Rupiah Kembali Tertekan ke Level Rp17.988, Konflik AS-Iran dan Inflasi AS Jadi Biang Kerok
Suara Pecari | Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan ke level Rp17.988 dalam penutupan perdagangan hari ini, berdasarkan data Bloomberg. Pelemahan sebesar 0,25 persen atau 44 poin ini melanjutkan tren negatif yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik dan tekanan inflasi global.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa sentimen pasar kembali memburuk setelah serangan baru Amerika Serikat ke Iran. Sebagai respons, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk kapal tanker dan kapal komersial. Langkah ini mengancam pasokan minyak global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS, sehingga rupiah kembali tertekan ke level Rp17.988 dalam penutupan perdagangan.
“Setelah serangan baru AS ke Iran, Iran menyatakan menutup Selat Hormuz untuk kapal tanker maupun kapal komersial,” ujar Ibrahim, Kamis (11/6/2026).
Di sisi lain, data inflasi Amerika Serikat menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) naik menjadi 4,2 persen pada Mei 2026, laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan ini didorong oleh melonjaknya biaya energi. Inflasi yang tinggi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan mungkin melanjutkan pengetatan moneter jika tekanan harga berlanjut.
“Investor sekarang menunggu data harga produsen AS yang akan dirilis Kamis waktu setempat. Data itu merupakan petunjuk terkait prospek inflasi dan jalur kebijakan Fed,” imbuh Ibrahim.
Di dalam negeri, sentimen pasar juga terpengaruh oleh proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Organisasi tersebut memprediksi defisit APBN Indonesia tahun ini akan melebar hingga menyentuh ambang batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibandingkan target awal pemerintah dalam asumsi APBN 2026 yang mematok defisit di level 2,7 persen dari PDB.
“Estimasi defisit fiskal itu lebih tinggi dibandingkan dengan target awal pemerintah,” kata Ibrahim.
OECD menyebutkan bahwa pelebaran defisit dipicu oleh tekanan harga komoditas global, terutama kenaikan harga minyak mentah yang diperkirakan akan meningkatkan defisit anggaran sebesar 0,6 persen dari PDB. Jika harga BBM bersubsidi dipertahankan, belanja subsidi BBM akan semakin memberatkan anggaran. OECD juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat ke 4,7 persen di tahun 2026, dipengaruhi oleh meningkatnya biaya energi dan tingginya ketidakpastian kebijakan yang membebani konsumsi dan investasi, di tengah pelemahan pasar tenaga kerja.
Kondisi ini membuat rupiah kembali tertekan ke level Rp17.988 dalam penutupan perdagangan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek fiskal dan ekonomi Indonesia. Para pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik Timur Tengah serta data ekonomi AS untuk menentukan langkah selanjutnya.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah menunjukkan bahwa tekanan eksternal dan internal masih kuat. Konflik AS-Iran yang memicu kenaikan harga minyak, inflasi AS yang tinggi, serta defisit fiskal yang melebar menjadi kombinasi yang berat bagi nilai tukar. Pemerintah diharapkan dapat mengelola subsidi dan menjaga stabilitas ekonomi agar rupiah tidak terus tertekan. Dengan demikian, rupiah kembali tertekan ke level Rp17.988 dalam penutupan perdagangan menjadi pengingat akan kerentanan ekonomi Indonesia terhadap guncangan global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












