BMKG Hari Ini: El Niño Berlanjut, Waspada Gelombang Tinggi dan Karhutla
Suara Pecari, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan sejumlah peringatan penting pada hari ini, Kamis (30/7/2026). Fenomena El Niño yang telah berlangsung sejak tahun lalu diprediksi akan berlanjut hingga awal 2027, memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Hingga 29 Juli 2026, BMKG mencatat lebih dari 5.000 titik panas di Indonesia. Provinsi Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau menjadi daerah dengan konsentrasi hotspot tertinggi. Kepala BMKG menyatakan bahwa risiko karhutla diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026, terutama di Sumatra dan Kalimantan.
Prakiraan Cuaca dan Gelombang Tinggi
Meskipun sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, BMKG memperingatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang secara lokal pada Jumat (31/7/2026). Daerah yang perlu waspada meliputi bagian barat Indonesia seperti Aceh, Sumatera Utara, dan sebagian Kalimantan.
Sementara itu, tinggi gelombang laut perlu diwaspadai oleh nelayan dan operator kapal. Di Selat Bali, gelombang diprediksi mencapai 1,2 hingga 2 meter, dengan risiko tertinggi di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. BMKG juga mengeluarkan peringatan gelombang setinggi 1,25-2,5 meter di perairan selatan DIY (Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul) dan 2,5-4 meter di Samudra Hindia selatan DIY untuk periode 30 Juli hingga 2 Agustus 2026.
Dampak El Niño dan Imbauan BMKG
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kondisi El Niño saat ini termasuk dalam kategori kuat dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Lebih dari 70 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan curah hujan rendah mendominasi hampir 93 persen wilayah.
BMKG mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi karhutla, terutama di daerah yang memiliki banyak hotspot. Pemantauan intensif diperlukan untuk mencegah meluasnya kebakaran. Nelayan dan pelaku pelayaran diminta memantau informasi cuaca maritim secara berkala dan tidak memaksakan diri melaut saat gelombang tinggi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










