Dipicu Jalan Berpasir, Pemotor Jatuh Terseret

Dipicu Jalan Berpasir, Pemotor Jatuh Terseret

Kecelakaan Tunggal di Jalan Ngurah Rai: Jalan Berpasir Jadi Pemicu

Suara Pecari, Negara, 27 Juli 2026 — Sebuah kecelakaan tunggal yang melibatkan seorang remaja pengendara sepeda motor terjadi di ruas Jalan Ngurah Rai, tepat di depan gerai MR.DIY, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, pada Sabtu, 11 Juli 2026. Korban, Putu Raka Prastya Putra Antara (16), terjatuh dan terseret sejauh 15 meter setelah kehilangan kendali akibat melintasi lubang jalan yang dipenuhi material pasir. Insiden ini kembali menyoroti kondisi infrastruktur jalan yang memprihatinkan di wilayah tersebut, terutama di tengah proyek penataan pedestrian yang sedang berlangsung.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari lokasi, korban mengendarai sepeda motor Honda Vario 160 dengan nomor polisi DK 3413 WR dari arah barat menuju timur. Sesampainya di depan MR.DIY, korban diduga tidak menyadari adanya lubang jalan berdiameter sekitar 60 cm yang dipenuhi pasir halus. Material pasir tersebut membuat ban motor kehilangan traksi, menyebabkan kendaraan oleng dan akhirnya jatuh. Korban terseret di aspal kasar hingga berhenti di depan sebuah hotel. Saksi mata, Putu Eka Kurniawan (34), warga setempat, menuturkan bahwa korban melaju dengan kecepatan tinggi. “Korban mengebut dari arah barat, tidak melihat lubang jalan karena tidak ada penghalang maupun peringatan di sekitar lubang jalan tersebut, hingga oleng dan jatuh terseret dari depan Bisma Rahayu lama hingga di depan Hotel Ratu,” ujar Eka. Korban langsung dilarikan ke RS Balimed Negara untuk mendapatkan penanganan medis. Ia mengalami luka lecet di lengan, kaki, dan wajah, serta dugaan patah tulang selangka.

Kondisi Jalan dan Keluhan Warga

Lokasi kecelakaan merupakan salah satu titik rawan di Jalan Ngurah Rai. Warga sekitar mengungkapkan bahwa lubang tersebut sudah ada sejak sepekan terakhir dan diduga berkaitan dengan proyek penataan pedestrian yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jembrana. Proyek tersebut melibatkan penggalian trotoar, namun material sisa seperti pasir dan kerikil tidak dibersihkan secara menyeluruh. Akibatnya, lubang yang ada justru terisi pasir yang sulit terlihat, terutama saat senja atau malam hari. “Setiap hari kami lewati, lubang itu sudah ada. Tapi tidak ada tanda peringatan sama sekali. Ini sudah seminggu lebih, tidak ada perbaikan,” keluh Made Suardana (45), pedagang di dekat lokasi. Ia menambahkan bahwa pengendara motor sering kali hampir jatuh di titik yang sama, namun baru kali ini terjadi kecelakaan parah.

FaktorKeterangan
Penyebab LangsungLubang jalan terisi pasir tanpa rambu peringatan
Kecepatan KorbanDiduga tinggi (saksi mata menyebut ‘mengebut’)
Waktu KejadianSabtu siang, sekitar pukul 14.30 WITA
Jarak Terseret15 meter
Kerugian MateriMotor ringsek, biaya pengobatan

Dampak dan Implikasi

Kecelakaan ini tidak hanya berdampak pada korban dan keluarganya, tetapi juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap proyek infrastruktur yang berpotensi membahayakan pengguna jalan. Keluarga korban, yang diwakili oleh sang ayah, I Wayan Antara (48), menyatakan kekecewaan terhadap pihak terkait. “Anak saya masih trauma. Kami berharap ada tindakan nyata dari pemerintah agar kejadian serupa tidak menimpa orang lain,” ujarnya saat ditemui di rumah sakit. Sementara itu, kalangan pegiat keselamatan jalan di Jembrana mendesak evaluasi menyeluruh terhadap proyek penataan pedestrian. Mereka mencatat setidaknya lima kecelakaan serupa di jalan yang sama selama tahun 2025-2026, meskipun tidak separah kali ini.

Dari sisi hukum, kecelakaan ini bisa menjadi dasar tuntutan ganti rugi terhadap kontraktor proyek jika terbukti lalai dalam menjaga keamanan lokasi pekerjaan. Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU No. 22/2009) mengamanatkan bahwa setiap orang yang menyebabkan rusaknya fungsi jalan dapat dikenai sanksi pidana dan denda. Namun, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Dinas PUPR Jembrana maupun kontraktor proyek.

Seruan Perbaikan Infrastruktur

Masyarakat setempat mengorganisir petisi online yang mendesak pemerintah daerah untuk segera menambal lubang dan memasang rambu peringatan di seluruh titik proyek. Mereka juga meminta agar proyek penataan pedestrian dihentikan sementara sampai standar keselamatan dipenuhi. Beberapa langkah konkret yang disuarakan antara lain:

  • Pemasangan rambu ‘Hati-hati Lubang’ dan barikade di sekitar area proyek.
  • Pembersihan material pasir dan kerikil setiap akhir hari kerja.
  • Pengawasan ketat oleh pengawas proyek dan Dinas Perhubungan.
  • Sosialisasi kepada pengendara mengenai rute alternatif.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa keselamatan berlalu lintas tidak hanya soal perilaku pengemudi, tetapi juga kualitas infrastruktur. Jalan yang rusak, lubang tanpa tanda, dan tumpukan pasir adalah bom waktu yang siap memakan korban. Kini, bola ada di tangan pemerintah: segera bertindak sebelum nyawa lain melayang.

Di ruang gawat darurat RS Balimed, Putu Raka masih berjuang memulihkan diri. Di luar, warga berharap suara mereka didengar. Jalan Ngurah Rai yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian Jembrana justru menyisakan luka bagi seorang remaja yang hanya ingin pulang cepat.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *