SDN 5 Pohsanten Hanya Terima Dua Siswa Baru: Fenomena Sepi Peminat di Sekolah Dasar Jembrana

SDN 5 Pohsanten Hanya Terima Dua Siswa Baru: Fenomena Sepi Peminat di Sekolah Dasar Jembrana

Suara Pecari, Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di Kabupaten Jembrana mencatat fenomena unik sekaligus memprihatinkan. SD Negeri 5 Pohsanten, yang berlokasi di Banjar Pasatan, Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, hanya menerima dua peserta didik baru. Angka ini menjadi salah satu yang terendah di antara 21 sekolah dasar di Jembrana yang menerima kurang dari sepuluh siswa baru. Bahkan, satu sekolah dilaporkan tidak mendapatkan peserta didik sama sekali. Kondisi ini memicu pertanyaan serius tentang keberlanjutan sekolah-sekolah kecil di daerah pedesaan.

Kronologi Penerimaan Siswa Baru SDN 5 Pohsanten

Guru SDN 5 Pohsanten, Gusti Agung Alit Ariastika, mengungkapkan bahwa hingga menjelang hari pertama MPLS, belum ada satu pun calon siswa yang mendaftar. Baru pada hari Senin, 13 Juli 2026, dua siswa laki-laki datang bersama orang tuanya untuk mengikuti MPLS sekaligus melengkapi administrasi pendaftaran. “Awalnya belum ada pendaftar. Pada hari pertama MPLS akhirnya ada dua siswa yang datang dan resmi menjadi peserta didik baru di sekolah kami,” ucapnya.

Jumlah ini menurun drastis dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang masih menerima delapan siswa baru. Total peserta didik di SDN 5 Pohsanten saat ini tercatat sebanyak 49 siswa, dengan rincian:

KelasJumlah Siswa
I2
II8
III4
IV10
V12
VI13

Faktor Utama: Penurunan Jumlah Penduduk Usia Sekolah

Menurut Alit, faktor utama sepinya peminat adalah menurunnya jumlah anak usia sekolah di wilayah tersebut. Banyak warga yang merantau ke kota besar atau luar daerah, sehingga jumlah keluarga dengan anak usia sekolah ikut berkurang. “Faktor utamanya karena jumlah penduduk usia sekolah di wilayah ini semakin sedikit. Banyak warga yang merantau sehingga jumlah keluarga dengan anak usia sekolah juga ikut berkurang,” katanya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di SDN 5 Pohsanten, tetapi juga di beberapa sekolah dasar lain di Jembrana.

Kepala Bidang Pembinaan SD Disdikpora Jembrana, I Nyoman Koriawan, membenarkan bahwa secara umum pelaksanaan penerimaan peserta didik baru jenjang SD berjalan lancar. Namun, kondisi demografi di beberapa wilayah menyebabkan jumlah siswa baru tidak merata. Ia mencatat ada 21 sekolah dasar yang menerima kurang dari 10 siswa baru, dan satu sekolah tidak mendapat siswa sama sekali.

Upaya Sekolah dan Pemerintah Daerah

SDN 5 Pohsanten telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat masyarakat, seperti sosialisasi kepada warga dan mengajak orang tua yang memiliki anak usia sekolah agar mendaftarkan putra-putrinya. Namun, hasilnya belum optimal. Pemerintah daerah melalui Disdikpora Jembrana tengah mengevaluasi kemungkinan regrouping atau penggabungan sekolah. “SDN 5 Pohsanten akan kami evaluasi terlebih dahulu. Apabila memenuhi kriteria regrouping, seperti jumlah siswa yang terus menurun selama beberapa tahun dan diperkirakan tidak bertambah, tentu akan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Koriawan.

Regrouping sekolah dasar bukanlah hal baru di Indonesia. Beberapa daerah telah menerapkannya untuk efisiensi sumber daya dan peningkatan kualitas pendidikan. Namun, kebijakan ini kerap menuai pro dan kontra, terutama dari masyarakat yang merasa sekolahnya adalah identitas desa.

Dampak dan Implikasi

Fenomena sepinya peminat di SDN 5 Pohsanten membawa sejumlah dampak:

  • Bagi Sekolah: Dengan jumlah siswa yang sedikit, sekolah menghadapi tantangan dalam hal pembiayaan operasional, alokasi guru, dan kelangsungan kegiatan belajar mengajar. Rasio guru-siswa menjadi tidak efisien.
  • Bagi Masyarakat: Orang tua khawatir jika sekolah ditutup atau digabung, anak-anak harus menempuh jarak lebih jauh ke sekolah lain. Hal ini bisa menjadi beban tambahan, terutama bagi keluarga kurang mampu.
  • Bagi Pemerintah: Pemerintah daerah harus mengambil keputusan sulit antara mempertahankan sekolah-sekolah kecil atau melakukan regrouping. Keputusan ini memerlukan kajian mendalam tentang dampak sosial, ekonomi, dan pendidikan.

Di sisi lain, penurunan jumlah anak usia sekolah juga mencerminkan perubahan demografi yang lebih luas di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Urbanisasi dan rendahnya angka kelahiran di beberapa wilayah menjadi faktor struktural yang perlu diatasi dengan kebijakan kependudukan dan pembangunan daerah.

Perspektif Lebih Luas: Sekolah Dasar di Daerah Terpencil

Kasus SDN 5 Pohsanten bukanlah satu-satunya. Di berbagai daerah di Indonesia, sekolah dasar di pedesaan menghadapi masalah serupa. Minimnya akses transportasi, keterbatasan fasilitas, dan kurangnya guru berkualitas sering kali menjadi alasan orang tua memilih menyekolahkan anaknya di kota. Namun, sekolah-sekolah kecil ini juga memiliki peran penting sebagai pusat kegiatan masyarakat desa. Kehilangan sekolah bisa berarti hilangnya salah satu pilar komunitas.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah meluncurkan program seperti Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah tertinggal. Namun, implementasinya masih menghadapi banyak kendala, termasuk distribusi guru dan anggaran.

Penutup

Dua siswa baru yang mengikuti MPLS di SDN 5 Pohsanten mungkin hanya setitik di lautan, tetapi mereka adalah simbol dari tantangan besar yang dihadapi pendidikan dasar di Indonesia. Di balik angka-angka statistik, ada cerita tentang perjuangan sekolah untuk bertahan, kekhawatiran orang tua, dan dilema pemerintah. Keputusan tentang nasib sekolah-sekolah kecil seperti SDN 5 Pohsanten tidak bisa diambil dengan tergesa-gesa. Perlu keseimbangan antara efisiensi anggaran dan hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang dekat dengan tempat tinggalnya. Semoga, dengan evaluasi yang cermat, solusi terbaik dapat ditemukan demi masa depan pendidikan anak-anak Indonesia.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *