Lebih Kuat dari 2015, El Nino 2026 Bisa Ciptakan Kekeringan Panjang
Suara Pecari – Fenomena El Nino pada tahun 2026 diprediksi memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan dengan El Nino pada 2015, yang sebelumnya tercatat sebagai salah satu periode dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tinggi. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), indeks Nino 3.4 saat ini mencapai +2,19, menunjukkan suhu muka laut di Samudra Pasifik lebih hangat dari kondisi normal yang berpotensi menurunkan curah hujan di Indonesia.
Ancaman El Nino ini diperkuat oleh prediksi kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang akan memasuki fase positif pada September hingga November 2026, yang juga turut mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia. Fenomena ini menyebabkan musim kemarau pada 2026 diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dari biasanya, dengan BMKG memperkirakan musim kemarau akan berlangsung hingga November 2026, lebih lama dari tanggal normal yang biasanya berakhir pada Oktober.
Potensi Kekeringan dan Kebakaran Hutan
Kondisi cuaca panas dan kering akibat El Nino yang datang lebih awal meningkatkan risiko terjadinya kekeringan yang berkepanjangan dan kebakaran hutan serta lahan. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyatakan bahwa pemerintah terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan BMKG untuk mengantisipasi dampak tersebut. Pada pertengahan Agustus 2026, asap kebakaran terdeteksi di beberapa wilayah seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan.
Selain itu, BMKG telah menetapkan status awas kekeringan untuk 66 kabupaten yang sebagian besar berada di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Sebanyak 132 kabupaten lainnya berstatus siaga kekeringan. Dampak dari kekeringan ini telah dirasakan oleh ratusan ribu jiwa, terutama di wilayah Jawa, seperti Kabupaten Bogor dan Blora yang masing-masing terdampak hampir 100 ribu dan 250 ribu jiwa. Pemerintah melakukan berbagai langkah mitigasi, termasuk distribusi air bersih dan operasi modifikasi cuaca untuk mengupayakan hujan buatan.
Konteks dan Dampak Global
Fenomena El Nino dengan kekuatan super ini tidak hanya berdampak pada Indonesia. Pusat Iklim Nasional China memperingatkan potensi terbentuknya Super El Nino yang diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah pencatatan iklim global. Di beberapa kawasan China, fenomena ini telah menyebabkan curah hujan tinggi yang berujung pada bencana banjir dan aktivitas angin topan yang kuat, termasuk Topan Dolphin yang menjadi topan terkuat pada tahun ini.
El Nino terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik yang jauh melebihi kondisi normal. Pemanasan ini mengubah pola cuaca secara global, menyebabkan cuaca panas dan kering di beberapa wilayah, termasuk Indonesia, serta hujan ekstrem dan badai di wilayah lain.
Imbauan dan Upaya Pencegahan
Menteri Kehutanan mengimbau masyarakat dan korporasi untuk tidak membakar lahan dalam kondisi cuaca yang sangat kering dan panas guna mencegah kebakaran hutan yang dapat menimbulkan asap berbahaya. Ia juga mengingatkan agar waspada terhadap sumber api sekecil apa pun, termasuk puntung rokok yang dibuang sembarangan. Pemerintah terus melakukan pemantauan dan koordinasi untuk mengantisipasi berbagai dampak negatif dari fenomena El Nino yang sedang berlangsung.
Dengan kondisi El Nino yang lebih kuat dan musim kemarau yang lebih panjang, kesadaran dan tindakan preventif dari seluruh lapisan masyarakat menjadi sangat penting untuk mengurangi risiko kekeringan dan kebakaran hutan yang dapat berdampak luas bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










