Krisis Selat Hormuz Mereda: Israel Desak Jaminan Keamanan di Tengah Negosiasi AS-Iran

Krisis Selat Hormuz Mereda: Israel Desak Jaminan Keamanan di Tengah Negosiasi AS-Iran

Suara Pecari | Israel terus menyuarakan kekhawatirannya terkait perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang saat ini memasuki babak baru. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir selama ia masih menjabat. Pernyataan ini muncul di tengah laporan bahwa Washington dan Teheran tengah menyelesaikan nota kesepahaman yang bertujuan meredakan ketegangan di kawasan, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama berbulan-bulan diblokade oleh Amerika Serikat.

Menurut laporan dari berbagai sumber, Komando Pusat AS (CENTCOM) telah mengerahkan 136 kapal dan menonaktifkan sembilan kapal lainnya untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade Selat Hormuz. Langkah ini merupakan bagian dari tekanan maksimum terhadap Iran. Namun, Presiden Donald Trump tiba-tiba membatalkan rencana serangan terbaru dan mengklaim bahwa kesepakatan besar akan segera tercapai. Klaim ini disambut skeptis oleh Iran, yang melalui media resmi IRNA menyatakan bahwa belum ada keputusan final dan negosiasi nuklir akan berlangsung dalam periode 60 hari setelah penandatanganan nota kesepahaman.

Israel, yang selama ini menjadi salah satu lawan utama Iran di kawasan, memandang setiap konsesi terhadap program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial. Netanyahu menegaskan bahwa ia dan Trump memiliki pandangan yang sama dalam mencegah Iran memperoleh senjata atom. Ia juga mengklaim bahwa upaya selama tiga dekade telah berhasil menghambat ambisi nuklir Iran. Namun, pernyataan Trump yang menuduh Iran ‘tidak terhormat’ karena membocorkan isi perundingan menambah ketidakpastian. Trump menulis di media sosialnya bahwa isi perjanjian yang bocor tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati secara tertulis, menunjukkan bahwa negosiasi masih rapuh.

Di sisi lain, Iran melalui Laksamana Muda Habibollah Sayyari menegaskan bahwa tidak ada kapal yang bisa memasuki Selat Hormuz tanpa izin Iran. Ia juga mengungkapkan bahwa 104 personel angkatan laut Iran tewas dalam serangan AS di dekat pantai Sri Lanka, dan 20 jenazah masih hilang. Iran bersumpah akan membalas dendam. Sementara itu, harga minyak dunia turun hampir tiga persen setelah Trump membatalkan serangan, mencapai level terendah dalam dua bulan terakhir. Brent futures turun ke 88,11 dolar AS per barel.

Ketegangan ini juga berdampak pada isu kemanusiaan. Blokade Selat Hormuz telah memicu kenaikan harga bahan bakar global dan kekhawatiran akan kelaparan di beberapa wilayah. Masyarakat internasional menanti kepastian apakah kesepakatan akan benar-benar ditandatangani. Israel, yang secara konsisten menentang program nuklir Iran, tetap waspada dan mendesak agar setiap kesepakatan mencakup jaminan keamanan yang ketat. Netanyahu menegaskan bahwa Iran berusaha menghancurkan Israel, dan ia berkomitmen untuk mencegah hal itu.

Sementara itu, dalam konteks yang lebih luas, hubungan Israel-Palestina juga kembali menjadi sorotan. Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, mengeluhkan penolakan visa AS untuk menghadiri Piala Dunia 2026. Ia saat ini menunggu di Mexico City untuk mendapatkan izin masuk ke AS. Kasus ini menunjukkan ketegangan diplomatik yang masih berlangsung, di mana AS memberlakukan pembatasan ketat terhadap pemegang paspor Palestina. Israel, sebagai sekutu utama AS di kawasan, sering kali menjadi pusat perdebatan dalam kebijakan luar negeri Washington.

Dalam perkembangan terpisah, pelajaran dari sejarah juga relevan. Kisah Korach dalam tradisi Yahudi, yang memberontak terhadap kepemimpinan Musa, mengingatkan bahwa perselisihan yang tidak didasari ketulusan hanya akan membawa kehancuran. Israel, yang sering menghadapi kritik dan tekanan internasional, tetap teguh pada prinsip keamanannya. Negosiasi saat ini antara AS dan Iran menjadi ujian bagi stabilitas kawasan, dan Israel akan terus memantau setiap langkah yang diambil.

Kesimpulannya, meskipun ada tanda-tanda meredanya ketegangan di Selat Hormuz, Israel tetap menjadi aktor kunci yang menentukan arah negosiasi. Dengan sikap tegas Netanyahu terhadap program nuklir Iran, dan ketidakpastian di pihak AS, masa depan kesepakatan masih belum jelas. Masyarakat internasional berharap agar dialog dapat menghasilkan solusi damai yang menguntungkan semua pihak, tanpa mengorbankan keamanan Israel dan stabilitas kawasan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan