UIN Raden Intan Lampung Perkuat Tata Kelola Inklusif dan Responsif Gender Raih Peringkat Pratama PTRG Award 2025
Suara Pecari, Bandarlampung – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) kembali menegaskan komitmennya dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang inklusif, ramah, dan responsif gender. Komitmen ini dibuktikan melalui raihan Peringkat Pratama dalam ajang Implementasi Perguruan Tinggi Responsif Gender (PTRG) Award 2025 yang digelar oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN RIL, Yunidar Cut Mutia Yanti, dalam acara Konsolidasi Nasional PSGA PTKI se-Indonesia di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, pada 30 Juni hingga 3 Juli 2026.
Lonjakan Skor Signifikan
Pada tahun 2025, UIN RIL berhasil mengumpulkan skor 740, meningkat drastis dibandingkan skor 645 pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini menempatkan UIN RIL sebagai salah satu dari 15 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang meraih Peringkat Pratama dari total 44 PTKI yang berpartisipasi dalam seleksi. Proses penilaian yang ketat meliputi verifikasi administrasi, evaluasi dokumen, serta presentasi praktik baik di hadapan tim asesor. Penghargaan PTRG dibagi dalam tiga kategori, yaitu Utama, Madya, dan Pratama, dengan Pratama merupakan kategori tertinggi untuk PTKI yang baru memulai atau menguatkan implementasi responsif gender.
Yunidar Cut Mutia Yanti menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas capaian ini. “Alhamdulillah, capaian ini menjadi bentuk apresiasi dan motivasi bagi kami untuk terus memperkuat program-program PSGA, memperluas kolaborasi, dan memastikan nilai-nilai keadilan gender terintegrasi dalam kebijakan maupun budaya akademik di UIN RIL,” ujarnya, Senin, 6 Juli 2026. Ia menambahkan bahwa penghargaan ini merupakan hasil kerja bersama seluruh sivitas akademika dalam memperkuat implementasi kampus yang responsif gender.
Upaya Sistematis PSGA UIN RIL
PSGA UIN RIL telah menjalankan berbagai program strategis untuk mewujudkan lingkungan kampus yang bebas dari segala bentuk kekerasan berbasis gender. Beberapa inisiatif utama meliputi:
- Penguatan Kebijakan Kampus: Mendorong integrasi perspektif gender dalam setiap regulasi internal, mulai dari kode etik, sistem penerimaan mahasiswa, hingga kebijakan pengembangan dosen dan tenaga kependidikan.
- Pembentukan Unit Layanan Terpadu: Menyediakan layanan pengaduan, pendampingan, dan rehabilitasi bagi korban kekerasan seksual dan diskriminasi gender.
- Edukasi Publik dan Kampanye: Menggelar seminar, workshop, dan sosialisasi tentang kesetaraan gender, pencegahan kekerasan seksual, serta pentingnya kampus ramah disabilitas.
- Penelitian dan Pengembangan Kurikulum: Mendorong riset-riset yang responsif gender dan mengintegrasikan materi keadilan gender ke dalam mata kuliah, khususnya pada program studi keagamaan.
- Pengabdian kepada Masyarakat: Melibatkan mahasiswa dan dosen dalam program pemberdayaan perempuan dan kelompok rentan di sekitar kampus.
Yunidar menekankan bahwa capaian ini juga menjadi dorongan untuk terus mengembangkan praktik-praktik baik dalam pencegahan dan penanganan kekerasan, penguatan kelembagaan, serta pengarusutamaan gender di lingkungan perguruan tinggi.
Konsolidasi Nasional PSGA: Forum Strategis Penguatan Ekosistem Adil Gender
Konsolidasi Nasional PSGA PTKI se-Indonesia yang berlangsung di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon mengusung tema “Meneguhkan Spirit Keulamaan Perempuan dalam Transformasi Ekosistem PTKI yang Adil Gender dan Nir Kekerasan.” Forum ini menjadi ajang strategis bagi para pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem pendidikan tinggi keagamaan yang inklusif, ramah anak, dan bebas kekerasan. Kegiatan ini digelar di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender di lingkungan pendidikan, sehingga diperlukan penguatan implementasi regulasi secara berkelanjutan.
Selama lebih dari satu dekade, PSGA di berbagai PTKI telah berperan vital dalam mempromosikan keadilan gender, perlindungan perempuan dan anak, pengembangan kajian keilmuan yang responsif gender, serta pembentukan sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Berbagai praktik baik telah dikembangkan melalui penguatan kebijakan kampus, pembentukan unit layanan, pendidikan publik, pendampingan korban, penelitian, pengembangan kurikulum, hingga pengabdian kepada masyarakat.
Isu Strategis yang Dibahas
Forum konsolidasi nasional tersebut membahas sejumlah isu strategis, antara lain:
| Isu Strategis | Fokus Bahasan |
|---|---|
| Tren Kekerasan Seksual di PT | Analisis data kasus, pola kekerasan, dan faktor penyebab |
| Implementasi Regulasi PPKS | Penerapan Permendikbudristek PPKS di lingkungan PTKI |
| Penguatan Kelembagaan PSGA | Struktur organisasi, SDM, dan pembiayaan program |
| Integrasi Program PSGA | Penyelarasan dengan rencana strategis dan anggaran PT |
| Kampus Ramah Disabilitas dan Rentan | Aksesibilitas fisik, akademik, dan sosial bagi kelompok rentan |
Rangkaian Kegiatan dan Partisipasi
Konsolidasi Nasional ini dirangkaikan dengan beberapa agenda penting, yaitu:
- Musyawarah Nasional PSGA Ke-4, untuk menyusun program kerja dan kepengurusan periode mendatang.
- Perumusan Deklarasi dan Rekomendasi Nasional, sebagai panduan kebijakan PSGA di seluruh PTKI.
- Refleksi dan Berbagi Praktik Baik PTRG Ke-3, di mana UIN RIL turut mempresentasikan pengalaman suksesnya.
- Konferensi Internasional Ke-4, menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri untuk membahas isu gender dan kekerasan.
- Napak Tilas Ulama Perempuan di Cirebon, sebagai penguatan spirit keulamaan perempuan dalam sejarah.
Forum ini dihadiri oleh pengurus PSGA PTKI se-Indonesia, pimpinan perguruan tinggi keagamaan, akademisi, peneliti, aktivis perempuan, anak dan disabilitas, organisasi masyarakat sipil, mitra pembangunan, mahasiswa, serta kelompok muda. Kehadiran beragam pihak ini menunjukkan komitmen kolektif untuk mewujudkan ekosistem pendidikan yang adil gender dan nir kekerasan.
Dampak dan Implikasi
Pencapaian UIN RIL dalam PTRG Award 2025 membawa dampak positif bagi kampus dan masyarakat luas. Pertama, pengakuan ini meningkatkan reputasi UIN RIL sebagai institusi yang peduli terhadap kesetaraan gender dan perlindungan kelompok rentan. Kedua, capaian ini mendorong PTKI lain untuk mengadopsi praktik serupa, sehingga mempercepat transformasi ekosistem pendidikan keagamaan secara nasional. Ketiga, bagi mahasiswa dan dosen, adanya kebijakan responsif gender menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, dan inklusif, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas akademik dan kesejahteraan psikososial. Keempat, penguatan PSGA juga berdampak pada masyarakat sekitar melalui program pengabdian yang memberdayakan perempuan dan anak.
Penghargaan ini menjadi bukti bahwa komitmen terhadap keadilan gender bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang terukur. UIN RIL, melalui PSGA, terus berupaya mewujudkan kampus yang ramah bagi semua, tanpa diskriminasi.
Di tengah tantangan kekerasan berbasis gender yang masih marak di lingkungan pendidikan, langkah UIN RIL menjadi secercah harapan. Dengan skor 740 yang melonjak signifikan, UIN RIL membuktikan bahwa transformasi menuju kampus inklusif dan responsif gender bukanlah hal mustahil. Perjalanan masih panjang, namun semangat kolektif sivitas akademika UIN RIL menjadi fondasi kuat untuk terus melangkah. Semoga capaian ini menginspirasi lebih banyak perguruan tinggi untuk berani berubah, demi masa depan pendidikan yang adil dan bermartabat.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.







