam yang dijual peternak mengalami kerugian sekitar Rp4.000. Jika rata-rata peternak memproduksi 1.000 ekor per siklus, kerugian bisa mencapai belasan juta rupiah.

Perbandingan Harga di Berbagai Tingkat Rantai Pasok

Untuk memahami disparitas harga, berikut disajikan perbandingan harga di tiga tingkatan:

TingkatanHarga per Kg (Rp)Keterangan
Peternak (ayam hidup)16.000Merugi karena di bawah biaya pokok
Pedagang (ayam potong)27.000Untung karena beli murah
Konsumen di pasar25.000 – 27.000Masih di bawah Rp30.000, diminati

Dampak bagi Masyarakat dan Industri

Kenaikan harga daging ayam tentu berdampak pada daya beli masyarakat. Namun, karena harga masih di bawah Rp30.000 per kilogram, konsumen masih ramai membeli. “Masyarakat banyak yang membeli daging ayam potong saat harganya murah atau di bawah Rp30.000 per kilogram,” demikian pantauan RRI di beberapa pasar tradisional.

Di sisi lain, kelangsungan industri peternakan lokal terancam jika harga pakan terus meningkat tanpa diimbangi harga jual yang layak. Peternak skala kecil mungkin akan mengurangi populasi atau bahkan berhenti beternak, yang pada akhirnya bisa mengganggu pasokan ayam di masa depan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga

Beberapa faktor utama yang memengaruhi fluktuasi harga daging ayam potong di Situbondo antara lain:

  • Stok pasar: Minggu lalu stok melimpah karena banyak peternak yang panen raya, sehingga harga jatuh. Kini stok mulai menipis seiring permintaan yang stabil.
  • Biaya pakan: Harga jagung dan bungkil kedelai yang impor mengalami kenaikan, membebani biaya produksi peternak.
  • Distribusi: Pedagang lebih leluasa menentukan harga karena mereka menguasai akses ke konsumen, sementara peternak bergantung pada tengkulak.
  • Musim: Tidak ada faktor musiman signifikan, namun cuaca ekstrem dapat mempengaruhi kesehatan ayam dan biaya vaksin.

Harapan ke Depan

Peternak berharap pemerintah daerah dapat campur tangan, misalnya dengan memberikan subsidi pakan atau menstabilkan harga melalui operasi pasar. “Jika ayam hidup di tingkat peternak harganya Rp20.000 per kilogram, harga daging ayam di konsumen bisa di atas Rp30.000. Tapi peternak akan untung,” kata Fauzan.

Keseimbangan harga antara peternak, pedagang, dan konsumen menjadi kunci keberlanjutan industri perunggasan di Situbondo. Tanpa intervensi yang tepat, rantai pasok bisa terganggu dan harga kembali melonjak di masa mendatang.

Di tengah deru kenaikan harga yang membawa senyum bagi pedagang, suara peternak seperti lolong sunyi yang tak terdengar. Mereka adalah tulang punggung pasokan daging ayam di negeri ini, namun kerap terpinggirkan dalam hiruk-pikuk pasar. Semoga pemulihan harga ini tidak hanya menjadi milik para tengkulak, tetapi juga menghangatkan kembali harapan para peternak yang berjuang di tengah himpitan biaya pakan. Sebab, tanpa mereka, meja makan kita akan kehilangan salah satu lauk favorit: daging ayam yang murah dan bergizi.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *