Sekolah Rakyat Merauke: Harapan Baru untuk Anak-Anak Papua Selatan
Suara Pecari | Semangat Hari Kebangkitan Nasional terasa di Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke, yang menjadi simbol harapan bagi anak-anak yang putus sekolah di Papua Selatan. Kepala Sekolah, Budi Sutomo, menyatakan bahwa peringatan Harkitnas kali ini diisi dengan upacara dan pembelajaran, sejalan dengan tema kebangkitan nasional yang relevan dengan kondisi siswa di sekolah rakyat.
Budi menjelaskan, banyak siswa di sekolah ini adalah anak-anak yang sebelumnya dianggap ‘invisible children’ karena terpaksa putus sekolah akibat masalah ekonomi keluarga. Beberapa di antaranya berasal dari daerah terpencil tanpa akses pendidikan lanjutan. “Anak-anak kami merupakan invisible children yang pernah putus sekolah karena faktor ekonomi keluarga. Sebagian siswa berasal dari kampung tanpa akses pendidikan lanjutan,” ujarnya dalam wawancara.
Sekolah Rakyat hadir untuk memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pendidikan yang layak. Banyak dari mereka masih memerlukan penguatan literasi dasar bahkan pada usia yang seharusnya sudah menguasai kemampuan membaca. “Pekerjaan kami sangat berat karena masih ada siswa seusia SMP belum bisa membaca. Namun kami tetap optimistis membangun masa depan anak-anak kampung terpencil,” tambah Budi.
Program Sekolah Rakyat juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk memiliki mimpi besar tentang masa depan mereka. Diharapkan, dukungan dari pemerintah dapat berlanjut hingga tingkat perguruan tinggi. Budi menekankan pentingnya mewujudkan mimpi tersebut, dengan harapan bahwa siswa dari sekolah rakyat dapat menjadi pemimpin masa depan Indonesia.
Di tengah tantangan yang ada, termasuk penolakan terhadap program strategis nasional di Merauke, respons masyarakat terhadap keberadaan Sekolah Rakyat sangat positif. Warga setempat menunjukkan minat yang tinggi untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah ini. Budi menuturkan, “Banyak warga ingin langsung mendaftarkan anak mereka menjadi siswa sekolah rakyat.”
Harapan terbesar dari sekolah ini adalah melahirkan generasi yang mampu melanjutkan pendidikan tinggi dan berkontribusi dalam pembangunan daerah, serta memutus rantai kemiskinan. “Jika satu kampung memiliki satu lulusan sukses, itu sudah menjadi kebanggaan besar. Kami berharap semangat belajar siswa terus tumbuh melalui pendidikan,” ungkap Budi.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, juga menjelaskan bahwa program Sekolah Rakyat bertujuan untuk menjangkau wilayah-wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar di Indonesia. Pendidikan gratis ini sudah hadir di berbagai daerah, termasuk dari Sabang hingga Merauke. Saat ini, terdapat 166 titik Sekolah Rakyat yang telah beroperasi sejak pertengahan 2025, tersebar di berbagai wilayah seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Natuna, dan Kepulauan Anambas.
Yusuf menegaskan bahwa keberadaan Sekolah Rakyat diharapkan bebas dari praktik korupsi dan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dengan adanya program ini, diharapkan anak-anak di daerah terpencil mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan yang berkualitas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












