Pantau Warung Desa, Prajurit TNI Pastikan Harga Sembako Longkib Stabil
Suara Pecari, Subulussalam – Komoditas bahan pangan pokok di tingkat pedagang eceran kawasan pedalaman Kota Subulussalam dilaporkan masih berada dalam batas wajar. Kepastian tersebut diperoleh setelah adanya pemantauan langsung terhadap pergerakan harga dan pasokan barang di sektor ekonomi mikro, Selasa 7 Juli 2026. Langkah pengawasan ini dilakukan guna mengantisipasi potensi lonjakan harga mendadak yang kerap membebani daya beli masyarakat sasar. Fokus pemantauan diarahkan pada sejumlah warung kelontong di Desa Bukit Alim, Kecamatan Longkib, yang menjadi tumpuan utama warga dalam memenuhi kebutuhan harian. Dalam interaksi langsung di lapangan, petugas memeriksa ketersediaan sejumlah komoditas strategis mulai dari beras, minyak goreng, hingga telur ayam. Dari hasil pendataan, rantai pasok dari distributor menuju tingkat pengecer di kawasan tersebut sejauh ini dinilai belum mengalami kendala berarti. Babinsa Koramil 0118-03Longkib, Sertu Anton Rahmadi, mengonfirmasi bahwa iklim perdagangan di tingkat desa masih berjalan kondusif. Evaluasi berkala di pusat perbelanjaan mini ini penting untuk mendeteksi dini jika terjadi kelangkaan barang. “Kami melakukan pemantauan ini secara berkala untuk mengetahui kondisi riil di pasar dan warung desa. Hasil pemantauan hari ini menunjukkan ketersediaan sembako seperti beras, minyak goreng, gula, dan telur masih dalam kondisi aman dan harganya pun masih normal,” ujar Sertu Anton Rahmadi. Selain melakukan pencatatan harga, petugas di lapangan juga memanfaatkan momentum tersebut untuk berdialog dengan para pemilik usaha. Pedagang diimbau untuk tetap menjaga etika perniagaan dengan tidak memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan sepihak. Praktik spekulasi seperti penimbunan barang pokok menjadi poin krusial yang diantisipasi agar tidak memicu kepanikan belanja di tingkat konsumen. Melalui konsistensi pengawasan ini, stabilitas harga diharapkan dapat terus terjaga demi menyokong ketahanan pangan di wilayah pinggiran.
Latar Belakang Pemantauan Harga Sembako di Longkib
Kecamatan Longkib merupakan salah satu wilayah pedalaman di Kota Subulussalam, Aceh, yang aksesnya relatif terbatas. Kondisi geografis yang berbukit dan jarak tempuh yang cukup jauh dari pusat kota membuat distribusi barang seringkali menjadi tantangan. Dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga sembako di daerah terpencil kerap terjadi akibat keterlambatan pasokan atau praktik spekulatif pedagang. Oleh karena itu, TNI melalui Babinsa rutin melakukan pemantauan harga dan ketersediaan barang di warung-warung desa. Kegiatan ini merupakan bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) dan upaya menjaga stabilitas ketahanan pangan nasional.
Hasil Pemantauan di Lapangan
Pada Selasa, 7 Juli 2026, Babinsa Koramil 0118-03 Longkib, Sertu Anton Rahmadi, bersama dengan perangkat desa setempat mengunjungi beberapa warung kelontong di Desa Bukit Alim. Mereka mencatat harga eceran beberapa komoditas utama dan membandingkannya dengan harga acuan di tingkat distributor. Berikut adalah data harga sembako yang berhasil dihimpun:
| Komoditas | Harga Eceran (Rp) | Harga Acuan (Rp) | Ketersediaan |
|---|---|---|---|
| Beras Premium (per kg) | 12.000 | 11.500 – 12.500 | Stok cukup |
| Minyak Goreng (per liter) | 14.000 | 13.500 – 14.500 | Stok cukup |
| Gula Pasir (per kg) | 13.000 | 12.500 – 13.500 | Stok cukup |
| Telur Ayam (per kg) | 28.000 | 27.000 – 29.000 | Stok cukup |
Dari tabel di atas terlihat bahwa harga sembako di Desa Bukit Alim masih dalam kisaran normal dan tidak mengalami lonjakan yang signifikan. Ketersediaan barang juga terpantau aman, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan kelangkaan.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat Longkib
Stabilitas harga sembako di tingkat desa memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok ekonomi lemah. Di Longkib, mayoritas penduduk bekerja sebagai petani dan buruh harian dengan pendapatan yang tidak menentu. Kenaikan harga sembako yang tajam dapat memicu kesulitan pangan dan meningkatkan angka kemiskinan. Dengan adanya pemantauan rutin dari TNI, masyarakat merasa lebih tenang karena ada jaminan bahwa harga tidak akan dimanipulasi oleh oknum pedagang. Selain itu, dialog antara Babinsa dan pedagang juga menciptakan hubungan yang harmonis dan transparan. Pedagang pun diingatkan untuk tidak melakukan penimbunan atau spekulasi yang merugikan konsumen.
Langkah Antisipasi ke Depan
TNI berencana untuk memperluas jangkauan pemantauan ke desa-desa lain di Kecamatan Longkib yang belum terjangkau. Selain itu, koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat akan ditingkatkan untuk memastikan pasokan dari distributor berjalan lancar. Beberapa langkah konkret yang akan dilakukan antara lain:
- Membentuk posko pemantauan harga di setiap desa yang berfungsi sebagai pusat informasi harga dan keluhan masyarakat.
- Melakukan sosialisasi kepada pedagang tentang sanksi hukum bagi pelaku penimbunan barang kebutuhan pokok.
- Mengoptimalkan peran Babinsa sebagai agen informasi pasar agar masyarakat dapat mengakses data harga terkini.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan stabilitas harga sembako di Longkib dapat terus terjaga, bahkan ketika terjadi gejolak ekonomi nasional. Ketahanan pangan di tingkat desa merupakan fondasi penting bagi ketahanan nasional secara keseluruhan.
Pemantauan warung desa oleh prajurit TNI di Longkib bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat. Melalui pengawasan yang konsisten dan pendekatan humanis, TNI bersama masyarakat berupaya menjaga agar harga sembako tetap stabil dan terjangkau. Di tengah tantangan distribusi di daerah terpencil, sinergi antara aparat dan warga menjadi kunci utama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkeadilan. Ke depannya, model pengawasan partisipatif seperti ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah-wilayah lain di Indonesia yang memiliki kondisi serupa.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










