Di Balik Ramainya Kuliner Malang, Ada Kisah Perjuangan Merangkai Masa Depan

Di Balik Ramainya Kuliner Malang, Ada Kisah Perjuangan Merangkai Masa Depan

Suara Pecari | LAMPU-LAMPU kios mulai menyala ketika malam turun di Jalan Dewandaru, Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Kawasan yang berada di sekitar kampus Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang ini berubah menjadi lautan manusia setiap malam. Sekitar pukul 19.00 WIB, mahasiswa, pelajar, hingga pekerja memenuhi deretan stan kuliner yang berjajar di sepanjang jalan. Aneka makanan dan minuman dijajakan dengan harga terjangkau, menjadikan kawasan ini salah satu destinasi kuliner favorit di Kota Malang.

Di antara ramainya pengunjung, tampak seorang remaja sibuk melayani pembeli di sebuah stan Thai tea sederhana. Namanya Soni, 16 tahun, pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) yang sehari-hari membagi waktunya antara belajar dan bekerja. Sejak dua bulan terakhir, Soni bekerja di stan minuman tersebut setelah pulang sekolah. Setiap hari ia mulai berjualan pukul 14.00 WIB hingga sekitar pukul 20.00 WIB. Dengan omzet harian mencapai sekitar Rp300 ribu, Soni tidak hanya mendapatkan penghasilan tambahan, tetapi juga pengalaman berharga yang tidak ia peroleh di bangku sekolah.

Fenomena Pelajar Bekerja di Malang

Kisah Soni bukanlah kasus yang terisolasi. Di kawasan Dewandaru dan sejumlah titik kuliner lainnya di Malang, banyak pelajar yang turut serta dalam ekonomi informal. Menurut data Dinas Pendidikan Kota Malang tahun 2025, sekitar 15% siswa SMK di Malang bekerja paruh waktu di sektor informal, terutama kuliner dan ritel. Fenomena ini didorong oleh berbagai faktor, mulai dari kebutuhan ekonomi keluarga, keinginan mandiri, hingga upaya mendapatkan pengalaman kerja sejak dini.

Lokasi KulinerEstimasi Jumlah Pelajar BekerjaJenis Usaha Dominan
Jalan Dewandaru50-70Minuman, Makanan Ringan
Jalan Soekarno-Hatta30-40Bakso, Sate
Kawasan Kayutangan20-30Kopi, Camilan Kekinian

Para pelajar ini umumnya bekerja setelah jam sekolah, mulai pukul 14.00 hingga 21.00. Jam kerja yang panjang tentu menimbulkan kekhawatiran akan dampak terhadap prestasi akademik dan kesehatan. Namun, bagi Soni, bekerja justru memberikan pelajaran berharga tentang manajemen waktu dan tanggung jawab.

Thai Tea: Strategi Diferensiasi di Tengah Persaingan Ketat

Di kawasan Dewandaru, persaingan usaha minuman terbilang cukup ketat. Berbagai pedagang teh tradisional, es teh, dan minuman kekinian telah lebih dulu memenuhi area yang menjadi tempat berkumpul mahasiswa itu. Melihat kondisi tersebut, pemilik usaha tempat Soni bekerja memilih menjual Thai tea sebagai pembeda. Minuman bercita rasa khas Thailand itu dianggap mampu menawarkan pilihan baru di tengah banyaknya penjual teh yang sudah ada.

Strategi ini terbukti berhasil. Stan Thai tea yang dikelola Soni ramai dikunjungi pembeli, terutama mahasiswa yang mencari minuman unik dengan harga terjangkau. Dalam sehari, Soni bisa melayani hingga 100 gelas, dengan harga jual Rp5.000 hingga Rp10.000 per gelas. Omzet harian sekitar Rp300 ribu memberikan keuntungan bersih sekitar Rp100 ribu setelah dikurangi biaya bahan baku dan sewa tempat.

Perjalanan Pendidikan Soni: Antara Keinginan Ibu dan Cita-cita Sendiri

Soni saat ini menempuh pendidikan di salah satu SMK Negeri di Malang jurusan perhotelan. Pilihan itu sebenarnya bukan cita-cita awalnya karena ia lebih tertarik pada bidang teknologi dan komputer. Namun, keinginan sang ibu membuatnya mengambil jurusan perhotelan. Seiring waktu, ia mulai menikmati pilihan tersebut dan berusaha menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

“Tapi karena diminta Ibu maka saya ikuti dan menikmati. Tidak terasa sekarang tinggal satu tahun lagi lulus,” ujarnya saat ditemui, Senin, 15 Juni 2026, malam. Bekerja sebagai penjual minuman tidak membuat Soni merasa rendah diri. Ia justru bangga karena dapat memperoleh pengalaman kerja sejak usia muda sekaligus menambah keterampilan berinteraksi dengan pelanggan. “Ada beberapa teman sekolah saya juga bekerja seperti ini. Selama halal dan memberikan pengalaman, saya tidak malu,” katanya sambil tersenyum.

Menurut Soni, bekerja mengajarkannya banyak hal yang tidak diperoleh di ruang kelas. Mulai dari melayani pelanggan, mengatur waktu, hingga belajar menghadapi berbagai karakter orang setiap hari. Keterampilan ini sangat relevan dengan jurusannya di perhotelan, di mana pelayanan prima dan komunikasi efektif menjadi kunci sukses.

Dampak Bekerja bagi Pelajar: Antara Peluang dan Risiko

Fenomena pelajar bekerja seperti yang dilakukan Soni memiliki dampak ganda. Di satu sisi, bekerja memberikan pengalaman praktis, kemandirian finansial, dan soft skill yang dibutuhkan di dunia kerja. Namun di sisi lain, bekerja juga berpotensi mengganggu waktu belajar, istirahat, dan aktivitas sosial remaja.

  • Dampak Positif: Meningkatkan keterampilan interpersonal, manajemen waktu, dan tanggung jawab. Memberikan penghasilan tambahan untuk keluarga atau tabungan masa depan. Membangun jaringan relasi sejak dini.
  • Dampak Negatif: Kelelahan fisik dan mental, penurunan prestasi akademik, berkurangnya waktu untuk kegiatan ekstrakurikuler, dan risiko eksploitasi jika tidak diawasi.

Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Ketenagakerjaan telah mengeluarkan imbauan agar pelajar yang bekerja tetap memprioritaskan pendidikan. Namun, belum ada regulasi khusus yang mengatur jam kerja pelajar. Sementara itu, sekolah-sekolah di Malang mulai mengintegrasikan program magang atau praktik kerja lapangan (PKL) sebagai bagian dari kurikulum, sehingga pengalaman kerja dapat diakui secara formal.

Mimpi Soni: Bali sebagai Pintu Gerbang Karier

Meski dunia perhotelan dan pariwisata di Malang tidak terlalu ramai menurut pengamatannya, Soni tetap optimistis masa depannya berada di sektor tersebut. Setelah lulus nanti, Soni berharap bisa memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahliannya. Bahkan, ia telah menyimpan satu impian yang ingin diwujudkan. Bali menjadi tujuan yang paling ingin ia datangi untuk memulai karier di industri perhotelan.

“Mungkin saya akan ke Bali. Kebetulan di sana ada kolega yang bekerja di perhotelan,” ujarnya. Bali, sebagai destinasi wisata utama Indonesia, menawarkan banyak peluang di industri perhotelan. Dengan pengalaman kerja yang ia dapatkan di stan Thai tea, Soni merasa lebih siap bersaing di pasar kerja. Ia juga berencana mengambil kursus singkat bahasa Inggris dan pelayanan hotel untuk meningkatkan kompetensinya.

Kesimpulan Naratif: Di Balik Segelas Thai Tea

Di tengah hiruk-pikuk kawasan kuliner Dewandaru, Soni terus meracik minuman untuk para pelanggan yang datang silih berganti. Di balik segelas Thai tea yang dijualnya setiap hari, tersimpan mimpi seorang remaja yang sedang menyiapkan masa depan dengan caranya sendiri. Kisah Soni adalah cerminan dari banyak remaja Indonesia yang harus berjuang di antara tuntutan sekolah dan kebutuhan ekonomi. Namun, dengan semangat dan kerja keras, mereka membuktikan bahwa masa depan bisa diraih dari langkah-langkah kecil, dimulai dari sebuah stan sederhana di pinggir jalan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan