Harga Pertamax Melejit, Mahasiswa Pilih Beralih ke Pertalite, Pegawai Khawatir Motor Rusak

Harga Pertamax Melejit, Mahasiswa Pilih Beralih ke Pertalite, Pegawai Khawatir Motor Rusak

Suara Pecari | Kenaikan harga Pertamax yang signifikan pada 10 Juni 2026 lalu memicu gelombang kekhawatiran di kalangan masyarakat. Harga Pertamax melejit, mahasiswa pilih beralih ke Pertalite, pegawai khawatir motor rusak karena penggunaan bahan bakar dengan oktan lebih rendah. Fenomena ini menjadi sorotan utama di berbagai kota, terutama di Jakarta dan sekitarnya.

Harga Pertamax yang naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter menciptakan selisih harga yang lebar dengan Pertalite yang tetap Rp10.000 per liter. Selisih Rp6.250 ini mendorong banyak konsumen, termasuk mahasiswa dan pekerja lapangan, untuk beralih ke Pertalite. Namun, kekhawatiran muncul terkait dampak penggunaan Pertalite pada mesin kendaraan yang dirancang untuk bahan bakar oktan lebih tinggi.

Pakar energi dari Universitas Padjajaran, Yayan Satyakti, memperkirakan sekitar 10 persen konsumen Pertamax akan beralih ke Pertalite. “Harga Pertamax melejit, mahasiswa pilih beralih ke Pertalite, pegawai khawatir motor rusak menjadi fenomena yang wajar. Namun, ketersediaan Pertalite masih memadai,” ujarnya. Pertamina Patra Niaga memastikan distribusi Pertalite berjalan normal.

Yosef Krisna (28), seorang pekerja lapangan yang setiap hari menggunakan motor dari Bogor ke Jakarta, merasakan dampak langsung. “Sebelumnya saya isi Pertamax Rp50-55 ribu per dua hari. Sekarang harus Rp65-72 ribu. Saya pikir-pikir untuk beralih ke Pertalite, tapi khawatir mesin motor saya rusak,” keluhnya. Kekhawatiran serupa juga dirasakan banyak pengguna motor matik premium yang biasa menggunakan Pertamax.

Kenaikan harga Pertamax juga memicu perpindahan dari mobil ke motor. Manager Public Relations Yamaha, Rifki Maulana, mengakui peluang perpindahan ini. “Kemungkinan itu pasti ada. Kami terus meningkatkan kualitas produk dan layanan,” katanya. Namun, bagi pengguna motor, kekhawatiran akan kerusakan mesin menjadi pertimbangan utama saat harga Pertamax melejit, mahasiswa pilih beralih ke Pertalite, pegawai khawatir motor rusak.

Dari sisi ekonomi, kenaikan ini membebani kelas menengah. Untuk pengguna mobil yang mengisi 100 liter per bulan, tambahan biaya mencapai Rp395 ribu. Sementara pengendara motor dengan 30 liter per bulan harus menambah Rp119 ribu. Kelompok rumah tangga terkaya (Desil 10) menanggung separuh beban kenaikan, mirip pajak progresif.

Pemerintah beralasan kenaikan ini untuk mengurangi beban subsidi APBN yang mencapai Rp203,7 triliun hingga Mei 2026. Namun, dampaknya tetap dirasakan rakyat kecil. “Harga Pertamax melejit, mahasiswa pilih beralih ke Pertalite, pegawai khawatir motor rusak adalah realitas yang harus dihadapi. Kami berharap ada solusi jangka panjang,” tutup Yayan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan