Ancaman Radikalisme pada Anak di Era Digital: Densus 88 Serukan Pencegahan Sejak Dini
Suara Pecari, Palembang – Anak dan remaja menjadi kelompok yang rentan terpapar paham radikalisme di era digital. Penyebaran kini tidak lagi dilakukan secara tatap muka, tetapi melalui media sosial dan game daring. Tim Pencegahan Satgaswil Sumatera Selatan Densus 88 AT Polri mengingatkan bahwa pencegahan sejak dini perlu dilakukan oleh keluarga, sekolah, dan masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar anak tidak mudah terpengaruh paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.
Kerentanan Anak di Era Digital
Menurut Putra Yesa, anggota Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel Densus 88, anak-anak menjadi sasaran empuk penyebaran paham radikal karena sedang dalam masa pencarian jati diri. Mereka mudah dipengaruhi lingkungan, terutama saat menghadapi tekanan seperti bullying atau kurangnya perhatian keluarga. Penggunaan media sosial tanpa pendampingan semakin meningkatkan kerentanan tersebut. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa 79% anak Indonesia memiliki akses internet pribadi, namun hanya 30% yang mendapat pendampingan orang tua saat berselancar di dunia maya.
Konsep IRET sebagai Langkah Awal
Putra memperkenalkan konsep IRET – singkatan dari Intoleransi, Radikal, Ekstrem, dan Terorisme – sebagai peta jalan paham yang bisa menjerat anak-anak. Menurutnya, intoleransi merupakan pintu masuk utama. “Kalau ada anak yang mulai menunjukkan sikap intoleran, jangan dianggap sepele. Itu bisa menjadi cikal bakal berkembangnya paham radikal,” ujarnya dalam Program Moderasi Beragama PRO 1 RRI Palembang, Selasa, 14 Juli 2026. Sikap saling menghargai perbedaan perlu ditanamkan sejak usia dini agar anak tidak mudah terpapar.
Metode ABA: Awasi, Batasi, Ajari
Untuk membantu orang tua, Densus 88 merekomendasikan metode ABA: Awasi, Batasi, dan Ajari. Berikut rinciannya dalam tabel:
| Langkah | Penerapan | Manfaat |
|---|---|---|
| Awasi | Pantau aktivitas digital anak, termasuk media sosial dan game online | Mendeteksi konten mencurigakan sejak dini |
| Batasi | Tetapkan waktu layar dan batasi akses ke situs/game tertentu | Mengurangi paparan konten berbahaya |
| Ajari | Berikan pemahaman tentang nilai kebangsaan, toleransi, dan bahaya radikalisme | Membangun benteng mental anak |
Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak menjadi kunci utama. Putra menekankan bahwa tanpa komunikasi, metode ABA tidak akan efektif.
Peran Sekolah dan Masyarakat
Sekolah juga memiliki peran krusial. Guru harus mampu mendeteksi perubahan sikap siswa yang mengarah pada intoleransi. Program moderasi beragama perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum. Masyarakat diimbau untuk tidak ragu melaporkan indikasi penyebaran paham radikal kepada pihak berwenang. “Upaya pencegahan lebih efektif dibandingkan menunggu munculnya tindakan yang membahayakan,” tegas Putra.
Dampak dan Implikasi
Jika pencegahan tidak dilakukan, dampaknya bisa sangat serius. Anak yang terpapar radikalisme berpotensi menjadi pelaku intoleransi, bahkan terorisme di kemudian hari. Hal ini tidak hanya mengancam keamanan nasional, tetapi juga merusak kohesi sosial. Pemerintah perlu menggencarkan literasi digital dan program deradikalisasi berbasis komunitas. Densus 88 berharap kerja sama semua pihak dapat menekan angka kerentanan anak terhadap paham radikal.
Langkah Praktis bagi Orang Tua
Berikut beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan orang tua:
- Aktif mendampingi anak saat menggunakan internet, bukan sekadar mengawasi dari jauh.
- Mengenali platform digital yang sering digunakan anak dan potensi ancamannya.
- Membangun obrolan ringan tentang apa yang mereka lihat di media sosial.
- Memberikan contoh sikap toleran dalam kehidupan sehari-hari.
- Jika menemukan konten mencurigakan, segera laporkan ke patrolisiber.id atau Densus 88 terdekat.
Dengan pendekatan holistik, ancaman radikalisme pada anak dapat diredam. Seperti kata Putra, “Benteng terkuat adalah keluarga yang hangat dan komunikatif.”
Di tengah derasnya arus informasi digital, orang tua tidak boleh lengah. Setiap like, share, dan komentar bisa menjadi jembatan menuju paham yang merusak. Momen sekarang adalah waktu yang tepat untuk bertindak, sebelum generasi muda kehilangan arah kebangsaan. Mari bersama lindungi anak-anak Indonesia dari jerat radikalisme.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










