Dokter Manfaatkan Media Sosial untuk Lawan Hoaks Imunisasi dan Anak Zero Dose

Dokter Manfaatkan Media Sosial untuk Lawan Hoaks Imunisasi dan Anak Zero Dose

Suara Pecari | Di Banda Aceh, dokter anak Aslinar mengajak para tenaga kesehatan untuk memanfaatkan media sosial sebagai alat edukasi mengenai imunisasi. Dalam acara media briefing bertajuk ‘Mengejar Anak Zero Dose’, Aslinar menekankan pentingnya menyebarkan informasi yang benar untuk mengatasi kekhawatiran masyarakat tentang vaksinasi.

Aslinar menyatakan bahwa banyak informasi keliru beredar di masyarakat, termasuk anggapan bahwa vaksin dapat menyebabkan autisme atau berbahaya bagi anak. Ia juga mencatat adanya anggapan bahwa imunisasi merupakan konspirasi asing, yang membuat sebagian orang tua enggan memvaksin anak mereka.

“Kita bisa menggunakan media sosial untuk menanggapi mitos-mitos tersebut dan memberikan edukasi yang tepat,” ujarnya. Ia mengungkapkan bahwa ia rutin mengadakan sesi tanya jawab di Instagram untuk menjawab pertanyaan dari masyarakat terkait imunisasi anak.

Baca juga:

Rendahnya cakupan imunisasi di kalangan anak-anak berpotensi memudahkan penularan penyakit, seperti campak, yang dapat menular ke 12 hingga 18 orang lainnya. Aslinar menekankan bahwa banyak pasien anak yang dirawat di rumah sakit akibat kondisi komplikasi serius, dan sebagian besar dari mereka belum mendapatkan imunisasi yang lengkap.

Baca juga:

“Sebagian besar pasien yang kami temui di rumah sakit adalah mereka yang tidak diimunisasi,” tambahnya. Ia mengungkapkan bahwa kasus campak, pertusis, tuberkulosis, dan radang paru-paru masih sering ditemukan di rumah sakit, dan banyak di antaranya berasal dari anak-anak yang belum diimunisasi.

Baca juga:

Ferdiyus, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, juga menjelaskan bahwa penolakan imunisasi masih sering terjadi akibat pengaruh informasi negatif di media sosial. Ia mencatat bahwa masyarakat kini lebih cenderung mempercayai informasi yang beredar di media sosial dibanding penjelasan langsung dari tenaga kesehatan.

Baca juga:

“Informasi di media sosial lebih dipercaya ketimbang penjelasan dari orang tua atau petugas kesehatan,” ungkap Ferdiyus. Ia menargetkan agar capaian imunisasi tahunan di Aceh mencapai minimal 95 persen dengan dukungan dari tenaga kesehatan di puskesmas.

Baca juga:

Provinsi Aceh memiliki sekitar 37 ribu tenaga kesehatan yang tersebar di 366 puskesmas untuk mendukung program imunisasi. Dengan upaya ini, diharapkan angka imunisasi anak dapat meningkat dan melindungi anak-anak dari penyakit berbahaya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan