Literasi Tak Hanya Soal Nilai Sekolah: Membangun Budaya Baca dan Tulis Sejak Dini

Literasi Tak Hanya Soal Nilai Sekolah: Membangun Budaya Baca dan Tulis Sejak Dini

Suara Pecari, Surabaya – Membaca dan menulis pada anak masih kerap dipandang sebatas bagian dari kegiatan belajar di sekolah. Padahal, literasi dapat dibangun melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan sehingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Pandangan sempit ini justru menjadi salah satu penghambat utama tumbuhnya budaya literasi di Indonesia. Co-founder sekaligus pengajar Klub Literasi Anak, Nabila Budayana, menegaskan bahwa masih banyak masyarakat yang memaknai membaca dan menulis hanya sebagai tugas akademik. Akibatnya, anak kurang memperoleh pengalaman literasi yang dekat dengan minat dan kesehariannya.

Menggeser Paradigma Literasi

Dalam praktiknya, membaca dan menulis tidak harus selalu berkaitan dengan pelajaran di sekolah. Anak bisa membaca buku yang mereka sukai, menulis buku harian, membuat cerita pendek, atau menuliskan pengalaman sehari-hari. Dari situ mereka belajar mengamati, menganalisis, dan memahami berbagai peristiwa di sekitarnya,” kata Nabila dalam Dialog Aspirasi Pro 1 RRI Surabaya, Sabtu 11 Juli 2026. Menurutnya, kebiasaan tersebut membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memahami lingkungan sosial, sekaligus mengekspresikan gagasan secara lebih baik. Literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara efektif.

Data BPS: Tantangan Literasi di Keluarga

Pandangan Nabila sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam Statistik Pendidikan 2024, BPS mencatat hanya sekitar 17,21 persen anak usia dini yang dibacakan buku cerita atau dongeng oleh orang tua atau wali. Sementara itu, anak yang belajar atau membaca buku bersama orang tua baru mencapai sekitar 11,12 persen. Kondisi ini menunjukkan pembiasaan literasi di lingkungan keluarga masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.

IndikatorPersentase
Anak usia dini dibacakan buku cerita/dongeng oleh orang tua/wali17,21%
Anak belajar/membaca buku bersama orang tua11,12%

Angka-angka tersebut menjadi cerminan bahwa sebagian besar anak Indonesia belum mendapatkan pendampingan literasi yang memadai di rumah. Padahal, keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan kebiasaan literasi. Tanpa keterlibatan orang tua, upaya sekolah dan komunitas menjadi kurang optimal.

Peran Orang Tua sebagai Teladan

Nabila mengajak orang tua untuk menjadi teladan dengan membiasakan membaca dan menulis bersama anak sejak dini. Kebiasaan sederhana, seperti membaca buku favorit atau mengajak anak menuliskan pengalaman sehari-hari, diyakini mampu menumbuhkan kecintaan terhadap literasi hingga dewasa. “Mulailah dari hal yang disukai anak. Ketika mereka merasa membaca dan menulis itu menyenangkan, kebiasaan tersebut akan tumbuh dengan sendirinya dan menjadi bekal yang bermanfaat bagi kehidupan mereka di masa depan,” tuturnya.

Tips Membangun Kebiasaan Literasi di Rumah

  • Sediakan waktu khusus setiap hari untuk membaca bersama anak, misalnya 15-20 menit sebelum tidur.
  • Biarkan anak memilih buku atau cerita yang sesuai minatnya, tidak harus buku pelajaran.
  • Ajak anak menulis jurnal harian atau cerita pendek tentang pengalamannya.
  • Jadilah teladan dengan menunjukkan kebiasaan membaca dan menulis di depan anak.
  • Kunjungi perpustakaan atau taman bacaan secara rutin untuk memperluas akses bacaan.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat

Rendahnya budaya literasi memiliki dampak luas, tidak hanya pada prestasi akademik tetapi juga pada kemampuan berpikir kritis, partisipasi sosial, dan daya saing bangsa. Anak-anak yang terbiasa membaca dan menulis sejak dini cenderung memiliki kosakata lebih kaya, pemahaman yang lebih baik terhadap lingkungan, serta kemampuan menyampaikan ide secara efektif. Dalam jangka panjang, hal ini berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Di sisi lain, keterbatasan akses terhadap bahan bacaan dan pendampingan masih menjadi kendala, terutama di daerah terpencil. Pemerintah dan berbagai lembaga perlu terus mendorong pendirian taman bacaan masyarakat (TBM), perpustakaan keliling, serta program literasi berbasis komunitas. Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan.

Penutup: Literasi sebagai Gaya Hidup

Di kota-kota seperti Surabaya sebenarnya sudah tersedia taman bacaan, perpustakaan, maupun berbagai kegiatan literasi. Namun, jika tidak didukung pembiasaan di rumah dan kolaborasi semua pihak, membaca dan menulis akan tetap dipandang sebagai aktivitas yang hanya dilakukan di dalam kelas. Sudah saatnya literasi tidak lagi dipandang sebagai beban akademik, melainkan sebagai keterampilan hidup yang menyenangkan dan bermanfaat. Dengan memulai dari hal-hal kecil yang disukai anak, kita dapat menanamkan kecintaan terhadap literasi yang akan bertahan seumur hidup. Mari bersama membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kritis, kreatif, dan berdaya saing melalui budaya literasi yang kuat.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *