Curhat Warga Imbas Mahakam Surut: Ongkos Naik dari Rp 400 Ribu Jadi Rp 1 Juta
Suara Pecari, Kalimantan Timur – Surutnya Sungai Mahakam akibat kemarau panjang memberikan dampak signifikan bagi warga Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Biaya perjalanan yang sebelumnya mengandalkan transportasi sungai kini meningkat drastis, memaksa warga beralih ke jalur darat yang lebih mahal dan melelahkan.
Sungai Mahakam yang biasanya menjadi jalur utama kapal penumpang dan pengangkut barang kini semakin dangkal. Kondisi ini menyebabkan kapal-kapal tidak dapat melaju sampai ke wilayah hulu seperti Kutai Barat dan Mahakam Ulu. Akibatnya, kapal hanya melayani sampai titik tertentu dan barang serta penumpang harus melanjutkan perjalanan lewat jalur darat.
Dampak Langsung terhadap Warga
<pDesy, warga Kecamatan Long Hubung, Mahakam Ulu, mengungkapkan bahwa perjalanan dari Samarinda ke tempat tinggalnya biasanya menggunakan kapal dengan biaya sekitar Rp 400 ribu. Namun, dengan kondisi sungai yang surut, kapal penumpang tidak dapat beroperasi seperti sebelumnya. Kini, ia harus menggunakan kendaraan roda empat melalui jalur darat dengan biaya perjalanan mencapai Rp 1 juta, hampir dua kali lipat dari tarif kapal.
Perjalanan darat ini juga memakan waktu lebih lama, yakni sekitar 15 hingga 18 jam tergantung kondisi jalan. Selain biaya transportasi, warga juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kebutuhan makan selama perjalanan yang panjang.
Gangguan pada Aktivitas Transportasi Sungai
Selain berdampak pada penumpang, surutnya sungai juga memukul aktivitas pengangkutan barang. Kapal yang biasanya membawa berbagai jenis kebutuhan masyarakat kini hanya mampu mengangkut barang pokok seperti sembako dan beras sampai wilayah tertentu, seperti Melak atau Long Iram. Kapal tidak bisa melanjutkan perjalanan lebih jauh ke wilayah hulu karena kedalaman sungai yang menurun drastis.
Ahmad Gazali, buruh di Dermaga Sungai Kunjang Samarinda, menyebutkan bahwa aktivitas bongkar muat menurun drastis hingga 75 persen selama kemarau panjang ini. Penurunan aktivitas ini juga berdampak pada pekerja di dermaga yang kehilangan pekerjaan atau mengalami pengurangan jam kerja.
Konsekuensi Ekonomi dan Sosial
Perubahan moda transportasi dan kenaikan biaya perjalanan menimbulkan beban ekonomi tambahan bagi warga Mahakam Ulu. Pilihan transportasi yang lebih mahal dan waktu tempuh yang lebih lama berpotensi menghambat mobilitas masyarakat, akses layanan, dan distribusi barang kebutuhan pokok. Hal ini memperlihatkan kerentanan kawasan yang sangat bergantung pada transportasi sungai terhadap perubahan iklim dan kondisi alam.
Penyesuaian tarif angkutan dan moda transportasi darat juga menunjukkan bagaimana dampak kemarau panjang tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat lokal.
Situasi ini menjadi peringatan penting untuk meningkatkan kesiapan dan diversifikasi moda transportasi di wilayah yang bergantung pada jalur sungai, serta mengantisipasi dampak perubahan iklim yang semakin sering terjadi.
Warga dan pemerintah daerah dituntut untuk mencari solusi jangka panjang agar akses transportasi tetap terjaga tanpa membebani masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil seperti Mahakam Ulu.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










