Harga Minyak Brent Tembus US$ 88,91 per Barel di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Suara Pecari – Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan setelah Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz hingga tuntutan mereka dipenuhi oleh Amerika Serikat (AS). Pada Selasa, 11 Agustus 2026, harga minyak Brent, acuan internasional, menembus level US$ 88,91 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup pada US$ 83,20 per barel.
Kenaikan ini dipicu oleh ketidakpastian yang meliputi kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menghubungkan produksi minyak dari Teluk Persia ke pasar global. Iran menuntut AS mencairkan dana yang dibekukan sebagai syarat pembukaan kembali jalur tersebut. Hingga saat ini, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih sangat terbatas, dengan hanya delapan kapal melintas pada hari Senin, jauh menurun dibandingkan dengan lebih dari 130 kapal sebelum serangan pada 28 Februari 2026.
Ketegangan dan Dampaknya terhadap Pasar Minyak
Ketegangan antara Iran dan AS menyebabkan sentimen pasar minyak tetap waspada. Pasar mencermati sinyal yang saling bertentangan mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan. Menteri Pertahanan Pakistan sempat menyatakan adanya kemajuan menuju kesepakatan damai, namun pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menuntut ganti rugi kepada Iran menimbulkan hambatan baru.
Penurunan pasokan minyak melalui Selat Hormuz berdampak pada ketersediaan minyak global. Menteri Energi AS menyatakan bahwa ekspor minyak melalui selat tersebut saat ini berada pada rata-rata tujuh hari sebesar 9 juta barel per hari, jauh di bawah kapasitas normal. Jika ditambah dengan ekspor melalui pipa, total aliran minyak dari kawasan Teluk mencapai sekitar 15 juta barel per hari.
Alternatif dan Strategi Negara Teluk
Negara-negara Teluk mulai menyesuaikan strategi mereka dengan ketidakpastian ini. Arab Saudi, misalnya, meningkatkan kapasitas ekspor minyak melalui jalur pipa yang melintasi daratan menuju pelabuhan di Laut Merah sebagai alternatif pengiriman. Namun, jalur ini juga menghadapi ancaman, seperti serangan dari kelompok Houthi yang didukung Iran.
Implikasi Jangka Panjang
Harga minyak yang terus naik, dengan lonjakan lebih dari 40% sepanjang tahun 2026, mencerminkan ketegangan geopolitik yang memengaruhi pasar energi global. Gangguan pasokan yang diperkirakan mencapai 600.000 barel per hari hingga akhir 2027 dapat menekan ketersediaan minyak dan mendorong harga lebih tinggi, berpotensi mendekati US$ 100 per barel.
Penurunan stok Cadangan Minyak Strategis AS ke level terendah dalam lebih dari empat dekade juga menambah tekanan pada pasar. Dalam situasi ini, perundingan antara Iran, AS, dan negara-negara terkait menjadi kunci pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz dan stabilitas pasar energi global.
Dengan situasi yang masih dinamis, pasar minyak dunia tetap mengawasi perkembangan terbaru di kawasan Selat Hormuz, yang menjadi penentu utama harga dan pasokan minyak global dalam waktu dekat.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










