Sungai Brantas Mengering, Warga Sulap Jadi Jalan Alternatif Sidoarjo-Mojokerto

Suara Pecari, Jawa Timur – Mengeringnya Sungai Brantas di antara Kabupaten Sidoarjo dan Mojokerto dimanfaatkan warga setempat untuk membuat jalur alternatif penghubung kedua wilayah tersebut. Jalur ini dibangun di dasar Sungai Brantas yang mengering, tepatnya di antara Desa Tarik, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo dan Desa Kwedenkembar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Jalur Alternatif Memperpendek Waktu Tempuh

Jalur ini diberi nama Gladak Gambiran Sawit dan terbuat dari sesek atau gedek bambu dengan lebar sekitar dua meter. Jalur darurat ini mampu memangkas waktu perjalanan dibandingkan menggunakan jalur konvensional yang harus memutar melewati Jembatan Rolak Songo dan Jembatan Turi. Keberadaan jalur ini sangat membantu pelajar dan pekerja yang beraktivitas antara Sidoarjo dan Mojokerto.

Baca juga:

Asal Usul dan Manfaat Jalur

Inisiatif pembangunan jalur alternatif ini datang dari warga sekitar, terutama karena rencana perbaikan Jembatan Turi yang biasa digunakan untuk menyeberang. Suyanto, salah satu penggagas, menyatakan bahwa jalur ini dibuat tanpa syarat dan dapat dilalui secara gratis. Namun, warga menyediakan kotak sumbangan sukarela untuk pengendara motor yang melintas sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan jalur tersebut.

Fenomena Viral dan Wisata Dadakan

Selain menjadi jalur alternatif, Gladak Gambiran Sawit juga menarik perhatian warga hingga menjadi destinasi wisata dadakan. Banyak warga datang bersama anak-anak mereka untuk menikmati suasana sore di lokasi tersebut. Beberapa anak bahkan tampak berenang di sisa aliran Sungai Brantas yang mengering.

Kondisi dan Dampak Sosial

Jalur ini telah digunakan hampir setiap hari oleh pekerja dan pelajar yang hendak menuju Sidoarjo maupun Mojokerto. Keberadaan jalur alternatif ini memberikan kemudahan akses dan mengurangi beban perjalanan, terutama selama perbaikan jembatan utama. Hal ini menunjukkan inisiatif komunitas dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan secara kreatif dan adaptif.

Baca juga:

Tanggapan Warga

Fita, seorang warga sekitar, mengaku senang dengan keberadaan jalur ini meskipun baru pertama kali mengunjunginya. Jalur tersebut telah ada selama kira-kira dua minggu dan mendapat respons positif dari masyarakat sekitar.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *