Bursa Saham Timur Tengah Berjatuhan Imbas Eskalasi Baru Konflik AS-Iran

Bursa Saham Timur Tengah Berjatuhan Imbas Eskalasi Baru Konflik AS-Iran

Suara Pecari | Bursa saham Timur Tengah berjatuhan imbas eskalasi baru konflik AS-Iran pada awal pekan ini, setelah serangan rudal Iran ke Israel dan balasan Israel memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas geopolitik. Indeks-indeks utama di kawasan Asia-Pasifik dan global turut tertekan, dengan penurunan signifikan terjadi di Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, dan China. Bursa saham Timur Tengah berjatuhan imbas eskalasi baru konflik AS-Iran, memicu aksi jual massal di seluruh pasar.

Pada perdagangan Senin (8/6), indeks Kospi Korea Selatan anjlok 5,39% ke level 7.720,73, sementara Nikkei Jepang turun 3,74% ke 64.099. Indeks Shanghai Composite melemah 1,26% ke 3.976,83, dan Hang Seng Hong Kong turun 1,17% ke 24.670. Di Amerika Serikat, pada Jumat (5/6) Nasdaq Composite merosot 4,18% menjadi 25.709,43, penurunan harian terbesar sejak April 2025. S&P 500 turun 2,64% ke 7.383,74, dan Dow Jones kehilangan 695 poin (1,35%) ke 50.866,78.

Eskalasi dimulai setelah Israel melancarkan serangan ke Beirut pada Minggu (7/6), yang dibalas Iran dengan rentetan rudal ke target di Israel. Ketegangan ini mengancam upaya gencatan senjata yang tengah dijajaki AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan menggagalkan negosiasi damai, namun pasar tetap skeptis. Bursa saham Timur Tengah berjatuhan imbas eskalasi baru konflik AS-Iran, menambah ketidakpastian global.

IHSG di Bursa Efek Indonesia juga tertekan, dibuka melemah ke level 5.486 dan sempat anjlok 4,39% ke 5.349 pada pukul 09.10 WIB, sebelum pulih ke 5.445 pada siang hari. Tekanan jual dipicu oleh kekhawatiran capital outflow dan pelemahan rupiah. Analis Pilarmas Investindo Sekuritas mencatat bahwa ketidakpastian negosiasi gencatan senjata AS-Iran yang rapuh menjadi sentimen utama.

Selain faktor geopolitik, pasar juga dihadapkan pada data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan pada Mei, yang meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Hal ini memperkuat kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi imbas konflik. Harga minyak ikut naik menyusul eskalasi, menambah beban bagi perekonomian global.

Bursa saham Timur Tengah berjatuhan imbas eskalasi baru konflik AS-Iran, dengan investor beralih ke aset safe haven seperti emas dan obligasi pemerintah. Kondisi ini menunjukkan bahwa kerentanan pasar terhadap risiko geopolitik masih tinggi, dan pemulihan bergantung pada keberhasilan diplomasi antara Washington dan Teheran.

Secara keseluruhan, konflik AS-Iran yang memanas kembali telah mengguncang pasar keuangan global. Investor kini menanti perkembangan negosiasi damai serta data inflasi AS pekan ini untuk menentukan arah selanjutnya. Jika ketegangan mereda, pemulihan bisa terjadi, namun risiko eskalasi lebih lanjut tetap membayangi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan