Krisis Air Bersih di Katulampa: Sumur Mengering, Warga Terpaksa Beli Air Galon dan Numpang Mandi ke Rumah Tetangga

Krisis Air Bersih di Katulampa: Sumur Mengering, Warga Terpaksa Beli Air Galon dan Numpang Mandi ke Rumah Tetangga

Debit Bendung Katulampa Anjlok ke 0 cm, Dasar Sungai Terlihat

Suara Pecari, Musim kemarau yang melanda wilayah Bogor dan sekitarnya mulai menunjukkan dampak nyata. Tinggi Muka Air (TMA) di Bendung Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, turun drastis hingga menyentuh angka 0 sentimeter pada Sabtu (18/7/2026). Kondisi ini membuat dasar sungai yang biasanya terendam air kini terlihat jelas, dengan batu-batu besar menghampar di aliran yang nyaris kering. Penjaga Bendung Katulampa, Muhammad Alwan, mengonfirmasi bahwa debit Sungai Ciliwung mengalami penurunan signifikan akibat musim kemarau. Dalam beberapa hari terakhir, TMA berfluktuasi di kisaran 0 hingga 10 sentimeter. “Untuk TMA Bendung Katulampa sekarang sudah mulai surut. Dalam beberapa hari memang pernah 0 cuma ada 1-2 jam, terus 10 lagi, 0 lagi, begitu. Dampaknya memang mulai terasa karena musim kemarau,” kata Alwan kepada kumparan, Minggu (19/7).

Warga Katulampa: Sumur Kering, Harus Antre Berjam-jam untuk Satu Ember Air

Krisis air bersih tak hanya terlihat di bendungan, tetapi juga dirasakan langsung oleh warga sekitar. Ujang (64), warga Katulampa, mengaku sumur miliknya mulai mengering setelah beberapa pekan tanpa hujan. Ia harus bersabar menunggu selama berjam-jam hanya untuk mendapatkan satu ember air. “Sumur kadang-kadang tiga jam baru satu ember dapat. Kadang beli air galon buat masak atau buat minum,” tuturnya kepada kumparan, Minggu (19/7). Untuk kebutuhan mandi, Ujang terpaksa menumpang di rumah adiknya yang memiliki sambungan air PAM. “Kalau mandi ke rumah adik, pakai air PAM. Ya numpang di rumah adik,” katanya.

Dampak Lebih Luas: Aktivitas Warga Berubah

Mengeringnya aliran di kawasan Bendung Katulampa juga mengubah aktivitas warga di sekitarnya. Jika saat debit air normal, sungai dimanfaatkan untuk mengairi sawah, kolam ikan, hingga mencuci baju, kini sebagian warga hanya datang untuk mencari ikan, mengambil pasir, atau sekadar berfoto di dasar sungai yang mengering. Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis air tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga pada mata pencaharian dan kebiasaan sehari-hari warga.

Kronologi dan Data Terkini

Berikut adalah kronologi penurunan TMA Bendung Katulampa berdasarkan pantauan:

TanggalTMA (cm)Keterangan
Sabtu, 18 Juli 20260Dasar sungai terlihat
Minggu, 19 Juli 20260-10 (fluktuatif)Masih kritis

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dibanding tahun-tahun sebelumnya akibat fenomena El Nino yang lemah. Wilayah Bogor dan sekitarnya diperkirakan akan mengalami hari tanpa hujan hingga awal Agustus.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat

  • Krisis air bersih: Warga yang tidak memiliki sambungan PAM harus membeli air galon untuk minum dan memasak, sementara untuk mandi mereka terpaksa menumpang ke rumah tetangga atau menggunakan air sumur yang sangat terbatas.
  • Beban ekonomi: Pembelian air galon setiap hari menambah pengeluaran rumah tangga. Jika biasanya satu galon cukup untuk beberapa hari, kini kebutuhan meningkat drastis.
  • Kesehatan: Keterbatasan air bersih meningkatkan risiko penyakit kulit dan diare, terutama pada anak-anak dan lansia.
  • Perubahan aktivitas: Sungai yang biasanya menjadi sumber penghidupan (irigasi, perikanan, cuci) kini hanya menjadi tempat mencari ikan atau pasir.

Upaya dan Harapan Warga

Warga berharap pemerintah kota segera turun tangan, misalnya dengan menyediakan tangki air bersih atau mempercepat program sambungan PAM ke rumah-rumah. “Kami berharap ada bantuan air bersih dari pemerintah, karena ini sudah sangat sulit,” ujar Ujang. Sementara itu, penjaga bendung terus memantau perkembangan debit air dan melaporkan ke dinas terkait.

Penutup

Krisis air bersih di Katulampa menjadi alarm bagi kita semua bahwa perubahan iklim dan musim kemarau ekstrem bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan realitas yang harus dihadapi saat ini. Di balik pemandangan dasar sungai yang kering dan antrean air galon, tersimpan kisah perjuangan warga untuk bertahan hidup. Semoga langit segera menurunkan hujan, dan semoga pemerintah bergerak cepat untuk meringankan beban mereka.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *