KNKT Jelaskan Permintaan Pusdal Manggarai kepada Masinis Argo Bromo untuk Rem Perlahan

KNKT Jelaskan Permintaan Pusdal Manggarai kepada Masinis Argo Bromo untuk Rem Perlahan

Suara Pecari | Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, memberikan penjelasan mengenai kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur. Ia mengungkapkan bahwa Pusat Pengendali (Pusdal) di Manggarai meminta masinis kereta Argo Bromo untuk mengerem perlahan sebelum insiden tersebut.

Dalam rapat kerja Komisi V DPR yang disiarkan melalui YouTube, Soerjanto menjelaskan bahwa masinis mulai melakukan pengereman dari jarak 1.300 meter setelah menerima informasi tentang adanya kereta lain di depan. Namun, komunikasi yang dilakukan hanya melalui suara menyebabkan Pusdal tidak mengetahui situasi sebenarnya.

Pusdal di Manggarai memberikan instruksi kepada masinis untuk mengerem sedikit demi sedikit dan membunyikan klakson. Masinis pun mengikuti arahan tersebut, tetapi hanya dengan rem perlahan. Soerjanto menambahkan bahwa masinis telah berusaha menghentikan kereta Argo Bromo Anggrek sebelum menabrak KRL, tetapi instruksi untuk mengerem secara bertahap mengakibatkan pengereman tidak maksimal.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kereta dapat dihentikan sepenuhnya dalam jarak 900 meter hingga 1 kilometer. Namun, karena arahan untuk hanya mengerem sedikit, masinis tidak dapat menghentikan kereta tepat waktu. Ketika ditanya oleh Ketua Komisi V DPR, Lasarus, mengenai alasan tabrakan meskipun sudah ada jarak pengereman yang cukup, Soerjanto menegaskan bahwa komunikasi yang tidak jelas dari pusat kendali menjadi penyebab utama kegagalan tersebut.

Lasarus mengingatkan semua mitra pemerintah agar memberikan keterangan yang jujur terkait kecelakaan ini, yang merenggut nyawa dan melibatkan banyak korban. Ia menekankan pentingnya transparansi dalam menyampaikan kronologi kejadian dan penyebab kecelakaan.

Kegagalan sistem kendali yang menyebabkan kereta Argo Bromo Anggrek menabrak kereta yang berhenti menjadi sorotan penting. Lasarus menyebutkan bahwa seharusnya keberadaan setiap kereta dapat terpantau melalui Grafik Perjalanan Kereta (Gapeka), sehingga mencegah terjadinya insiden seperti ini.

KNKT saat ini masih menyelidiki lebih lanjut untuk memahami penyebab kecelakaan dan mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan