Ekonomi Lesu, Jumlah Gen Z China yang Nganggur Bertambah
Suara Pecari – Pasar tenaga kerja di China menghadapi tekanan besar dengan melonjaknya tingkat pengangguran di kalangan Generasi Z, yaitu usia 16 hingga 24 tahun, mencapai 17,9 persen pada Juli 2026. Lonjakan ini dipicu oleh masuknya jutaan lulusan universitas ke pasar kerja yang sedang lesu akibat perlambatan ekonomi nasional.
Biro Statistik Nasional China melaporkan kenaikan pengangguran sebesar 3 poin persentase dari bulan sebelumnya, yang sebelumnya sempat turun selama tiga bulan berturut-turut. Pada tahun 2026 ini, terdapat sekitar 12,7 juta lulusan baru yang memasuki pasar kerja, meningkat 4 persen dari tahun sebelumnya. Namun, kondisi ekonomi yang melambat menyebabkan banyak perusahaan melakukan penghematan dengan mengurangi karyawan dan menghentikan perekrutan baru.
Upaya Pemerintah Mengatasi Krisis Tenaga Kerja Muda
Pemerintah Beijing merespons situasi ini dengan meluncurkan kebijakan untuk mendukung penyerapan tenaga kerja muda. Subsidi diberikan kepada perusahaan yang merekrut lulusan baru, sementara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) didorong untuk membuka lebih banyak lowongan pekerjaan. Pemerintah daerah juga diminta memprioritaskan lulusan universitas untuk mengisi posisi di tingkat komunitas dan memberikan insentif kepada lembaga sosial yang aktif melakukan perekrutan.
Perubahan Strategi Karier Generasi Z
Dalam menghadapi persaingan yang ketat, banyak lulusan mulai mengubah pendekatan mereka. Sebagian memilih sektor publik yang menawarkan stabilitas, sementara yang lain melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana agar lebih kompetitif. Contohnya, Clare Wang, lulusan desain produk berusia 22 tahun, memilih melanjutkan studi S2 di luar negeri karena gelar sarjana dinilai kurang cukup untuk bersaing di perusahaan besar yang kini mensyaratkan gelar magister.
Kesulitan serupa juga dialami oleh lulusan universitas luar negeri seperti Vikey Zhao yang memiliki gelar Master dari University of Warwick, Inggris. Ia harus mengirimkan puluhan lamaran selama enam bulan sebelum diterima bekerja di sebuah BUMN, menandakan tingginya standar rekrutmen saat ini.
Dampak Ekonomi Lesu dan Tantangan Global
Kondisi pasar tenaga kerja yang sulit ini juga mencerminkan perlambatan ekonomi China secara umum. Surplus dagang yang besar dan produksi manufaktur yang melampaui permintaan global turut memengaruhi situasi ekonomi nasional. Di sisi lain, fenomena ini berdampak pada negara-negara mitra dagang China dan berpotensi menimbulkan guncangan ekonomi global.
Situasi Serupa di Indonesia
Fenomena pengangguran tinggi di kalangan Generasi Z juga terjadi di Indonesia, di mana tingkat pengangguran terbuka pada usia 15-24 tahun mencapai 17,37 persen. Banyak anak muda Indonesia menghadapi kesulitan serupa dalam memasuki dunia kerja, dengan sebagian besar terperangkap dalam status NEET (Not in Employment, Education, or Training).
Selain itu, tren global seperti kemajuan artificial intelligence (AI) turut menambah tantangan bagi Gen Z dalam mencari pekerjaan, karena AI menggantikan beberapa pekerjaan pemula. Meski demikian, sektor pertanian diprediksi akan menjadi sektor dengan potensi pertumbuhan lapangan kerja terbesar di masa depan, meskipun saat ini masih dianggap kuno oleh banyak anak muda.
Menanggapi tantangan ini, pemerintah perlu terus mengembangkan kebijakan dan program yang mendukung penyerapan tenaga kerja muda serta mendorong diversifikasi keterampilan agar Generasi Z dapat lebih siap menghadapi dinamika pasar kerja yang berubah dengan cepat.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









