Rumah Direhab lewat TMMD, Sukimin Mulai Bermimpi Membangun Keluarga

Rumah Direhab lewat TMMD, Sukimin Mulai Bermimpi Membangun Keluarga

Suara Pecari, PONOROGO — Program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dalam kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 0802/Ponorogo tidak hanya menghadirkan hunian yang lebih layak, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bagi para penerima manfaat. Salah satunya dirasakan Sukimin (49), warga Dukuh Gupit, Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon, yang rumahnya menjadi salah satu sasaran rehab RTLH, Senin (20/7/2026). Kisah Sukimin menjadi potret nyata bagaimana program TMMD tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menyulut asa dalam hati masyarakat.

Dari Gubuk Menuju Hunian Layak: Transformasi Fisik dan Mental

Sebelum program TMMD datang, rumah Sukimin hanya berupa gubuk berdinding anyaman bambu yang sudah lapuk dan berlantai tanah. Atapnya bocor di mana-mana, sehingga setiap kali hujan deras, ia harus mengungsi ke rumah tetangga. Kondisi itu telah ia jalani selama puluhan tahun sejak merantau ke Ponorogo. “Dulu rasanya pasrah. Mau memperbaiki tidak punya biaya. Saya hanya buruh tani, penghasilan pas-pasan,” ujar Sukimin saat ditemui di lokasi rehab, Selasa (21/7/2026).

Kini, rumah Sukimin berangsur berubah. Personel Satgas TMMD bersama warga bergotong royong mendirikan dinding batako yang kokoh, lantai diplester, dan atap menggunakan genteng tanah liat berkualitas. “Saya puas dengan materialnya, Pak. Dindingnya memakai batako, bukan bata merah atau bata ringan. Kata tukang, batako lebih tahan terhadap tanah liat di sini yang mudah bergerak,” kata Sukimin sambil menunjukkan kerangka rumah yang sudah berdiri.

Material Berkualitas untuk Rumah Tahan Gempa

Pemilihan batako bukan tanpa alasan. Menurut Kapten Inf Budi Hartono, Danramil 0802/05 Jambon, tanah di Dukuh Gupit cenderung ekspansif dan rawan retak jika menggunakan bata merah. “Batako ringan namun padat, lebih cocok untuk tanah seperti ini. Kami juga menggunakan campuran semen yang lebih rapat agar tahan terhadap gempa kecil,” jelas Budi. Berikut perbandingan material yang digunakan dalam rehab RTLH TMMD ke-129:

Jenis MaterialKeunggulanKetahanan
BatakoRingan, kuat, tahan terhadap tanah ekspansif15-20 tahun
Genteng Tanah LiatIsolasi panas baik, tahan api10-15 tahun
Plester SemenKedap air, mudah dibersihkan20+ tahun

Gotong Royong: Tradisi yang Hidup Kembali

Proses rehab rumah Sukimin melibatkan 15 personel Satgas TMMD dan 30 warga sekitar yang bahu-membahu setiap hari sejak 15 Juli. Suasana kekeluargaan sangat terasa. “Kami sudah seperti keluarga. Sukimin sendiri ikut membantu meskipun hanya bisa membawakan air atau mengaduk semen,” ujar Serma Agus, salah satu anggota Satgas.

Semangat gotong royong ini sejalan dengan filosofi TMMD yang mengedepankan kemanunggalan TNI dengan rakyat. Tidak hanya membangun rumah, tetapi juga mempererat hubungan sosial. “Kami sengaja melibatkan warga agar rasa memiliki dan kebersamaan tetap terjaga,” tambah Kapten Budi.

“Bujang Tua” yang Kini Bermimpi Nikah

Di sela-sela bekerja, Sukimin kerap bercerita tentang masa lalunya. Pria yang tidak tamat SMP ini merantau dari Madiun ke Ponorogo saat berusia 17 tahun untuk menjadi buruh tani. Gaji yang pas-pasan membuatnya tidak pernah berpikir untuk menikah. “Saya bujang tua, Pak, belum laku menikah,” katanya sambil tersenyum malu ketika ditanya soal kisah cintanya.

Namun, rumah baru yang kini hampir rampung membuat hatinya berbunga-bunga. Dengan penuh optimisme, Sukimin mengungkapkan keinginannya untuk mulai memikirkan masa depan setelah rumahnya selesai direhabilitasi. “Mungkin setelah punya rumah yang layak, saya baru berpikir untuk menikah,” ungkapnya sambil tertawa kecil. Baginya, rumah bukan sekadar tempat berteduh, melainkan simbol kesiapan untuk membangun keluarga.

Dampak Program TMMD terhadap Harapan Sosial

Kisah Sukimin bukanlah anomali. Sepanjang pelaksanaan TMMD ke-129, Kodim 0802/Ponorogo menargetkan rehab 10 unit RTLH di tiga desa. Berdasarkan data yang dihimpun, program ini telah memberikan dampak signifikan:

  • Peningkatan Kesehatan: Rumah layak huni mengurangi risiko penyakit akibat kelembaban dan ventilasi buruk.
  • Kesejahteraan Ekonomi: Penghuni lebih produktif karena tidak lagi sibuk memperbaiki rumah setiap musim hujan.
  • Kebahagiaan Psikologis: Seperti Sukimin, memiliki rumah layak meningkatkan rasa percaya diri dan harapan masa depan.

Selain itu, program TMMD juga mendorong perputaran ekonomi lokal. Bahan bangunan dibeli dari toko-toko sekitar, dan upah tukang dari warga setempat. “Dana desa juga ikut membantu. Kami bersyukur ada TNI yang memfasilitasi,” ujar Kepala Desa Bulu Lor, Sutrisno.

Implikasi: Membangun Manusia, Bukan Sekadar Tembok

Keberhasilan TMMD di Ponorogo menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusia. Rumah yang layak bukan hanya mengubah fisik bangunan, tetapi juga mengubah cara pandang seseorang terhadap masa depannya. Sukimin yang dulu pasrah kini mulai bermimpi — sebuah modal sosial yang tak ternilai.

Dukungan psikologis dan sosial yang menyertai rehab rumah juga penting. Para penerima manfaat tidak hanya diberi rumah baru, tetapi juga didampingi agar mereka mampu merawat dan memanfaatkan rumah untuk meningkatkan taraf hidup. “Kami berharap setelah rumah selesai, Pak Sukimin bisa menabung dan mencari pasangan hidup. TNI siap mendampingi jika ada yang perlu bantuan,” ujar Kapten Budi.

Program TMMD ke-129 sendiri merupakan salah satu dari ribuan kegiatan serupa di seluruh Indonesia. Dengan anggaran dari APBN dan partisipasi swadaya, program ini telah menjadi ujung tombak pembangunan desa. Bagi Sukimin, rumah batako yang kini berdiri tegak adalah awal dari lembaran baru.

Senja mulai turun di Dukuh Gupit. Sukimin duduk di teras rumahnya yang hampir selesai, memandangi kerangka atap yang menjulang. “Saya sudah minta tolong tetangga untuk dijodohkan,” katanya bercanda. Tawa renyah mengiringi obrolan. Di balik senyumnya, ada keyakinan bahwa rumah yang layak adalah jembatan menuju kehidupan yang lebih baik — dan untuk pertama kalinya, Sukimin berani bermimpi.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *