Novaloka Fokus Bangun Karakter dan Kurangi Ketergantungan Gawai Anak

Novaloka Fokus Bangun Karakter dan Kurangi Ketergantungan Gawai Anak

Suara Pecari, Malang — Rumah Belajar Novaloka tidak hanya mengajarkan pelajaran sekolah kepada anak-anak prasejahtera, tetapi juga membangun karakter sebagai bekal kehidupan mereka di masa depan. Founder Novaloka, Andri Sulistiyono, menegaskan bahwa pendidikan karakter menjadi prioritas utama dibandingkan pencapaian akademik. “Yang kami utamakan itu akhlak, perilaku yang baik, menghargai sesama teman, mengurangi bullying, membatasi bermain gadget, dan menumbuhkan rasa empati karena saya melihat anak-anak sekarang mulai krisis empati,” ujarnya dalam Dialog Interaktif Sore Ceria Pro 2 RRI Malang, Senin (13/7/2026).

Latar Belakang Berdirinya Novaloka

Novaloka didirikan pada tahun 2023 oleh Andri Sulistiyono, seorang pendidik yang prihatin dengan kondisi anak-anak prasejahtera di Kota Malang. Awalnya, Novaloka hanya berupa bimbingan belajar gratis yang berfokus pada matematika dan bahasa Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, Andri menyadari bahwa masalah terbesar yang dihadapi anak-anak bukanlah kesulitan akademik, melainkan krisis karakter dan ketergantungan pada gawai. “Banyak anak yang lebih sering bermain game online daripada belajar. Mereka kurang memiliki empati, mudah marah, dan sulit bersosialisasi,” ungkap Andri. Hal ini mendorongnya untuk merombak kurikulum Novaloka secara total.

Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun 2025, penggunaan gawai pada anak usia 6-12 tahun di Indonesia mencapai 89%, dengan rata-rata waktu layar 5-7 jam per hari. Angka ini jauh di atas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyarankan maksimal 2 jam per hari untuk anak usia sekolah. Dampak negatifnya meliputi gangguan konsentrasi, obesitas, hingga penurunan kemampuan interaksi sosial. Novaloka hadir sebagai salah satu solusi alternatif untuk mengatasi masalah ini.

Program Unggulan Novaloka

Pendidikan Karakter sebagai Fondasi

Program utama Novaloka adalah pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap kegiatan belajar. Anak-anak diajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian melalui permainan, diskusi, dan proyek kelompok. “Kami tidak hanya bicara teori, tapi langsung praktik. Misalnya, saat jam istirahat mereka harus berbagi makanan, atau saat ada teman yang jatuh mereka harus menolong,” jelas Andri.

Pembatasan Penggunaan Gawai

Salah satu kebijakan paling tegas di Novaloka adalah larangan membawa gawai selama kegiatan belajar. Anak-anak diharuskan menitipkan ponsel mereka di loker khusus yang disediakan. Sebagai gantinya, Novaloka menyediakan buku bacaan, mainan edukatif, dan permainan tradisional seperti ular tangga raksasa dan congklak. “Awalnya anak-anak protes, tapi setelah beberapa minggu mereka malah lebih senang bermain bersama teman-temannya. Mereka jadi lebih aktif dan ceria,” kata Andri.

Orang tua juga dilibatkan dalam program ini melalui seminar parenting yang diadakan sebulan sekali. Mereka diajarkan cara mengontrol penggunaan gawai di rumah, seperti menetapkan jadwal screen time, menyediakan alternatif kegiatan outdoor, dan menjadi teladan dalam penggunaan gawai.

Pendekatan Belajar yang Menyenangkan

Novaloka mendesain program yang berbeda dengan sekolah formal agar anak-anak merasa senang belajar. “Kalau isinya hanya matematika terus, mereka pasti bosan,” ujar Andri. Oleh karena itu, setiap sesi belajar dikemas dalam bentuk permainan, eksperimen sains sederhana, atau proyek seni. Misalnya, untuk mengajarkan konsep pecahan, anak-anak diajak membuat pizza kardus yang dipotong-potong. Untuk belajar geografi, mereka bermain puzzle peta dunia.

Metode ini terbukti efektif. Berdasarkan evaluasi internal Novaloka, tingkat kehadiran anak-anak mencapai 95% per sesi, dan 80% di antaranya menunjukkan peningkatan nilai akademik dalam 3 bulan terakhir.

Dampak dan Implikasi

Perubahan Perilaku Anak

Perubahan perilaku anak mulai terlihat setelah rutin mengikuti kegiatan belajar di Novaloka. Andri mengungkapkan banyak orang tua memberikan umpan balik positif terhadap perkembangan anak-anak mereka. “Banyak orang tua bilang anaknya sudah mulai mengurangi bermain gadget, bicaranya yang dulu kotor sekarang berkurang, bahkan anak yang awalnya pendiam sekarang lebih aktif,” katanya.

Berikut adalah data perubahan perilaku anak berdasarkan laporan orang tua selama 6 bulan terakhir:

IndikatorSebelum NovalokaSesudah Novaloka (6 bulan)
Rata-rata waktu gawai per hari5-6 jam1-2 jam
Frekuensi berkata kasarSetiap hari1-2 kali/minggu
Keaktifan dalam diskusiPasifAktif
Empati terhadap temanRendahTinggi

Implikasi bagi Pendidikan di Indonesia

Keberhasilan Novaloka memberikan gambaran bahwa pendidikan karakter dan pembatasan gawai dapat dilakukan secara efektif di luar sekolah formal. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan lembaga pendidikan untuk mengintegrasikan program serupa ke dalam kurikulum nasional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencanangkan program “Sekolah Ramah Anak” yang salah satu indikatornya adalah pengurangan penggunaan gawai. Namun, implementasinya masih terbatas. Novaloka bisa menjadi model percontohan bagi sekolah-sekolah lain, terutama di daerah perkotaan yang tingkat ketergantungan gawainya tinggi.

Di sisi lain, program ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Tidak semua sekolah memiliki dana untuk menyediakan loker gawai atau mainan edukatif. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari pemerintah dan swasta dalam bentuk donasi atau subsidi.

Kronologi Perkembangan Novaloka

  • 2023: Novaloka didirikan sebagai bimbingan belajar gratis di Malang dengan 10 anak binaan.
  • 2024: Jumlah anak binaan meningkat menjadi 50 anak. Andri mulai merancang program pendidikan karakter.
  • 2025: Novaloka resmi menerapkan larangan gawai dan memperkenalkan metode belajar berbasis permainan. Jumlah anak mencapai 100 orang.
  • 2026 (Juli): Novaloka diundang dalam Dialog Interaktif RRI Malang untuk berbagi pengalaman. Program mulai dilirik oleh beberapa sekolah di Jawa Timur.

Ke depannya, Novaloka berencana membuka cabang di kota-kota lain seperti Surabaya dan Yogyakarta. Andri juga tengah menjalin kerja sama dengan Universitas Brawijaya untuk melakukan penelitian tentang efektivitas program ini terhadap perkembangan kognitif dan sosial anak.

Penutup

Di tengah derasnya arus digitalisasi yang tak terbendung, Novaloka hadir sebagai oase yang mengingatkan kita bahwa sentuhan manusiawi, permainan tradisional, dan interaksi langsung tetap tak tergantikan. Andri dan timnya tidak hanya mengajar, tetapi juga menanamkan benih karakter yang kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berempati. Bukan sekadar mengurangi ketergantungan pada gawai, Novaloka mengajak anak-anak untuk kembali menemukan keajaiban dunia nyata — di mana tawa, pelukan, dan kebersamaan adalah layar yang sesungguhnya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *