Puncak Kemarau Datang, BMKG Ingatkan Risiko Karhutla Meningkat

Puncak Kemarau Datang, BMKG Ingatkan Risiko Karhutla Meningkat

Suara Pecari, Palembang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring dimulainya puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya Sumatera Selatan. Puncak kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September 2026, dengan kondisi yang lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat fenomena El Nino yang mulai terbentuk di Samudra Pasifik. Peringatan ini disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan, Wandayantolis, dalam Dialog Palembang Menyapa Pro 1 RRI Palembang, Senin, 20 Juli 2026.

Peningkatan Hari Tanpa Hujan dan Kekeringan

Menurut Wandayantolis, sekitar 85 persen wilayah Sumatera Selatan telah memasuki musim kemarau sejak Juni 2026, bahkan beberapa daerah mengalaminya lebih awal sejak akhir Mei. Curah hujan selama Juni hingga awal Juli 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan kondisi normal. Akibatnya, sejumlah wilayah mulai mengalami hari tanpa hujan dengan durasi yang semakin panjang. Data BMKG menunjukkan bahwa beberapa kecamatan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Banyuasin, dan Musi Banyuasin telah memasuki kategori ‘sangat kering’ dengan periode tanpa hujan lebih dari 60 hari.

WilayahPeriode Tanpa Hujan (hari)Status Kekeringan
Ogan Komering Ilir62Sangat Kering
Banyuasin58Kering
Musi Banyuasin55Kering

Faktor Pemicu: El Nino dan Kerentanan Lahan Gambut

Fenomena El Nino yang mulai terbentuk di Samudra Pasifik turut andil dalam memperparah musim kemarau tahun ini. “El Nino menyebabkan pergeseran pola cuaca yang membuat musim kemarau berpotensi lebih panjang dan lebih kering dari biasanya,” ujar Wandayantolis. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena Sumatera Selatan memiliki lahan gambut yang luas, terutama di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, dan Banyuasin. Lahan gambut yang mengering rentan terbakar dan sulit dipadamkan karena api dapat menjalar di bawah permukaan. Data dari Badan Restorasi Gambut (BRG) menunjukkan bahwa sekitar 1,2 juta hektar lahan gambut di Sumatera Selatan masuk dalam kategori rawan karhutla pada musim kemarau panjang.

Dampak Karhutla: Kesehatan, Ekonomi, dan Lingkungan

Karhutla bukan hanya merusak ekosistem, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan perekonomian. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan dapat menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan memperburuk kondisi penderita asma. Pada tahun 2015, bencana asap akibat karhutla di Sumatera dan Kalimantan menyebabkan kerugian ekonomi mencapai Rp 221 triliun, menurut Bank Dunia. Selain itu, aktivitas penerbangan dan transportasi darat kerap terganggu akibat jarak pandang yang menurun.

Dampak Kesehatan

  • Peningkatan kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)
  • Gangguan penglihatan akibat iritasi asap
  • Risiko penyakit jantung dan paru-paru bagi kelompok rentan

Dampak Ekonomi

  • Kerugian sektor pertanian dan perkebunan akibat lahan terbakar
  • Gangguan transportasi udara dan darat
  • Penurunan produktivitas kerja akibat kabut asap

Upaya Mitigasi dan Imbauan BMKG

BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan meningkatkan kewaspadaan. Wandayantolis menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk melakukan patroli dan sosialisasi pencegahan karhutla. Masyarakat diimbau untuk:

  1. Tidak membuka lahan dengan cara membakar – baik untuk pertanian maupun perkebunan.
  2. Menghindari membakar sampah di area yang rawan api, terutama di lahan gambut.
  3. Menghemat penggunaan air bersih sebagai antisipasi kekeringan.
  4. Memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG (situs web, aplikasi mobile, media sosial).
  5. Melaporkan setiap titik api atau asap ke petugas terdekat atau call center BPBD.

Menurut catatan sejarah, karhutla di Indonesia seringkali mencapai puncaknya pada saat El Nino moderat hingga kuat. Tahun 1997-1998, 2006, 2015, dan 2019 menjadi tahun-tahun dengan kebakaran hebat yang melumpuhkan aktivitas di Sumatera dan Kalimantan. Dengan prediksi El Nino tahun ini yang bersifat lemah hingga moderat, BMKG mengingatkan bahwa meskipun tidak seekstrem sebelumnya, risiko tetap signifikan jika kewaspadaan diabaikan.

Penutup: Di tengah teriknya sinar matahari dan retakan tanah yang semakin lebar, peringatan BMKG bukanlah sekadar kabar rutin. Ia adalah alarm yang mengajak kita semua untuk bergerak bersama – dari petani yang menahan diri untuk tidak membakar lahan, hingga pemerintah yang menyiagakan personel dan peralatan pemadam. Karhutla bukan bencana yang tak terhindarkan; ia adalah hasil dari kelalaian dan ketidakpedulian. Dengan langkah preventif yang terpadu dan sinergi semua pihak, diharapkan Sumatera Selatan serta wilayah-wilayah rawan lainnya dapat melewati musim kemarau ini tanpa asap yang menyelimuti harapan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *