Mahasiswa KKN UGM Dorong Pelestarian Lingkungan di Bantan Air
Suara Pecari, Bengkalis – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan masyarakat dan menjaga lingkungan. Kali ini, mereka hadir di Desa Bantan Air, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, dengan membawa sederet program inovatif yang berfokus pada pelestarian lingkungan, edukasi kesehatan, dan peningkatan kesadaran warga akan pentingnya kualitas hidup berkelanjutan. Hal ini terungkap dalam program Obrolan Komunitas di RRI Bengkalis, Kamis (9 Juli 2026), yang menghadirkan Muhammad Hakil Azzam, Koordinator Mahasiswa Sub-Unit Bantan Air 2, serta Hannani Iffah Sabrina, Koordinator Mahasiswa Kluster Medika.
Latar Belakang dan Tujuan Program
Desa Bantan Air merupakan salah satu wilayah pesisir di Bengkalis yang menghadapi tantangan lingkungan seperti degradasi lahan, pencemaran sampah, dan ancaman abrasi. Melalui KKN ini, mahasiswa UGM berupaya memberikan solusi nyata dengan pendekatan partisipatif. Muhammad Hakil Azzam menjelaskan bahwa program dirancang tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga berkelanjutan agar dapat diadopsi oleh masyarakat setelah masa KKN berakhir. “Kami ingin kegiatan ini menjadi kebiasaan positif yang terus berlanjut,” ujarnya.
Program Unggulan: Pengolahan Kompos dan Penanaman Petai
Salah satu program andalan mahasiswa adalah pembuatan alat pengolahan kompos dari limbah organik rumah tangga. Alat ini dirancang sederhana agar mudah ditiru warga. Kompos yang dihasilkan akan digunakan untuk mendukung program penanaman pohon, terutama petai (Parkia speciosa). Menurut Hakil, petai dipilih karena merupakan spesies pionir yang mampu tumbuh di lahan dengan unsur hara rendah. “Petai bisa bertahan di kondisi kritis, sehingga cocok untuk rehabilitasi lahan di sini,” katanya. Penanaman petai diharapkan tidak hanya memperbaiki kualitas tanah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga karena buahnya bernilai jual.
Rehabilitasi Pesisir dengan Mangrove
Selain penanaman petai di daratan, mahasiswa juga mempersiapkan rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove. Sebanyak 150 bibit mangrove telah dikoordinasikan dengan penyedia bibit setempat. Namun, sebelum penanaman, tim akan melakukan survei kondisi pesisir terlebih dahulu. “Kawasan pesisir Bantan Air memiliki ombak yang cukup kuat, sehingga kita harus menentukan titik tanam yang tepat agar bibit tidak hanyut,” jelas Hakil. Program ini penting untuk mencegah abrasi dan menjaga ekosistem pesisir yang menjadi habitat berbagai biota laut.
Edukasi Kesehatan dan Pengelolaan Sampah
Hannani Iffah Sabrina, dari Kluster Medika, menambahkan bahwa kesehatan dan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Mahasiswa mengadakan edukasi pengelolaan sampah, aksi bersih pantai, pemberdayaan kader posyandu, serta edukasi kesehatan gigi di sekolah-sekolah. “Kami mengajarkan anak-anak cara menyikat gigi yang benar, dan juga melatih kader posyandu agar lebih optimal dalam melayani masyarakat,” ujarnya. Edukasi pengelolaan sampah menjadi krusial karena masih banyak limbah plastik berserakan di pantai yang dapat mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan.
Rangkaian Program KKN UGM di Bantan Air
| No | Program | Tujuan | Target |
|---|---|---|---|
| 1 | Pembuatan alat kompos | Mengolah limbah organik menjadi pupuk | Rumah tangga di Bantan Air |
| 2 | Penanaman petai | Rehabilitasi lahan kritis & ekonomi warga | Lahan tidur di desa |
| 3 | Penanaman mangrove | Cegah abrasi & jaga ekosistem pesisir | Kawasan pesisir (150 bibit) |
| 4 | Edukasi pengelolaan sampah | Kurangi limbah plastik | Masyarakat & anak sekolah |
| 5 | Aksi bersih pantai | Bersihkan sampah di pesisir | Pantai Bantan Air |
| 6 | Pemberdayaan kader posyandu | Optimalisasi layanan kesehatan | Kader posyandu desa |
| 7 | Edukasi kesehatan gigi | Tingkatkan kebersihan gigi anak | Siswa SD/MI |
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat
Program-program ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang bagi Desa Bantan Air. Dari sisi lingkungan, pengolahan kompos dan penanaman pohon dapat memperbaiki kualitas tanah dan mencegah erosi. Penanaman mangrove juga akan melindungi pesisir dari abrasi yang kian mengancam. Dari sisi ekonomi, petai dan mangrove dapat menjadi sumber pendapatan baru. Sementara itu, edukasi kesehatan dan pengelolaan sampah akan meningkatkan kualitas hidup warga. Kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan. “Kami berharap masyarakat bisa melanjutkan program ini setelah kami pulang,” kata Hakil.
Kronologi Pelaksanaan Program
- Juli 2026: Mahasiswa tiba di Bantan Air dan melakukan survei awal.
- 9 Juli 2026: Sosialisasi program melalui Obrolan Komunitas RRI Bengkalis.
- 10-20 Juli 2026: Pembuatan alat kompos dan pengumpulan limbah organik.
- 21-30 Juli 2026: Penanaman petai dan survei lokasi mangrove.
- Agustus 2026: Penanaman mangrove, aksi bersih pantai, dan edukasi kesehatan.
Dengan pendekatan holistik yang mengintegrasikan lingkungan, kesehatan, dan ekonomi, mahasiswa KKN UGM di Bantan Air membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bisa menjadi katalis perubahan. Semoga semangat ini terus menyala dan menginspirasi desa-desa lain di Indonesia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










