Pemerintah Mulai Tender Pembangunan PLTS 30 GW Tahun Ini, Target Capai 100 GW
Suara Pecari, Jakarta – Pemerintah Indonesia segera memulai proses tender pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas tahap pertama sebesar 30 gigawatt (GW) pada tahun 2026. Langkah ini merupakan bagian dari upaya mencapai target pengembangan PLTS hingga 100 GW dalam beberapa tahun ke depan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Pemerintah telah mengidentifikasi sejumlah lahan potensial yang akan digunakan untuk proyek PLTS ini. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyatakan bahwa lahan tersebut meliputi aset negara yang dikelola Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), serta area waduk seperti Waduk Saguling dengan potensi listrik sekitar 100-150 megawatt. Kementerian ATR telah mengidentifikasi sekitar 9.000 hektare lahan siap pakai untuk mendukung pengembangan PLTS tersebut.
Strategi dan Target Pengembangan PLTS
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa tender pembangunan PLTS 30 GW akan segera dibuka setelah pembahasan dengan Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo. Proyek ini merupakan tahap awal dari target nasional mencapai kapasitas 100 GW PLTS. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, pemerintah menargetkan 70-75 persen bauran energi nasional berasal dari energi baru terbarukan (EBT), termasuk tenaga surya, gas, geothermal, dan air.
Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pengembangan PLTS ini juga berfungsi untuk mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang berkapasitas sekitar 13 GW, sekaligus meningkatkan kemandirian energi nasional dan mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM).
Manfaat dan Dampak Proyek PLTS
Potensi energi surya di Indonesia sangat besar karena negara ini menerima sinar matahari hampir sepanjang tahun. Pemanfaatan PLTS di wilayah terpencil diharapkan dapat menyediakan listrik yang lebih efisien dan berkelanjutan, tanpa harus bergantung pada pengangkutan BBM yang mahal dan tidak efisien secara ekonomi.
Menurut perhitungan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pengembangan PLTS dengan kapasitas 100 GW dapat menghemat biaya pokok produksi listrik hingga Rp73,9 triliun per tahun. Selain itu, proyek ini akan mendukung target net zero emission (NZE) dan transisi energi bersih di Indonesia.
Koordinasi Antar Kementerian dan Langkah Selanjutnya
Pemerintah terus melakukan koordinasi lintas kementerian untuk mempercepat proses perizinan dan penggunaan lahan, termasuk pemanfaatan sumber daya air di waduk seperti Saguling. Izin pemanfaatan sumber daya air untuk PLTS di Waduk Saguling sudah dapat diterbitkan, memperkuat kesiapan lokasi proyek.
Dengan dimulainya tender tahap pertama pembangunan PLTS 30 GW pada tahun ini, pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempercepat transisi energi dan mencapai kedaulatan energi nasional melalui pemanfaatan energi baru terbarukan yang berkelanjutan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










