Cerita Warga Saat Gempa M 7,7 Landa NTT Anak Masih Tidur, Plafon Rumah Roboh

Cerita Warga Saat Gempa M 7,7 Landa NTT Anak Masih Tidur, Plafon Rumah Roboh

Suara Pecari, Nusa Tenggara Timur – Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu dini hari, 15 Agustus 2026, menyebabkan kepanikan dan kerusakan di sejumlah daerah. Salah satu cerita yang menggambarkan dampak gempa ini datang dari Dusun Gorontalo, Kabupaten Manggarai Barat, di mana seorang warga, Suryati, mengalami plafon rumahnya jebol saat gempa berlangsung.

Pengalaman Warga Saat Gempa

Suryati tinggal bersama suami dan dua anaknya di sebuah rumah yang mengalami kerusakan akibat gempa. Saat gempa terjadi pukul 04.58 WIB, anak-anaknya masih tertidur di dalam rumah. Guncangan gempa terasa sangat keras, membuat Suryati yang sedang mengambil wudu di kamar mandi segera bergegas mencari aman bersama keluarganya.

Menurut Suryati, suaminya sempat menarik anak-anak mereka dari kamar. Ia sendiri mengikuti dari belakang untuk memastikan keselamatan anak-anaknya. Mereka memilih tidak keluar rumah, melainkan mencari tempat yang dianggap lebih aman di sudut rumah. Beruntung, tidak ada anggota keluarga yang tertimpa reruntuhan meskipun plafon di dua ruangan, yaitu kamar dan ruang tamu, jebol.

Kerusakan Rumah dan Dampak Fisik

Selain plafon yang jebol, rumah Suryati juga mengalami kerusakan pada bagian gunungan dan beberapa kaca pecah. Debu yang memenuhi rumah menyulitkan pernapasan, sehingga keluarga Suryati memilih mengungsi sementara ke Wenmata untuk menghindari dampak lanjutan.

Trauma dan Kondisi Psikologis

Suryati mengaku masih merasa trauma setelah mengalami gempa tersebut, terutama melihat anak-anaknya ketakutan dan gemetar. Perasaan takut dan sedih masih membekas akibat peristiwa ini.

Data dan Dampak Gempa

Gempa M 7,7 mengguncang Nagekeo dan wilayah sekitarnya di NTT, tidak hanya menimbulkan kerusakan bangunan dan fasilitas umum, tetapi juga memicu tsunami dengan ketinggian hingga 0,94 meter di beberapa wilayah di NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Hingga Minggu pagi, 16 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB, Badan SAR Nasional (Basarnas) mencatat 51 korban meninggal dunia dan 64 orang mengalami luka-luka atau luka berat. Banyak rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan signifikan yang membutuhkan penanganan segera.

Penanganan dan Respons

Pihak berwenang dan tim SAR terus melakukan penyisiran dan evakuasi di area terdampak. Upaya pemulihan dan bantuan kemanusiaan sedang digalakkan untuk membantu warga yang kehilangan tempat tinggal dan mengalami trauma akibat gempa.

Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, khususnya di wilayah rawan gempa seperti NTT.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *