Gempa Bumi Flores: 94 Orang Meninggal di Pengungsian, Ribuan Gempa Susulan Terjadi
Suara Pecari, Flores – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan yang signifikan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total 142 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut, dengan 48 korban jiwa meninggal secara langsung saat gempa terjadi dan 94 orang meninggal saat berada di pengungsian.
Korban meninggal di pengungsian menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya terjadi saat gempa berlangsung, tetapi juga pada fase evakuasi dan pemulihan. Saat ini, sekitar 46.046 orang masih mengungsi, menurun drastis dari sebelumnya yang mencapai lebih dari 150 ribu jiwa. Penurunan jumlah pengungsi ini menjadi indikator bahwa penanganan darurat dan pemulihan pascabencana yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil positif.
Kerusakan dan Validasi Data
BNPB melaporkan bahwa sebanyak 103.427 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa. Kerusakan tersebut meliputi kategori rusak berat, sedang, dan ringan. Tim BNPB saat ini masih melakukan validasi data untuk memastikan rincian kerusakan, termasuk identitas pemilik dan alamat rumah terdampak, agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran dan transparan. Kerjasama dilakukan dengan pemerintah daerah serta instansi seperti Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dan Badan Pusat Statistik.
Gempa Susulan dan Kondisi Terkini
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 15.722 gempa susulan terjadi selama 30 hari setelah gempa utama. Frekuensi gempa susulan menunjukkan pola penurunan dan kini memasuki fase peluruhan. Gempa susulan berkekuatan mulai dari magnitudo 0,9 hingga 6,2 tercatat, dengan 190 gempa di antaranya dirasakan oleh masyarakat.
Jumlah gempa susulan mengalami penurunan mingguan, dari 5.011 kejadian pada minggu pertama menjadi 864 kejadian pada minggu kelima. Gempa dengan kekuatan 5,0 atau lebih tercatat sebanyak 26 kejadian, yang berpotensi berdampak pada bangunan yang rentan.
Dukungan Pemerintah dan Relawan
Pemerintah pusat dan daerah terus berkomitmen memberikan penanganan cepat dan bantuan kepada penyintas gempa. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa seluruh instansi pemerintah bekerja sama secara efektif untuk menghadapi tantangan pascagempa. Tim relawan, termasuk dari Ikatan Arsitek Indonesia, aktif melakukan asesmen kerusakan bangunan dan memberikan dukungan di lapangan meski harus menghadapi berbagai risiko, termasuk kematian salah satu relawan arsitek saat bertugas di lokasi terdampak.
Pelayanan kesehatan juga terus diberikan di wilayah terdampak dengan kolaborasi antara relawan Pusat Krisis Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah di sejumlah puskesmas.
Gempa bumi Flores dan dampak susulannya menjadi peringatan penting mengenai kesiapsiagaan bencana dan perlunya penanganan holistik mulai dari evakuasi hingga pemulihan jangka panjang untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerusakan lebih lanjut.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










