Perjuangan Ratusan Relawan Tembus Tebing Padamkan Karhutla di Gunung Ciremai
Suara Pecari, Kuningan – Perjuangan ratusan relawan dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) berlangsung dengan penuh tantangan. Sejak malam Rabu, 21 Oktober 2026, api melanda kawasan tersebut dan mengancam meluas hingga puncak Gunung Ciremai serta zona konservasi penting lainnya.
Upaya Terkoordinasi di Medan Ekstrem
Ratusan relawan dari berbagai elemen seperti Masyarakat Peduli Api (MPA), Kelompok Tani Hutan (KTH), dan Paguyuban Silihwangi Majakuning bergerak bersama menghadapi medan yang sangat ekstrem. Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Junar Arip, menjelaskan bahwa tim dibagi menjadi dua untuk bertahan dan mengendalikan titik api di Arca dan BSB (Bantaragung dan Padabeunghar).
Jumlah personel terus bertambah hingga mencapai sekitar 150 relawan pada Kamis pagi. Mereka mendirikan pos pemantauan dan merancang strategi penyekatan api di titik tertinggi Gunung Dulang, yang merupakan lokasi krusial agar api tidak merambat ke puncak dan zona inti konservasi.
Strategi Pemadaman Tanpa Mesin
Medan yang terjal dan keterbatasan akses air membuat penggunaan alat pemadam mekanis seperti jet shooter tidak memungkinkan. Relawan menerapkan metode manual dengan membuat ilaran atau sekatan bakar untuk mengendalikan penyebaran api, serta melakukan pemadaman langsung pada titik api (gepuk api) saat memungkinkan.
Sepuluh relawan terbaik yang memiliki kondisi fisik prima dan pengalaman mendaki ditugaskan di garis terdepan untuk menembus tebing dan lembah yang sulit dilalui. Berkat kegigihan mereka, api di area Gunung Dulang sekitar BSB berhasil dikendalikan pada Jumat pagi, 23 Oktober 2026.
Pemadaman Malam Hari Menangkal Kebakaran Meluas
Meski kondisi di BSB sempat kondusif, api bergeser dan membesar di wilayah Gunung Sundul, Karangdinding, dan Arca pada Jumat sore. Relawan mengambil langkah berani dengan melancarkan pemadaman malam hari. Tim dari Bantaragung dan Padabeunghar berhasil memadamkan api di Gunung Jugul sekitar pukul 23.00 WIB, sedangkan tim dari Kidang Ncono dan Sapu Jagad yang berjumlah 32 orang memadamkan api di Karangdinding pada pukul 01.00 WIB dini hari.
Menurut pantauan visual Ketua Paguyuban, api sudah tidak terlihat pada pukul 02.00 WIB, dan situasi dinyatakan aman kepada pihak berwenang melalui komunikasi resmi.
Konteks dan Dampak
Kebakaran hutan di kawasan konservasi seperti Taman Nasional Gunung Ciremai membawa dampak serius terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati. Zona Klimba dan Zona Inti merupakan area dengan perlindungan ketat yang sangat penting bagi pelestarian flora dan fauna. Upaya pemadaman yang berhasil dilakukan relawan mencegah kerusakan lebih luas dan menjaga kelestarian ekosistem.
Perjuangan relawan juga mencerminkan sinergi antara masyarakat, kelompok tani, dan organisasi lokal dalam merespons bencana alam secara cepat dan efektif.
Kesimpulan
Pemadaman karhutla di Gunung Ciremai menuntut perjuangan fisik dan strategi khusus karena medan ekstrem dan keterbatasan akses. Kerja sama ratusan relawan serta metode manual yang diterapkan berhasil mengendalikan kebakaran dan mencegah meluasnya api ke zona konservasi penting. Upaya ini menjadi contoh penting bagaimana kolaborasi masyarakat dan organisasi lokal berperan dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










