Konten TikTok Pencari Rongsokan yang Turut Terdampak Kebakaran TPA Jatiwaringin

Konten TikTok Pencari Rongsokan yang Turut Terdampak Kebakaran TPA Jatiwaringin

Kebakaran TPA Jatiwaringin: Pencari Rongsokan Kehilangan Nafkah

Suara Pecari, Kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin di Kabupaten Tangerang sejak Selasa, 30 Juni 2026, hingga kini belum sepenuhnya padam. Lebih dari sekadar bencana lingkungan, peristiwa ini telah memutus mata pencaharian puluhan bahkan ratusan pencari rongsokan yang menggantungkan hidup dari sampah di TPA tersebut. Salah satu korban yang paling merasakan dampaknya adalah Enjah (60), seorang nenek yang setiap hari mengais rezeki di tumpukan sampah bersama anaknya.

Kisah Enjah: Tangisan di Tengah Asap

Enjah, warga Kampung Pulo Pelawan, Kecamatan Mauk, telah bertahun-tahun menjadi pemulung di TPA Jatiwaringin. Setiap pagi, ia berangkat dengan harapan bisa membawa pulang uang Rp100 ribu per hari dari menjual barang bekas seperti botol plastik, kardus, dan logam. Uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta merawat suaminya yang sedang sakit. Namun, sejak api melalap tumpukan sampah, Enjah tak bisa lagi mendekati area TPA. Asap tebal membuat matanya perih dan sulit bernapas. Dalam wawancara dengan kumparan, suaranya bergetar hingga menangis saat menceritakan kondisi keluarganya. “Yang penting bukan hanya apinya padam, tapi saya bisa kerja lagi,” ujarnya lirih.

Kondisi Terkini TPA Jatiwaringin

TPA Jatiwaringin memiliki luas sekitar 31 hektare dan dirancang sebagai pusat pengolahan sampah menjadi energi untuk kawasan Tangerang Raya. Kebakaran diduga dipicu oleh cuaca panas ekstrem yang melanda Banten beberapa pekan terakhir. Hingga hari keempat, api masih sulit dipadamkan meskipun berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari mobil damkar hingga helikopter water bombing. Kendala utama adalah embusan angin yang memperluas area kebakaran serta api yang masih membara di bawah timbunan sampah.

AspekDetail
Luas TPA31 hektare
Penyebab DugaanCuaca panas
Upaya PemadamanDamkar, heli water bombing, personel KLH, TMC (terkendala awan)
KendalaAngin, api bawah tanah

Dampak terhadap Pencari Rongsokan

Selain Enjah, Misar (62) juga merasakan dampak langsung. Warga yang tinggal sekitar 500 meter dari TPA ini sehari-hari mengumpulkan barang bekas. Kini aktivitas terhenti total karena truk sampah tidak lagi diizinkan masuk. Misar mengaku khawatir tanah di TPA bisa amblas akibat kebakaran, sehingga ia enggan mendekat. “Belum bisa kerja, takut tanahnya ambles,” katanya. Para pemulung lain pun bernasib sama: kehilangan pendapatan harian yang menjadi tumpuan hidup.

Kronologi Kebakaran

  • Selasa, 30 Juni 2026: Api pertama kali muncul di area TPA Jatiwaringin. Diduga akibat cuaca panas.
  • Rabu, 1 Juli 2026: Kebakaran meluas. Damkar dari Kabupaten Tangerang dikerahkan, namun terkendala angin.
  • Kamis, 2 Juli 2026: Helikopter water bombing mulai beroperasi. KLH mengirimkan puluhan personel. Kualitas udara di sekitar TPA dinyatakan sangat tidak sehat.
  • Jumat, 3 Juli 2026: Api masih membara di bawah timbunan. BNPB menyiapkan TMC, namun belum bisa diterapkan karena kurangnya awan.

Dampak Lingkungan dan Sosial

Kebakaran TPA tidak hanya merugikan pemulung. Kualitas udara di permukiman sekitar, seperti Kampung Jonggol yang berjarak 1 km, terganggu. Duda (49), warga setempat, mengatakan asap tebal kadang masuk ke rumah dan membuat anak-anak sesak napas. Kementerian Lingkungan Hidup mengimbau warga menggunakan masker dan menghindari area kebakaran. Dari sisi sosial, hilangnya pendapatan pemulung memicu kekhawatiran akan meningkatnya kemiskinan di wilayah tersebut. Pemerintah daerah belum mengumumkan bantuan langsung bagi para pencari rongsokan.

Upaya Pemadaman dan Respons Pemerintah

Pemkab Tangerang telah meminta bantuan armada damkar tambahan dari Pemkot Tangerang untuk menjangkau lebih banyak titik api. Gubernur Banten, Andra Soni, meminta seluruh bupati dan wali kota waspada terhadap potensi kebakaran TPA di wilayah masing-masing, terutama di tengah cuaca panas. BNPB juga menyiagakan teknologi modifikasi cuaca, namun pelaksanaannya masih menunggu kondisi awan yang memadai. Sementara itu, api di bawah permukaan sampah masih menjadi tantangan utama karena sulit dijangkau.

Harapan di Tengah Kepungan Asap

Di tengah segala keterbatasan, Enjah dan rekan-rekannya hanya bisa berharap agar api segera padam dan TPA kembali beroperasi. Bagi mereka, TPA bukan sekadar tempat pembuangan sampah, melainkan ladang kehidupan. “Kalau TPA pulih, saya bisa cari rongsokan lagi. Anak saya juga bisa sekolah,” kata Enjah sambil menyeka air mata. Kebakaran ini menjadi pengingat bahwa di balik tumpukan sampah, ada ribuan kisah perjuangan yang rentan tersapu bencana.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *