BUMG Cot Darat Kembangkan Budidaya Pepaya Madu Bersama Pesantren, Hasilkan 1 Ton per Panen
Latar Belakang Kerja Sama BUMG dan Pesantren
Suara Pecari, Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) Cot Darat, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, berhasil mengembangkan budidaya pepaya madu melalui kerja sama strategis dengan Pesantren Raudhatul Jannah. Program ini memanfaatkan lahan wakaf seluas dua hektare yang sebelumnya tidak produktif. Kini, lahan tersebut mampu menghasilkan hingga satu ton pepaya madu setiap kali panen. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga menjadi motor penggerak perekonomian desa dan pesantren.
Geuchik Cot Darat, Zulkarnain, menjelaskan bahwa budidaya pepaya madu dilakukan di dua lokasi dengan total luas sekitar dua hektare. Saat ini, terdapat sekitar 2.000 pohon pepaya yang dipanen secara bertahap setiap tujuh hingga sepuluh hari. “Dalam sekali panen kami mampu menghasilkan sekitar 800 kilogram hingga satu ton pepaya madu. Produktivitas ini cukup baik dan terus meningkat seiring bertambahnya usia tanaman,” kata Zulkarnain pada Minggu, 12 Juli 2026.
Kronologi dan Pengembangan Budidaya
Kerja sama ini dimulai awal tahun 2025 ketika pengurus BUMG Cot Darat dan Pimpinan Pesantren Raudhatul Jannah, Waled Miswar, sepakat memanfaatkan lahan wakaf yang masih kosong. Awalnya, lahan tersebut direncanakan untuk pembangunan kompleks pesantren, namun karena proses pembangunan belum dimulai, keduanya sepakat menanam pepaya madu varietas California. Varietas ini dipilih karena mudah perawatan dan permintaan pasar yang tinggi.
Proses penanaman dimulai pada Maret 2025 dengan bibit dari Dinas Pertanian setempat. Dalam waktu enam bulan, pohon pepaya mulai berbuah dan panen perdana dilakukan pada September 2025. Sejak itu, produktivitas terus meningkat. Berikut adalah data perkembangan panen:
| Periode Panen | Jumlah Pohon | Hasil Panen (kg) |
|---|---|---|
| September 2025 | 1.500 | 600 |
| Desember 2025 | 1.800 | 800 |
| Maret 2026 | 2.000 | 900 |
| Juli 2026 | 2.000 | 1.000 |
Dampak Ekonomi bagi Desa dan Pesantren
Budidaya pepaya madu ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Harga jual pepaya madu saat ini sekitar Rp4.000 per kilogram. Dengan hasil panen rata-rata 800 kg hingga 1 ton per periode, pendapatan kotor BUMG Cot Darat mencapai Rp3,2 juta hingga Rp4 juta per panen. Pendapatan ini dibagi antara BUMG dan pesantren sesuai kesepakatan awal, yakni 60% untuk BUMG dan 40% untuk pesantren. Hasilnya, pesantren mendapatkan tambahan dana operasional, sementara BUMG dapat mengembangkan usaha lainnya.
Pemasaran dilakukan melalui media sosial dan platform digital seperti Facebook dan WhatsApp, sehingga menjangkau konsumen di Kecamatan Samatiga, Meulaboh, hingga pengepul di Aceh Barat. Permintaan juga datang dari Nagan Raya dan Aceh Jaya. Zulkarnain menambahkan, “Kami terus memperluas jaringan pemasaran agar hasil panen tidak menumpuk. Dengan pemasaran digital, kami bisa menjual langsung ke konsumen tanpa perantara.”
Manfaat Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat
Kerja sama ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial. Lahan wakaf yang sebelumnya terbengkalai kini produktif dan memberikan nilai tambah. Pimpinan Pesantren Raudhatul Jannah, Waled Miswar, mengatakan, “Daripada lahan wakaf dibiarkan kosong, kami berkolaborasi dengan BUMG Cot Darat untuk menanam pepaya. Hasilnya dapat memberikan manfaat ekonomi bagi pesantren sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat desa.”
Program ini juga melibatkan santri dan masyarakat sekitar dalam perawatan kebun. Mereka mendapatkan pelatihan budidaya pepaya, mulai dari penanaman, pemupukan, hingga pengendalian hama. Hal ini meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi warga. Berikut adalah poin-poin manfaat sosial yang dirasakan:
- Peningkatan keterampilan bertani bagi santri dan masyarakat.
- Terciptanya lapangan kerja sementara saat panen.
- Penguatan sinergi antara lembaga keagamaan dan pemerintah desa.
- Optimalisasi aset wakaf yang memberikan nilai tambah ekonomi.
Prospek ke Depan
Keberhasilan ini membuka peluang pengembangan lebih lanjut. BUMG Cot Darat berencana menambah luas lahan budidaya menjadi 3 hektare pada tahun depan. Selain itu, mereka juga akan menjajaki pengolahan pepaya menjadi produk olahan seperti manisan atau sirup untuk meningkatkan nilai jual. Zulkarnain optimistis, “Dengan dukungan pemerintah daerah dan pesantren, kami yakin budidaya pepaya madu bisa menjadi komoditas unggulan desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.”
Permintaan pepaya madu yang terus meningkat dari berbagai daerah di Aceh menjadi sinyal positif. Sinergi antara BUMG dan pesantren ini menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis aset wakaf yang dapat direplikasi di desa-desa lain. Dengan manajemen yang baik dan pemasaran yang tepat, budidaya pepaya madu tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan keagamaan di masyarakat.
Di tengah tantangan ekonomi global, inisiatif lokal seperti ini membuktikan bahwa kolaborasi antara lembaga agama dan pemerintah desa mampu menciptakan solusi berkelanjutan. Lahan wakaf yang tadinya tidak produktif kini menjadi sumber penghidupan, menginspirasi desa-desa lain untuk mengoptimalkan aset serupa. Semoga kerja sama ini terus berkembang dan memberikan berkah bagi seluruh pihak yang terlibat.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










