Rupiah Melemah di Tengah Tekanan Geopolitik dan Kebijakan The Fed, 29 April 2026
Suara Pecari | Rupiah melemah pada perdagangan Rabu pagi, 29 April 2026, diperdagangkan sekitar Rp17.280 per dolar AS.
Nilai tukar turun 0,21% atau 37 poin dibanding penutupan sebelumnya.
Penurunan terjadi di tengah sentimen risk‑off global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik.
Negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran mengalami kebuntuan, meningkatkan kecemasan pasar.
Kebuntuan tersebut mendorong harga minyak mentah naik pada sesi Asia Selasa, 28 April.
Harga minyak yang lebih tinggi menambah tekanan inflasi global dan memperlemah mata uang Asia, termasuk rupiah.
Analis pasar uang Lukman Leong menilai risiko geopolitik sebagai faktor utama pelemahan.
“Rupiah diperkirakan akan tetap tertekan selama risiko geopolitik tinggi dan harga minyak naik,” ujarnya.
Pengamat lain, Ibrahim Assuaibi, menyoroti agenda penting Federal Reserve minggu ini.
“The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga, namun volatilitas tetap tinggi,” kata Ibrahim.
Proyeksi nilai tukar hari ini berada di kisaran Rp17.200‑Rp17.300 per dolar.
Jika data ekonomi AS menunjukkan inflasi tetap tinggi, pasar dapat menuntut kebijakan lebih ketat.
Namun, bila data menunjukkan pelambatan, risiko penurunan rupiah tetap besar.
Sementara itu, Bank Indonesia tetap memantau pergerakan dan menegaskan kesiapan intervensi bila diperlukan.
Kebijakan moneter domestik tetap fokus pada menjaga stabilitas inflasi dan mendukung pertumbuhan.
Data Bloomberg menunjukkan volume perdagangan dolar AS meningkat, menandakan aliran modal keluar dari emerging market.
Investor asing menilai Indonesia sebagai pasar yang masih rentan terhadap fluktuasi kebijakan luar negeri.
Pada hari yang sama, indeks LQ45 mencatat penurunan kecil, mencerminkan sentimen negatif di pasar ekuitas.
Sektor energi dan pertambangan menjadi yang paling tertekan karena keterkaitan dengan harga minyak.
Pemerintah belum mengumumkan langkah tambahan untuk menstabilkan rupiah.
Sebelumnya, Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan pada kuartal pertama 2026 untuk mendukung pertumbuhan.
Langkah tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan luar negeri yang kuat.
Analisis teknikal menunjukkan level support utama berada di sekitar Rp17.350.
Jika rupiah menembus level tersebut, kemungkinan depresiasi lebih lanjut akan muncul.
Sebaliknya, jika dolar melemah pada sesi Eropa, rupiah dapat kembali menguat sedikit.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh data inflasi domestik yang diproyeksikan tetap di atas target Bank Indonesia.
Konsumen Indonesia mengindikasikan peningkatan biaya hidup, memperkuat persepsi inflasi.
Kenaikan harga minyak mentah berkontribusi pada biaya transportasi dan barang impor.
Dalam jangka menengah, para analis memperkirakan rupiah akan berfluktuasi dalam rentang Rp17.200‑Rp17.400.
Kesimpulannya, rupiah tetap berada di zona lemah akibat kombinasi faktor eksternal dan kebijakan moneter global.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.







